5 Fakta Unik Papeda Sajian Khas Papua

Papeda dikenal sebagai salah satu sajian khas dari Papua. (dok. EcoNusa Foundation)

 

Papeda telah dikenal sebagai salah satu sajian khas dari Papua. Sajian tersebut merupakan bubur yang terbuat dari sagu dan biasanya dinikmati dengan sayur serta lauk-pauk. Terdapat sejumlah fakta menarik terkait papeda, sajian khas papua.

Berikut 5 fakta unik tentang makanan khas Papua, Papeda, menurut Charles Toto alias Chato - yang dikenal dengan sebutan Jungle Chef.

1. Filosofi di meja makan

Kala satu keluarga menggunakan helai dan makan papeda dari satu hote yang sama, saat itulah papeda menyimpan makna yang dalam.

Helai adalah peralatan makan tradisional dari kayu untuk menyajikan papeda, sedangkan hote adalah piring kayu untuk menyantap papeda.

Masyarakat Sentani menyebut tradisi makan papeda dari satu piring yang sama dalam satu keluarga sebagai helai mbai hote mbai. Mbai berarti satu.

Filosofinya, makan dalam satu keluarga menyimpan cerita untuk masa depan anak dan cucu. Itu karena acara makan bersama yang menandai ikatan kekeluargaan tersebut sebagai ruang diskusi antara ayah, ibu, dan anak.

2. Cara ambil: digulung

Karena teksturnya serupa lem, memindahkan papeda dari wadah ke piring makan tak mungkin dilakukan dengan sendok besar sekalipun.

Untuk itu, mengambil papeda perlu trik tersendiri. Di acara adat Papua, alat mengambil yang wajib digunakan adalah hiloi, serupa garpu besar. Namun, garpu biasa sering digunakan di rumah tangga.

Cara mengambilnya, genggam dua garpu masing-masing di tangan kiri dan kanan, benamkan kedua garpu ke papeda, tarik garpu ke atas dengan posisi horizontal, lalu gulung papeda di garpu kiri dan kanan hingga membentuk gumpalan agak besar, lalu pindahkan ke piring.

Menurut Chato, ada yang menggulungnya ke arah dalam, ada yang ke arah luar. Arah menggulung ini bisa menunjukkan asal daerah seseorang.

3. Cara buat papeda sendiri

Ingin coba membuat papeda? Anda bisa menggunakan tepung sagu yang dijual di pasar atau supermarket.

Namun untuk membuat papeda yang kualitasnya menyamai papeda Papua, Chef Chato mengatakan ada sejumlah trik tersendiri.

"Sebelum dimasak, rendam dahulu tepung sagu di dalam air bersih selama kurang lebih 15 menit, ambil pati yang mengendap, campur dengan air untuk dibuat papeda. Teksturnya akan sama dengan papeda di Papua," katanya, dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com.

4. Ada versi seperti lontong

Papeda yang kerap ditemukan umumnya berupa bubur. Namun, ternyata juga terdapat papeda yang bentuknya seperti lontong. Itu biasa disebut dengan nama papeda bungkus.

Proses pembuatannya seperti papeda biasa. Setelah matang,papeda dibungkus daun pisang atau daun fotovea (dalam bahasa Sentani disebut waibu).

Daun waibu tersedia di alam dalam dua varian warna, yaitu merah hati dan hijau. Daun pisang dan fotovea berperan sebagai penambah aroma, sehingga papeda bungkus menebarkan aroma yang khas.

Yang menarik, daya simpanpapedabungkus ini bisa sampai satu bulan.

"Tak perlu disimpan di kulkas, tak perlu dihangatkan berulang-ulang. Simpan saja di meja," kata Chef Chato.

5. Sinole, papeda berbumbu kaldu

Papeda tradisional rasanya plain, karena hanya terdiri dari campuran sagu, air jeruk (sebagai pengental), dan air.

Yang menambah rasa adalah lauk dan sayur yang mendampinginya. Layaknya nasi uduk yang berbumbu, papeda juga bisa diberi bumbu. Hanya saja, kalau sudah dibumbui namanya bukan lagi papeda, melainkan sinole.

Sebelum dimasak, sagu dikeringkan dahulu dengan cara disangrai hingga mengeluarkan aroma asap yang sedap.

Kemudian, sagu dimasak dalam kaldu ikan atau kaldu daging yang sudah dimasak selama 2-3 hari agar rasanya intens, sambil terus diaduk hingga mengental.

Ketika sinole matang, tinggal disantap saja, tak perlu ditemani lauk, karena di dalamnya sudah ada potongan-potongan ikan.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.