Begini Rangkaian Ritual Perayaan Nyepi di Bali

https: img.okezone.com content 2021 03 13 406 2377201 begini-rangkaian-ritual-perayaan-di-bali-Pt2kEX33Ao.jpg 

UMAT Hindu di Indonesia akan merayakan Nyepi, pada Minggu 14 Maret 2021. Ada sejumlah ritual ibadah dilakukan pada hari yang dipercaya sebagai waktu penyucian jiwa. Di antara daerah lain di Nusantara, Bali merupakan provinsi paling kental tradisi Nyepi.

Saat Nyepi, semua aktivitas penduduk di Bali berhenti. Dilarang lalu lalang dengan kendaraan di jalan. Bandara tidak beroperasi, jalan tol ditutup. Tidak boleh ada kebisingan dan listrik padam. Manusia diajak menyatu dengan alam.

Nah, bagi wisatawan di Bali bisa juga ikut dalam suasana Nyepi. Asal patuhi segala pantangan dan aturan.

Berikut rangkaian ritual perayaan Nyepi di Bali dirangkum dari beberapa sumber :

1. Melasti atau Melis/Mekiyis

Acara untuk mempersiapkan Nyepi pertama kali dilakukan tiga atau dua hari sebelumnya dengan melakukan Melasti. Ini merupakan penyucian diri dan alam semesta.

Segala sarana persembahyangan yang ada di pura diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala ‘kotor’ pada diri manusia dan alam.

Keyakinan tersebut berdasar pada Rg Weda II. 35.3 dinyatakan air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan.

2. Buta Yadnya

Buta Yadnya merupakan upacara yang dilakukan umat Hindu sehari sebelum Nyepi, yaitu pada ‘tilem sasih kesanga’ atau bulan mati yang kesembilan. Buta Yadnya dilaksanakan di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banyar, desa, kecamatan, dan seterusnya.

Umat Hindu akan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru atau sesajian menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri adalah penyucian Buta Kala. segala kotoran diharapkan hilang semuanya.

Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi lima warna berjumlah sembilan paket beserta. Terdapat pula lauk pauknya seperti ayam berwarna-warni yang disertai tetabuhan arak atau tuak.

Buta Yadnya ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.

3. Meracu

Meracu diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar nasi tawur, mengobor-obori rumah, menyembur rumah dengan mesiu, serta memukul benda-benda seperti kentongan hingga gaduh.

Ini bermaksud untuk mengusir Buta Kala di lingkungan rumah. Pengerupukan dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh. Ini adalah perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan kemudian dibakar.

Sayangnya di tahun ini, beberapa wilayah di Indonesia tidak melakukan pawai ogoh-ogoh karena virus COVID-19.

4. Nyepi atau Sipeng

Pinanggal pisan, sasih Kedasa atau tanggal 1, bulan ke-10, adalah Hari Raya Nyepi. Di hari ini suasana wilayah akan berubah seperti kota mati.

Tidak ada aktivitas yang dilakukan guna menghormati para umat Hindu yang sedang melaksanakan Catur Brata atau penyepian yang terdiri dari amati geni (tidak menggunakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).

5. Ngembak Geni

Sehari setelah Nyepi, umat Hindu akan mengadakan Ngembak Geni. Diambil dari bahasa Bali, Ngembak berarti bebas dan Geni berarti Api. Ngembak Geni secara luas kembali melakukan aktivitas.

Setelah selesai, akan dilakukan Dharma Santi atau bersilaturahim saling memaafkan, di lingkungan keluarga, teman, sahabat. Selepas itu, baru diperbolehkan untuk melakukan aktifitas kembali.

 

Sumber : okezone

No comments

Powered by Blogger.