Bisnis Logistik Melejit Sejak Pandemi



Aktivitas belanja digital melejit dalam waktu satu tahun terakhir, bersamaan dengan hadirnya pandemi covid-19. Maraknya pembelian secara virtual ini memberi berkah bagi perusahaan pengiriman logistik dan jasa pergudangan, seperti Shipper.id.
 
Secara umum, kenaikan layanan jasa logistik Shipper.id dalam satu tahun ini, melonjak sampai dengan 300 persen. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar dalam sejarah Shipper.id yang  berdiri pada 2017.
 
Data Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) pada 2020 menunjukkan transaksi pembelian lewat pasar daring alias e-commerce meningkat 18,1 persen menjadi 98,3 juta transaksi. Bank Indonesia (BI) juga optimistis nilai transaksi e-commerce pada 2021 akan tumbuh 33,2 persen menjadi Rp337 triliun, dari perkiraan nilai transaksi di 2020 yang sebesar Rp253 triliun.

"Kami optimistis trennya akan terus ke arah positif sebagaimana telah terefleksi dalam perkembangan bisnis kami," ujar COO dan Co-Founder Shipper.id Budi Handoko.

Budi mengaku optimistis dengan kondisi perekonomian Indonesia yang semakin membaik. Apalagi, rata-rata daya beli kelas menengah di Indonesia tidak bermasalah meski pandemi. Misalnya saja, saat hari belanja nasional (Harbolnas), transaksi selama dua hari mencapai Rp11,6 triliun.

Ciptakan lapangan kerja baru

Melesatnya transaksi e-commerce di Indonesia juga mendorong kebutuhan baru untuk layanan logistik yang terintegrasi dari hulu hingga ke hilir, termasuk jasa pergudangan. Bagi banyak perusahaan logistik, jasa pergudangan merupakan peluang bisnis yang sangat besar. Sebagai contoh, dari sisi jumlah lokasi warehouse atau gudang Shipper dari sebelumnya hanya 40 unit, kini berkembang pesat menjadi 150 unit dalam waktu cenderung singkat, yakni di bawah satu tahun.
 
Ekspansi bisnis ini sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru. Padahal, pandemi membuat banyak perusahaan terpaksa melakukan efisiensi demi mempertahankan bisnisnya. Mulai dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sampai dengan pengurangan jam kerja sekaligus pengurangan gaji.
 
Dia mengatakan sebelum pandemi covid-19, Shipper.id mempekerjakan 1.500 orang karyawan. Namun, lonjakan transaksi e-commerce membuat perseroan mampu menambah lowongan sebanyak 400 lapangan kerja. Hasilnya saat ini, Shipper sudah memiliki sekitar 1.900 pekerja.
 
"Bisnis logistik secara langsung menopang banyak sektor perindustrian dan perdagangan sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam membantu upaya-upaya pemerintah untuk pemulihan perekonomian nasional. Kontribusi ini, salah satunya dilihat melalui jumlah lapangan pekerjaan yang berhasil kami ciptakan," jelas Budi.
 
Berbagai skema bantuan yang diberikan oleh pemerintah diharapkan akan semakin menggairahkan aktivitas perekonomian, termasuk sektor logistik. Oleh karenanya tak menutup kemungkinan jika aksi korporasi dengan menambah jumlah karyawan kembali dilakukan Shipper.id.

UMKM go international

Selain pembukaan lapangan kerja baru, perkembangan perdagangan online atau e-commerce memunculkan harapan baru, yakni penguatan ketahanan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). UKM Center FEB UI merekam pada 2018 terdapat 64,19 juta UMKM di Indonesia dengan kontribusi ekonomi mencapai 60,3 persen terhadap PDB. Sektor ini juga menyerap hampir 117 juta (97 persen) tenaga kerja.
 
UMKM menyediakan hampir 99 persen lapangan pekerjaan, berkontribusi 14,17 persen terhadap total ekspor, serta mencakup 58 persen dari total investasi. Dengan intervensi inovasi dan teknologi pula, UMKM pun kini memiliki semakin banyak pilihan untuk jasa ekspedisi, tujuan pengiriman armada transportasi yang sesuai kebutuhan bisnis, layanan sewa gudang, sampai pengiriman dari domestik dan internasional.
 
"Pasar logistik dan transportasi semakin bertumbuh, peluang untuk berkolaborasi antar pelaku usaha logistik juga semakin terbuka lebar. Peluang inilah yang kami tangkap untuk tidak hanya menyediakan jasa, tetapi juga menjadi agregator. Melalui platform Shipper, pelaku UMKM bebas memilih untuk menggunakan jasa logistik yang sesuai dengan kebutuhan dan skala usaha mereka. Kami berinovasi untuk memudahkan pelaku UMKM untuk mencari harga yang paling terjangkau dan layanan untuk tracking yang efisien," tutur Budi.
 
Selain berperan sebagai agregator, Shipper terus berupaya untuk mengembangkan kemitraan dengan penyedia jasa logistik internasional. Pada Desember 2020 lalu, startup karya anak bangsa tersebut menjalin kerja sama dengan DPEX untuk pengiriman paket ke luar negeri tanpa harus ke kantor agen.
 
"Yang terpenting, barang bisa dijemput oleh kurir Shipper.id, jadi Anda tak perlu ke mana-mana. Kalau jualan adalah pendapatan sampingan Anda, penjemputan barang juga bisa dilakukan di kantor Anda," ujar Budi.
 
Budi pun memberi tips agar UMKM bisa semakin sukses. Pertama, selalu inovatif untuk mendukung strategi penjualan. Kedua, upayakan kurva statistik meningkat. Ketiga, menambah riset atau wawasan terhadap konsumen. Keempat, mampu mempertahankan pencapaian dan kelima, menjaga hubungan dengan karyawan tetap baik.


Sumber :Medcom.id




No comments

Powered by Blogger.