Buka Bisnis "Nail Art" Layanan "Door to Door" Saat Pandemi, Mona Tirta Bisa Balik Modal 4 Bulan



Mona Tirta Nugraini tak pernah menyangka pekerjaan yang fokus ditekuninya selama empat tahun belakangan ini perlahan membuahkan hasil. Mona sejak tahun 2018 bekerja menjadi nailist dan eyelash artist di salon kecantikan. Sembari bekerja, ia pun menimba ilmu tentang dunia perkukuan untuk mengembangkan skillnya. Selang setahun berjalan, perempuan berusia 22 tahun sempat berpindah pekerjaan di salon kecantikan Korea. Di tempat itu, ia kembali menempa diri menjadi nailist dari seorang guru yang didatangkan langsung dari Korea.

Nekat buka usaha sendiri gara-gara salon terdampak pandemi Meskipun akhirnya terdampak pandemi menyebabkan penghasilannya menurun, namun semangatnya untuk menggeluti dunia yang disukainya ini tak pernah padam. Tahun 2020 akhir, ia mulai bangkit dan memberanikan diri membuka usaha nail art sendiri dengan melayani pelanggan dari rumah ke rumah. 

"Karena banyak dorongan dari customer dan orang terdekat, saya bener-bener fokus memulai usaha ini dari Desember 2020," jelasnya.

Modal awal buka nail art Rp 10 juta, tapi dicicil... Awalnya, perempuan kelahiran Semarang ini rela menyisihkan uang setiap bulan dari hasil keringatnya selama ini untuk modal usaha. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, uang yang terkumpul hingga puluhan juta akhirnya dipergunakan membeli alat dan bahan. 

"Total semua modal untuk nail art saja kurang lebih sekitar Rp 10 jutaan. Tapi saya cicil 30 persen dulu beli alat bahannya terus saya tambahin dan saya lengkapin jadi 100 persen itu bertahap," ujarnya.

Raup omzet hingga Rp 6 juta per bulan, dalam 4 bulan bisa BEP
Dari usahanya yang baru di kembangkan selama empat bulan ini, mahasiswa jurusan Manajemen, STIE Anindyaguna ini mengaku sudah bisa balik modal. 

"Dua bulan jalan lancar sudah balik modal. Tergantung variabel bahannya karena harga sering berubah-ubah. Lalu keuntungannya itu sekitar 60 persen setiap harinya. Untuk omzet perbulannya bisa Rp 5 juta- Rp 6 juta," katanya. 

Selama usahanya berjalan, dalam prosesnya bukan tak mengalami kendala. Belum lagi, persaingan harga antar kompetitor kerapkali menjadi batu sandungan. Namun, ia menganggap hal itu menjadi sebuah lecutan untuk terus bekerja profesional memberikan hasil yang terbaik bagi pelanggan.

Tidak terjebak perang harga saat persaingan ketat 
"Hambatan pasti ada contohnya kompetitor yang menjatuhkan harga nail art. Cara mengatasi tetap tunjukan dengan profesional karena hasil hanya customer yang bisa rasakan. Yang penting bertahap dan tetap jalan terus," ungkapnya. 

Pelanggan setianya kini sudah mencapai ratusan yang kebanyakan promosinya dari mulut ke mulut. Namun, untuk mengenalkan bisnisnya kepada pelanggan baru ia menggunakan dengan cara online.

Unjuk gigi melalui Instagram bantu dorong penjualan 
Di galeri instagramnya juga terpampang berbagai motif nail art yang unik dan berwarna-warni. "Penjualan secara online membantu orang orang tau akan adanya Mona Salon. Dengan instagram @Monasalon05 Tapi kebanyakan customer masih menggunakan promosi mulut ke mulut. Sekarang sudah ada sekitar 120-an pelanggan," imbuhnya. Meskipun belum memiliki studio sendiri, ia terus berinovasi menciptakan ide-ide nail art untuk menarik pelanggan dengan harga yang bersaing. Saat menghias kuku pelanggan, ia juga memastikan penerapkan protokol kesehatan dilakukan secara ketat demi keamanan dan keselamatan bersama. 

"Saat ini best sellernya adalah warna warna pastel karena mengikuti gaya Korea. Saya juga sering kasih promo diskon untuk menarik kembali customer," ucapnya.

Gelutilah bisnis yang Anda senangi
Meskipun belum memiliki toko sendiri, namun dirinya berharap usaha yang digelutinya ini bisa berkembang di tengah tantangan pandemi seperti sekarang. 

"Saya akan tetap fokus kembangkan usaha kecantikan saya ini. Semoga usaha yang saya lakukan ini selalu membuat customer happy dan nyaman dengan kinerja saya," ujarnya. 

Ia mengaku optimistis usaha nail art yang dijalankannya ini dapat berkembang ke depannya. 

"Saya percaya kalau saya bisa, melakukan dengan sungguh-sungguh dan senang ,siap menerima risiko, melakukan apa yang saya senangi dan tidak menjadikannya beban," ceritanya.

Jika berusaha, harus sabar dan jangan pantang menyerah 
Keyakinan dan semangatnya untuk terus berusaha ini juga tak lepas dari sosok seorang ibu yang menjadi inspirasinya selama ini. 

"Saya tetap berjuang dan berusaha karena sosok ibu saya yang juga terjun di bidang kecantikan sejak 1996. Dan saya mau melanjutkan perjuangannya. Juga menginovasi tambahan treatment di salon ibu saya," ungkapnya.

Ia juga berpesan kepada para pemula yang ingin terjun ke dunia nail art agar pantang menyerah dalam menghadapi rintangan.

"Teruslah berinovasi dan selalu up to date soal perkukuan. Selalu belajar karena memang tidak semudah yang dibayangkan. Jadi harus sabar," pungkasnya.



Sumber :Kompas.com

No comments

Powered by Blogger.