Cerita Horor: Seramnya Rumah Mewah Warisan Nenek di Kemang



Sebuah bangunan yang tidak berpenghuni sering kali menyimpan berbagai cerita misteri dan dipercaya menjadi sarang makhluk gaib.  Hal tersebut yang sering kali dikatakan tetanggaku mengenai rumah peninggalan nenek di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Setiap orang pastinya tahu, bahwa rumah-rumah di kawasan Kemang cenderung mewah dan memiliki lahan yang luas.  Sebelum nenek meninggal, dia mewariskan rumah tersebut kepadaku, sebagai satu-satunya cucu kesayangan.

Sayangnya, rumah tersebut tidak pernah aku rawat, hingga sampai aku menikah dengan Ruben dan memutuskan untuk tinggal di rumah warisan nenek.   Satu minggu setelah menikah, kami memutuskan pindah ke rumah baru, yakni rumah warisan nenek. 

Karena sudah begitu lama tidak ditempati, kami berdua sepakat untuk membersihkan dahulu sebelum melakukan syukuran pernikahan dan menempati rumah itu. Ruben dan aku membagi tugas untuk membersihkan rumah. Ruben di lantai satu dan aku berada di lantai dua untuk membersihkan semua debu yang ada. 

Kami berdua mengerjakan pekerjaan dengan begitu cepat, sampai akhirnya ada sebuah lukisan tua yang tergantung di dinding tengah rumah. Kami ingin melepas lukisan tua itu dan menggantinya dengan foto keluarga besar. Lukisan tersebut memiliki gambar yang sudah tidak jelas lagi rupanya, yang pasti itu merupakan gambar halaman belakang rumah, dengan beberapa anak yang sedang asyik bermain. 

Ruben melepas lukisan tersebut dari dinding dan memutuskan untuk menyimpannya di gudang. Hari sudah menunjukkan pukul 15:00 WIB, karena sudah lelah seharian merapikan rumah, aku memutuskan untuk pergi keluar sejenak membeli makanan. Aku meninggalkan Ruben sejenak di rumah. Namun, saat aku kembali dari warung, aku melihat Ruben sedang duduk di kursi goyang belakang rumah ditemani lukisan tua tersebut.

Melihat Ruben melamun sambil memandangi lukisan tersebut, tentu sangat aneh.  Beberapa kali aku memanggil namanya, dia sama sekali tidak memberikan respons yang cepat seperti biasanya.  Sampai akhinya aku menepuk pundak Ruben dan menyadarkan dia dari lamunannya.

Ruben menarik tanganku dengan kencang dan mengajak aku keluar dari rumah tersebut. 

"Sayang, rumah ini nggak layak lagi untuk ditempati," ucap Ruben, dengan wajah yang panik dan bibir pucat. "Ada apa sayang, kamu kenapa?" ucapku, kebingungan

"Setelah aku mengangkat lukisan tersebut turun dari dinding, anak-anak dalam lukisan ikut keluar dan bermain di halaman belakang," jelas, Ruben. 

Mendengar ucapan Ruben tentu aku sama sekali tidak percaya, karena hal tersebut tak masuk akal.  Sampai akhirnya saat aku sedang berjalan menuju halaman belakang, ada seorang anak kecil yang berlari dan menabrakku. 

Tanpa pikir panjang dari mana asal anak berusia sekitar lima tahun tersebut, aku berusaha membantunya berdiri. Aku melihat wajahnya dan terkejut. Anak laki-laki tersebut memiliki wajah yang hancur dan tidak lagi memiliki kedua buah bola matanya.

Melihat hal tersebut sontak aku berteriak memanggil Ruben berkali-kali sampai dia menghampiriku.  Tubuhku dingin dan tidak lagi ingin melihat anak kecil tersebut. Akhirnya, aku dan Ruben memutuskan untuk tidak tinggal di rumah itu dan menjualnya.


Sumber :GenPi.co

No comments

Powered by Blogger.