Cerita Mistis 'Hotel Hantu' Bedugul, Ini Yang Harus Dilakukan Saat Lewat atau Mendatanginya



Selain keindahan alam dan budaya, Bali juga memiliki segudang kisah mistis yang menarik untuk dikuak.

Satu diantaranya, adalah hotel hantu di Bedugul.


Bernama Pondok Indah (PI) Bedugul Taman Rekreasi Hotel and Resort, pembangunan hotel ini mandeg tahun 2002.


Sejak saat itu, hotel ini terbengkalai dan banyak kejadian mistis yang terjadi di dalamnya. Anak Agung Ngurah Bagus Kesuma Yudha, bersama dua rekannya mencoba mendatangi ‘hotel hantu’ ini. Ia berangkat bersama, I Nyoman Gede Pramasetya dan I Md Satrya Megayogana. Gung Yudha, sapaan akrabnya, mencoba membuat video perjalanan mereka masuk ke dalam hotel ini.


“Saya kebetulan jadi produser dan sutradaranya, rumah produksi Dread Team,” jelasnya.


Ia kesana belum lama ini. Walaupun siang, kondisi hotel ini tetap gelap, apalagi memang wilayah Bedugul kerap turun sayong.


Karena berada di dataran tinggi, dengan cuaca yang dingin. Dahulu ada turis asing tersesat, dan membuat video di hotel ini lalu menyebutnya dengan nama ‘the ghost palace’ atau hotel hantu di Bedugul. Semak belukar menghiasi perjalanan Gung Yudha, bersama kedua temannya.


Warna bangunan mulai pudar, sisanya ditumbuhi padang ilalang dan tumbuhan liar lainnya. Bangunan tua ini nampak suram dan seram.


“Padahal pantauan kami struktur bangunan ini kelihatan megah, namun menjadi tidak indah,” jelasnya.

Ada patung naga di kawasan hotel, yang tampak seperti patung angker.


Aura mistis kuat terlihat di patung ini. Masuk ke dalam, suasana di tengah pun sangat lembab dan terdapat banyak lumut di interiornya. Ada pula beberapa tumbuhan rambat liar di dalam. Hanya suara tetesan air, dan derap langkah mereka bertiga yang terdengar di dalam ruangan.


Semakin dalam, ruangan semakin gelap. Beruntung Gung Yudhda, dan kedua temannya juga membawa lampu serta peralatan lengkap lainnya. Bangunan yang dibangun sejak 1990-an ini, masih menyisakan beberapa perabotan pasca terbengkalai tahun 2002. Banyak ruangan kamar, dan tangga di dalamnya.


“Perjalanan kami pun beberapa kali sempat terhenti, karena ada kejadian-kejadian ganjil,” katanya.


Mereka bertiga juga memakai jaket, karena semakin sore udara dingin kian menyelusup masuk membuat ngilu tulang. Tak lupa, mereka menghaturkan sebuah rokok sebagai tanda izin masuk ke dalam kawasan angker ini. Anehnya, kata Gung Yudha, tak berselang lama rokok itupun menghilang.


“Tapi bukan karena jatuh atau tertiup angin. Hilangnya rokok itu tidak berbekas,” katanya bergidik ngeri. 


Sembari mengucapkan permisi dalam hati, agar diizinkan mengeksplore tempat ini. Sebab Gung Yudha, dan kedua temannya merasakan aura mistis yang kuat. Untuk masuki. Seakan diperingatkan agar tidak terlalu dalam mengeksplorasi dunia mereka,” jelas alumni Unud ini.


Layaknya bangunan lain yang telah lama ditinggalkan, maka tempat itu akan ditinggali oleh hal lain yang tak kasat mata. Menurut cerita masyarakat sekitar, jelasnya, sering ada penampakan gadis berwajah oriental berambut sepundak. Wanita cantik ini kerap menggoda pemuda, yang melewati daerah tersebut pada malam hari.

Adapun terkadang sayup-sayup suara ramai terdengar dari dalam hotel, yang jelas jelas telah ditinggalkan dan tak berpenghuni.


“Cerita berkembang pada penampakan sosok pria, yang disinyalir merupakan pekerja yang meninggal tidak wajar pada saat pembangunan hotel itu berlangsung,” imbuhnya.


Tidak dipungkiri pemandangan hotel ini ssangat indah. Pandangan ketika keluar langsung memperlihatkan barisan perbukitan Bedugul yang hijau dan eksotik. Namun suasana mistis kian kuat, saat kabut turun. Sehingga ia menyarankan, jika kabut harus segera keluar dari hotel ini.


“Kami memilih beristirahat sejenak di sana, sembari melihat pemandangan indah dari atas. Anehnya, ada perasaan bukan hanya kami yang menikmati pemandangan itu, melainkan banyak orang,” katanya. 


Padahal tidak ada siapa-siapa kecuali mereka bertiga. Hal ini dibenarkan Penenung Bayu Gana, Jro Made Bayu Gendeng.


“Saya rasanya juga pernah ke sana, memang penunggunya level tinggi. Aura penunggu di sana sangat kuat energinya,” ujarnya.



Biasanya, kalau di tempat angker penghuninya sarwa bhuta kala.


“Kalau di pohon besar namanya banaspati raja,” ucapnya. Ia menjelaskan, biasanya 3x45 hari tempat kosong atau terbengkalai sudah mulai didekati mahluk gaib.






Untuk itu, ia menyarankan agar manusia yang ingin datang ke tempat angker atau seram agar tetap berdoa.


“Kalau ke tempat angker atau tenget seperti di Bali, memang dipercaya ada penunggunya. Kerap disebut mbaureksa. Atau gumatat-gumitit, wong samar, gamang, banaspati, dan lain sebagainya.


Ia juga menjelaskan, jika tidak bisa menggunakan mantra cukup dengan permohonan izin saja.


“Atau dikenal dengan sebutan sesontengan, intinya bahasa yang kita pahami,” tegasnya.


Dengan bahasa Bali atau Indonesia, atau Inggris memohon izin ke penunggu yang berada di tempat itu agar tidak diganggu. Kemudian menghaturkan gagapan (buah tangan), yang disukai penunggu di sana. Semisal kopi, rokok, jajanan pasaran, atau permen.


Sesontengan itu seperti ‘tabik pakulun, atau tabik sugra sira sane nuwenang genah driki,” katanya. Setelah itu jelaskan maksud dan kedatangan tujuan ke sana.


Jika hanya lewat jalan di depan tempat angker, bisa membunyikan klakson. Sebagai tanda hormat atau meminta izin lewat. Saat ditanya, cara untuk mengembalikan aura dan energi positif dari bangunan lama terbengkalai. Jro Gendeng mengatakan, harus dilakukan pembersihan (mareresik) dengan mengembalikan unsur bhuta, atau penghuni yang menganggu ke alamnya dengan tatanan proses upacara dan upakara.


“Yang jelas ada rentetan upacara dan upakaranya, atau ritual sesuai desa, kala, patra setempat. Atau sesuai dengan tempat dimana wilayah angker itu berada,” imbuhnya.



Sumber :Tribun-Bali.com

No comments

Powered by Blogger.