Desainer Dunia Bersatu Lawan Aksi Rasialisme Terhadap Orang Asia di AS



  Kejahatan dengan target komunitas Asia kian marak terjadi di Amerika Serikat. Prihatin, desainer dan label fashion dunia pun bersatu melawan aksi yang diduga bermotif rasialis itu.
Solidaritas mereka ikut disuarakan lewat tagar #StopAsianHate yang menggaung di media sosial. Salah satu dukungan datang dari Phillip Lim, desainer berdarah China yang telah lama menetap di AS.

Lewat sebuah video di Instagram, ia mengaku sangat frustasi dengan berbagai perlakuan buruk yang dialami oleh orang-orang keturunan Asia. "Rasanya seperti kami tidak penting dan tidak eksis," kata desainer yang berbasis di Los Angeles itu.
Ia lalu menunjukkan sebuah foto lama yang memperlihatkan perjalanan keluarganya ketika bermigrasi ke AS. Phillip lalu menyebut AS sebagai 'rumah' yang penuh dengan kesempatan dan kebebasan bagi siapa saja.

"Jadi saya ingin bertanya kepada Anda sebagai sesama warga AS dan umat manusia. Mau kah kalian berdiri bersama saya, teman kalian sesama orang AS, Asia Amerika, untuk menghentikan kebencian terhadap orang Asia?" seru desainer yang karyanya pernah dipakai Michelle Obama itu.
Isu ini turut menggugah hati perancang kondang Prabal Gurung. Bahkan, desainer berdarah Nepal yang lahir di Singapura ini, turun ke jalan untuk ikut aksi demonstrasi melawan kekerasan anti-Asia.

"Penjelasannya sederhana: Kekerasan terhadap kelompok apapun adalah masalah kemanusiaan," kata Prabal seperti dikutip WWD.
Menurutnya, industri fashion sudah seharusnya untuk berpartisipasi dalam gerakan melawan rasialisme. "Industri ini memiliki kekuatan visual untuk memengaruhi miliaran orang di seluruh penjuru dunia. Jadi sudah menjadi tanggung jawab industri ini untuk mendukung kami," katanya.


Jason Wu pun menunjukkan rasa simpatinya dan menggalang dukungan untuk melawan kejahatan terhadap komunitas Asia.
Dukungan tak cuma datang dari mereka yang berdarah Asia, tapi juga desainer non-Asia dan rumah mode Eropa. Valentino, Versace, Tommy Hilfiger mengutuk aksi kekerasan yang dialami orang Asia di AS. Nike juga tak ketinggalan.

Sebelumnya, media AS melaporkan rentetan kejadian kekerasan terhadap komunitas Asia selama beberapa bulan terakhir. Banyak di antara para korban adalah orang lansia.
Di San Fransisco, seorang imigran 84 tahun asal Thailand tewas setelah dijorok oleh pemuda 19 tahun. Lalu kepolisian Oakland sempat menangani kejadian tiga orang Asia yang didorong hingga terjatuh oleh orang tak dikenal. Salah satu korban berusia 91 tahun.

Terjadi pula perampokan di depan sebuah toko Vietnam di San Jose, California. Perempuan 64 tahun jadi korbannya. Dikabarkan CNN, tindakan kekerasan serupa terus meningkat, terutama menjelang perayaan Imlek 2021.

Bahkan menurut data Stop AAPI Hate yang dirilis pada 9 Februari lalu, setidaknya ada 2.800 laporan kejahatan anti-Asia di 47 negara bagian dan DC. Data dikumpulkan dari pertengahan Maret atau saat virus Corona mulai mewabah, hingga akhir 2020.
Menurut Michelle Lee, pemimpin redaksi majalah Allure, kekerasan terjadi karena kesalahpahaman serta kefrustasian yang dipicu oleh pandemi COVID-19.

"Bukan hanya kekerasan serta ejekan 'kung flu', banyak orang yang sekarang diserang dan dibunuh," kata Michelle.

Presiden ke-45 AS Donald Trump kerap menggunakan 'kung flu' sebagai pengganti nama virus corona baru (pertama kali muncul di Wuhan, China). Perkataannya itu lantas menuai kritikan karena dinilai bisa memprovokasi warga untuk menyerang orang keturunan Asia.

Sumber :wolypop

No comments

Powered by Blogger.