Gempar Penemuan Fosil di Goa Pegunungan Lasem, Tulang Suku Lingga atau Hewan Purba?

Penemuan fosil di Pegunungan Lasem (Foto: Doddy Handoko)

Dalam kitab "Sejarahe Wong Jowo dan Wong Kanung" diceritakan bahwa ribuan tahun silam pegunungan Lasem sudah dihuni manusia lokal yang sudah maju mempunyai tata budaya dan bisa menciptakan hasil karya.

"Mereka berperawakan pendek badannya kecil kulitnya coklat kemerahan, cara hidupnya masih lugu dan primitif pakaiannya berupa celana dalam dari pelepah pohon waru yang di parut halus kemudian dianyam, mereka juga memakai kulit binatang untuk menutupi tubuh mereka," ujar Koh Lam Al Mahdi, penggiat sejarah Lasem yang juga pengurus Komunitas Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB), Rabu (17/3/2021).

"Orang-orang pegunungan Lasem tinggal di goa-goa cadas bersama anjing-anjing gladag mereka hidup dengan berburu bersenjatakan payal, panah, bedhor yang terbuat dari batu yang diasah tajam, kemudian hasil buruannya hanya dibakar dan ditaburi abu sisa pembakaran sebagai perasa kemudian langsung di santap bersama anjing-anjing piaraan. Apinya didapat dari pohon kering yang tersambar petir saat musim kemarau," tambahnya.

Ketika bulan purnama mereka bersenang-senang di luar goa menari-nari bergandengan, bertepuk tangan dan bersiul-siul, patahan kayu-kayu yang berlubang dipukuli dengan ranting dibuat suara musik.

"Orang-orang asli pegunungan Lasem saat itu yang hidupnya masih lugu dan primitif disebut orang-orang suku Lingga," ucapnya.

Penasaran dengan orang-orang suku lingga itu, tim jelajah LKCB mencoba mencari jejak-jejak mereka di goa-goa yang ada di pegunungan Lasem dan sekitarnya.

Berkat informasi dari masyarakat dengan keberadaan goa yang ada di lahan milik perhutani di desa Bitingan, Kelurahan Bitingan, kecamatan Sale, Rembang, tim jelajah segera mendatangi dengan dipandu satu warga lokal, Minggu 14 Maret 2021 lalu.

Jalan menuju lokasi tidak jauh dari perkampungan kira-kira satu kilo meter, melewati perkebunan. Goa tidak terlalu besar dengan pintu masuk setinggi 2 m dan lebar 5 m.

Begitu masuk di dalam ruangannya agak luas sekitar 15 m persegi dan ternyata goa tersebut ternyata merupakan sungai bawah tanah yg panjangnya tidak terukur.

Masyarakat sekitar menyebutnya goa Temu Ireng. Dengan peralatan yang seadanya tim mencoba menyisir dinding yang ada di dalam goa.

"Akhirnya kami berhasil sampai di goa yang di kenal masyarakat dengan sebutan goa Temu Ireng. Dengan peralatan penerangan yang telah dipersiapkan ,tim menyisir semua ruangan goa dan ternyata semua kecurigaan terjawab, tim jelajah menemukan sekumpulan tulang-tulang yag diduga sisa-sisa kehidupan manusia suku Lingga,"ujarnya.

Kemudian tim segera mendokumentasikan untuk dibuat laporan kepada yang berwenang ke Balai Arkeologi Yogya dan BPCB Jawa Tengah.

Sementara itu, Rusyad Adi Suriyanto, Paleoantropolog dan Antropolog Forensik UGM yang dihubungi menuturkan, "Saya baru melihat dari foto. Kurang jelas foto-fotonya. Juga tak ada skalanya. Kemungkinan hewan mamalia besar (bisa Familia Bovidae atau ordo Proboscidea). Sepertinya fragmen vertebrae (tulang belakang) dan distal femur (bagian bawah tulang paha) Bovidae (bisa sapi, kerbau atau banteng)," paparnya.

"Fosilisasinya juga belum sangat penuh. Bisa jadi di masa lalu tulang-tulang itu berasal dari kawasan yang ada di atasnya, lalu terbawa arus, selanjutnya masuk ke gua oleh aliran air atau sengai, dan diendapkan di dindingnya," lanjut dia.


Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.