Golok Banten dan Klaim soal Senjata Raja-raja Sunda

Guru Besar Seni Golok Indonesia Ki Kumbang dan pesilat Italia Linda Turci memamerkan pamor golok warisan budaya Sunda. (Tangkapan Layar Akun Instagram @the_golok_official)

Klaim mengenai golok sebagai warisan budaya Sunda dan bukan budaya Melayu, muncul ke permukaan. Guru Besar Seni Golok Indonesia, Ki Kumbang, bahkan meyakini melalui studi dan penelusurannya bahwa golok, termasuk golok Banten, merupakan senjata utama Raja-raja Sunda.

Ki Kumbang kemudian menyebut sejumlah kesalahan anggapan tentang golok. Salah satu anggapan keliru yang kerap muncul menyebutkan golok lebih umum digunakan sebagai alat pertanian dan perkebunan.

"Selain itu ada yang menyebut golok sebagai senjata rumpun Melayu, itu salah. Golok adalah senjata para raja-raja tanah Sunda. Literasi mengenai itu bisa dilihat di Perpusnas (perpustakaan nasional)," kata Ki Kumbang dalam seminar virtual, Rabu (24/3).

Dalam webinar bertajuk Golok Banten: Sejarah dan Jenisnya ini, Ki Kumbang juga menjelaskan asal usul kata golok. Menurutnya kata golok berasal dari bahasa Sunda kuno yang sudah ada sejak tahun 1518 masehi.

Meski sebenarnya, kata Ki Kumbang, jauh sebelum tahun 1518 kata golok sudah ditemukan pada dua kitab Sunda kuno Sanghyang Siksakanda Ng Karesian. Namun, pada salah satu kitab tersebut tidak tertulis keterangan waktu atau tahun.

Ia sendiri mengaku melakukan riset dan penelitian mengenai golok Banten. Salah satunya dengan meneliti material yang terdapat pada golok Banten zaman dahulu pada laboratorium metalurgi milik Institut Teknologi Bandung.

"Dari penelitian itu ditemukan bahwa satu buah golok Banten mengandung 10 material berbeda, ada titanium, silica, belerang dan lain-lain. Kalau golok sekarang mungkin hanya satu material saja," katanya.

Ia melanjutkan, "Zaman dahulu ada 10 material dalam satu golok yang menurut saya mustahil disatukan dengan besi karena butuh api yang panas sekali. Ini yang masih menjadi teka-teki sampai sekarang."

Ragam Jenis Golok di Tanah Sunda

Bukan hanya itu, Ki Kumbang juga mempelajari jenis golok yang berbeda-beda pada setiap era di tanah Sunda. Pada era Kerajaan Padjadjaran misalnya, ia menyebut golok jenis candung lebih terkenal ketimbang jenis lain.

Golok candung memiliki ukuran bilah yang membesar dari pangkal ke ujung yang sedikit menunduk. Dengan begitu ujung golok menjadi titik berat sehingga akan berdampak parah pada objek yang terkena golok candung.

"Golok candung ini juga ada filosofinya, bahwa dari kecil sampai jadi besar tetap menunduk. Selain itu ada golok jenis perahu nangkup yang berbentuk seperti perahu terbalik, ukuran dari pangkal sampai ujung sama," kata Ki Kumbang.

Sementara itu, golok jenis salam nunggal dengan bilah lurus menjadi yang paling terkenal di kawasan Banten. Salam nunggal berarti keselamatan dari satu dan bilah lurus berarti perjalanan hidup harus selalu lurus.

"Lalu bagaimana dengan pembuktian golok adalah senjata raja? Zaman dahulu golok memiliki material istimewa, seperti pada golok ini terdapat emas di beberapa bagian. Kemudian gagang terbuat dari (tanduk) kerbau," kata Ki Kumbang.

Ia mengklaim selama ini masyarakat awam salah mengira bahwa golok adalah senjata umum dan kujang adalah senjata para raja di tanah Sunda. Ki Kumbang kemudian mendasarkan argumentasinya tersebut pada lembar ke-17 kitab Sanghyang Siksakanda Ng Karesian, golok senjata para raja dan kujang senjata kaum petani.

"Mungkin banyak lukisan Prabu Siliwangi memegang kujang. Bagi saya pribadi, itu filosofinya di mana seorang raja sangat menghargai sampai ke tingkat bawah," kata Ki Kumbang.

Golok BantenKoleksi ragam golok Banten. (Foto: Akun Facebook the_golok)

Misi Masuk UNESCO

Selain menarik perhatian Ki Kumbang, golok juga menarik perhatian penulis dan pesilat asal Italia Linda Turci. Bersama Ki Kumbang ia menulis buku bertajuk The Golok yang diklaim sudah beredar di beberapa negara Eropa.

Linda mengaku terkejut ketika pertama kali melihat golok lantaran belum pernah melihat senjata tradisional seperti itu. Ia merasa perlu mempublikasikan warisan leluhur Indonesia itu agar bisa diketahui sehingga bisa menjadi warisan budaya dunia.

"Saya melakukan riset pada tahun 2019, sangat luar biasa, pengalaman yang sangat luar biasa. Saya melihat begitu banyak model golok dan terkejut," kata Linda.

Ia melanjutkan, "Sekarang ada orang-orang di Eropa yang mengetahui pencak silat dan berkaitan dengan Golok. Golok menjadi kandidat yang bagus untuk masuk dalam UNESCO karena memiliki karakteristik."

Pernyataan itu disambut positif oleh Presiden Netherlands Pencak Silat Federation, Olivier Blancquert. Ia mengharapkan ada kerja sama untuk terus melakukan riset dan promosi, seperti menerjemahkan buku The Golok dalam Bahasa Belanda yang masih berlangsung.


"Ada museum seperti Leiden yang memiliki banyak informasi tahap awal dan akhir tentang Banten. Saya rasa ke depan kita bisa melakukan riset bersama supaya mendapatkan gambar yang jelas mengenai Banten," kata Olivier.

Ki Kumbang menambahkan, "Kita semua sukarelawan dari golok Banten, suka rela berdasarkan hati yang ikhlas dan satu tujuan. Siapa pun nanti yang berhasil membawa golok ke UNESCO itu adalah semangat dari kita semua."



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.