Israel Adesanya, Korban Bully Calon Legenda UFC


Israel Adesanya adalah salah satu bintang besar UFC saat ini. (AP/STEVE MARCUS)


 

Israel Adesanya tampak hebat dan tak tersentuh di UFC. Namun untuk bisa mencapai titik tersebut, perjalanan Adesanya begitu panjang dan berliku.

Adesanya lahir di Lagos, Nigeria, dari keluarga yang terbilang berada dan berkecukupan dari segi finansial. Pada usia 11 tahun, keluarga tersebut pindah ke Selandia Baru demi pendidikan Adesanya yang lebih baik.

Namun kepindahan tersebut memiliki dampak buruk bagi Adesanya. Adesanya jadi terlihat mencolok dan berbeda dari anak-anak di lingkungan sekitarnya.

Karena itu, tak jarang ia jadi korban bully dari teman-teman sebaya.

"Saat masih anak-anak, saya menjadi korban bully sebagai anak baru di Selandia Baru, karena hanya ada sedikit anak berkulit hitam."

UFC middleweight champion Israel Adesanya, of Nigeria, poses on the scale during a ceremonial weigh-in for UFC 248 at T-Mobile Arena in Las Vegas Friday, March 6, 2020. Adesanya will defend his title against challenger Yoel Romero, of Cuba, at the arena on Saturday, March 7. (Steve Marcus/Las Vegas Sun via AP)Israel Adesanya sempat jadi korban bully semasa anak-anak. (AP/Steve Marcus)

"Saya harus belajar mempertahankan diri. Saya harus berhadapan dengan anak-anak Maori yang besar dan anak setempat," ucap Adesanya dikutip dari MMA Junkie.

Hal itu yang kemudian mendorong Adesanya berusaha meningkatkan kepercayaan diri, baik dari pemikiran maupun kemampuan.

"Saya harus belajar berbicara kepada diri sendiri. Saya harus membangun kepercayaan diri. Jadi ini tidak seperti yang dibicarakan orang, bahwa 'saya membuat segalanya terjadi dalam semalam' atau 'saya memang penuh kepercayaan diri'."

"Saya belajar berbicara pada diri saya sendiri dengan layak. Hal itulah yang tidak dimiliki banyak orang di olahraga ini," ujar Adesanya.

Adesanya lalu membekali dirinya dengan ilmu bela diri. Setelah sempat berlatih taekwondo, Adesanya mendalami kickboxing. Di kickboxing, Adesanya melesat cepat.

Adesanya jadi juara nasional Selandia Baru tiga kali, terbanyak dalam sejarah.

Setelah terlanjur mendalami bela diri, Adesanya sempat jadi petinju profesional dan juga kickboxer. Untuk kickboxing, Adesanya bahkan pergi ke China untuk unjuk kemampuan di sana.

Calon Legenda UFC

Perjalanan panjang Adesanya itu yang membentuknya jadi pribadi yang tangguh dari segi mental.

Terbukti, Adesanya bisa mencatatkan rekor 20-0 dalam karier mixed martial art-nya sejauh ini. Sejak bergabung ke UFC pada 2018, nama Adesanya makin melejit sebagai petarung.

Hanya dalam waktu singkat, Adesanya sudah bisa memenangkan sabuk juara kelas menengah UFC. Adesanya hanya butuh waktu satu tahun untuk mewujudkan hal tersebut.

Setelah jadi raja di kelas menengah, Adesanya kini membidik tantangan lain yaitu pindah ke kelas light heavyweight.

LAS VEGAS, NEVADA - MARCH 07: Israel Adesanya and Yoel Romero exchange punches in a Adesanya decision win to retain the middleweight title at T-Mobile Arena on March 07, 2020 in Las Vegas, Nevada.   Harry How/Getty Images/AFPAdesanya sempat jadi petinju dan kickboxer sebelum hanya fokus terjun di dunia MMA. (Harry How/Getty Images/AFP)

Lantaran statusnya sebagai bintang UFC, Adesanya mendapat keistimewaan untuk langsung dapat duel perebutan gelar melawan Jan Blachowicz.

Laga ini tentu sangat menantang bagi Adesanya namun di sisi lain membuatnya bisa sejajar dengan segelintir petarung yang pernah menang di dua kelas secara bersamaan seperti Conor McGregor, Daniel Cormier, dan Amanda Nunes.

Adesanya bahkan sudah mulai membidik Jon Jones yang saat ini hijrah ke kelas berat. Hal itu bisa jadi indikasi bahwa Adesanya juga cukup percaya diri untuk naik ke kelas berat, dan bahkan coba menguasainya.

Andai semua mimpi Adesanya mulus dan bisa menang di tiga kelas yang berbeda, namanya tentu bakal memiliki tempat spesial di jajaran legenda UFC.

Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.