Just One Day Pt. 1


COSMO QUIZ: Siapa Personil BTS yang Cocok Jadi Pacarmu?
Title: Just One Day / Siapa Lelaki Itu?
Genre: Romance, Comedy, Fanfic
Part: Twoshoot

***


Ryul duduk di balkon rumahnya melamun beberapa hal sampai kakaknya Byeol Ra membangunkan lamunan Ryul dengan mengetuk kepalanya dengan sendok yang sedari tadi ia bawa.

Ttuk~

"Yaa!!" protes Ryul menatap Byeol Ra tanpa dosa dengan cengiran mautnya.

"jangan melamun di siang bolong begini. kau ada masalah?" tanya Byeol Ra di ikuti duduknya. Ryul hanya mendengus lelah.

"Kenapa? apa Minjung iblis itu menyakitimu? hah!!?"

"Ya! Kak... Lee Minjung namanya Lee Minjung tanpa iblis"

"bagaimana aku bisa menyebutnya tanpa iblis selama tiga bulan terakhir kau murung seperti ini"

"Bukan begitu~" kini suara Ryul kembali berat dan lelah.

"apa aku terlalu protective padanya? aku hanya menginginkan kabar darinya sekalipun padat paling tidak dalam seminggu dia memberitahuku baik baik saja" kini Ryul menunduk menutup sedihnya.

"Hey ya!! jangan seperti itu. tenang saja Iblis mu itu tak kan macam macam padamu." tutur Byeol

"aku tau kak"

"sudah kirim pesan saja padanya. itu akan membuatmu semakin baik" kalimat Byeol membuat Ryul menuruti perkataan

Ctaak

Cttakk

Ccttak

Jung ah apa kau sehat?

Iya

Apa yang kau lakukan hari ini? apa pekerjaan mu lancar?

Aku latihan dan benar benar sibuk. akan ku hubungi jika lenggang

Baiklah. jaga kesehatanmu baik baik. aku akan menunggu

Hingga tak ada kabar lagi dari Minjung membuat kakaknya menjadi semakin bersalah. kini Byeol menepuk pundak Ryul untuk menenangkan hati Ryul yang gundah.

Ia tau bagaimana rasanya menjadi seseorang yang di acuhkan. apalagi ia melihat adiknya sendiri.

"tenang saja. aku rasa setelah kesibukannya habis dia akan menelponmu" papar Byeol yang di ikuti anggukan Ryul.

"aku akan masak untuk nanti malam. kau pergilah jalan jalan jika kau suntuk, ne"

"Siap kak, terima kasih"

Kini Byeol berjalan pergi dari kamar Ryul tak lama dan tepat di pintu kamar Byeol mendapat telpon dan menutup pintu kamar Ryul sembari mengangkat Telpon yang berdering beberapa kali.

Ryul dapat mendengar jelas jika Byeol kakaknya sedang menerima telpon dari Jungkook kekasih kakaknya sekaligus partner kerja Minjung. mereka terlihat baik baik saja dan kurasa ada waktu untuk mengobrol dengan santai tak seperti kalimat Minjung.

Hingga selipan kalimat pertanyaan Byeol yang menghawatirkan Ryul dan Jung kini di jawab oleh Jungkook di sana, jika mereka sedang tak latihan. yang membuat Ryul semakin gelisah.

*
*
*

Ryul ah, dimana?

Aku di cafe kak, kenapa?

Cafe mana? Apa kau baik baik saja.

Iya terima kasih Kak Yunbi, aku hanya butuh waktu untuk sendiri.

Baiklah jika ada apa apa telpon saja aku, oke?

Iya terima kasih.


Klik.

Kini sambungan telpon itu terputus. Yunbi adalah sahabat Byeol kakaknya yang memang sudah sejak dulu Ryul mengenalnya bahkan sudah menjadi sahabat sekaligus keluarga Ryul.

Tapi bukan itu kini di benak Ryul. beberapa minggu Ryul hanya duduk sendiri di cafe terakhir ia bertemu dengan Jung, di cafe inilah juga menjadi cafe favorit mereka. Kini dia duduk sendiri 'lagi' dan masih mengatur pikirannya untuk kembali jernih. hingga sang pelayan menghampirinya,

"nona mau pesan apa?"

"hmm~ entah laa akan ku pesan nanti"

"eoh. nona lagi." pekik pelayan cafe ini membuat Ryul menatapnya,

"eh maaf bukan maksudku untuk mengagetkanmu hanya saja jika aku tak salah beberapa hari yang lalu kau datang ke sini kan?" terka pelayan itu membuat Ryul hanya mengangguk malas dan menjawab sekedarnya

"ah benarkah? ohh memang otak ku sebagus wajahku" puji pelayan ini sendiri membuatnya lupa tentang apa yang seharusnya ia lakukan

"hmm~ jadi. aku akan pesan minuman nanti" jelas Ryul kembali membuat pelayan itu kembali berbicara,

"Eh.. karena aku sudah mengingat pelanggan setia ku di cafe ini. aku mungkin ingat yang sering kau beli, ice mocca latte benarkan?" Ryul sedikit terkejut dengan perkataan pelayan ini yang membuatnya sedikit kagum

"kau lumayan juga, siapa namamu?" kini Ryul sedikit tertarik dengan pelayan wanita ini

"aku Choi JiYoung Ahn, Nona sendiri?"

"Park Ryul Leu"

"apa ini artinya selangkah menjadi baik saat pelanggan dan pelayan menjadi teman?" kalimat Jiyoung membuat Ryul mengikik kecil

"ah sudah laa. aku akan kembali dengan pesananmu. aku tak bisa lama lama" wink Jiyoung sembari pergi menuju tempat kasirnya.

sedikit senyum Ryul menatap Jiyoung membuat seorang laki laki yang sedari tadi memeperhatikannya ikut tersenyum sama.

'I want more know you' secarik tissue di tulis remang di samping Ice mocca latte yang sama persis di pesan oleh Ryul dengan tempat yang berbeda.

*
*
*

10.30 PM Ryul keluar dari apotik membeli beberapa obat bulanan untuk persediaan rumahnya.

"seharusnya aku beli lebih awal" gerutu Ryul dengan mengusap usap kedua telapak tangannya.

badan Ryul menggigil kedinginan di jalan. hingga di pertikungan jalan ia menyebrang, sampai tak lama beberapa sepeda motor datang bergemuruh dengan suara bisingnya mengelilingi Ryul seakan menjadi target mereka.

Ryul hanya dapat berputar putar mencari celah untuk segera pergi. hanya saja motor motor itu terlalu cepat dan gusar dengan putaran mereka yang membuat Ryul semakin ketakutan,

"Apa yang membuatnya mengincar gadis ini?" suara laki laki berambut merah menatap Ryul dengan mengendarai sepeda motor besarnya.

"Entah. tapi saat melihat photonya mereka terlihat sama" jawab dari laki laki berambut emas yang juga mengendarai sepeda motor balap.

"Siapa??" teriak Ryul membuat salah satu dari mereka menjawab pertanyaan Ryul

"ya... noona tak sopan berteriak seperti itu pada kami calon adik iparmu"

"Heh?"

"hahaha.. lucu saja saat aku mengatakan ini. tapi itu benar"

"ya lepaskan aku biarkan aku pergi laki laki gila"

"Apaaaaa... kau berani mengatakan itu pada kami" membuat laki laki berambut agak kecoklatan itu memberhentikan motornya di ikuti yang lain. dan turun dari tempat duduknya.

"ya, apa yang ingin kau lakukan. jangan dekat dekat"

"sudah ku katakan jika kau akan menjadi kakak ipar kami, mengerti. dan jangan kau panggil kami laki laki giㅡ"

Pletak~

Sebuah helm melayang tepat di kepala laki laki yang mendekati Ryul, seorang laki laki turun dari motornya berjalan menuju korban lemparan helm miliknya.

Laki laki itu menepuk nepuk kepala lelaki di sebelahnya, "maafkan dongsaengku taehyung, ne. dia memang tak bisa di kontrol. ucapkan maaf pada nona ini" dan menekan kepala taehyung untuk menunduk minta maaf.

"Maafkan kami Nona."

"a...aakuu pergi" singkat Ryul yang di tahan dua namja di belakang Ryul

"e-ee-m.. tunggu. Kakakku ingin mengatakan sesuatu dulu"

"Kak ayo.."

Ryul menengok kembali menatap laki laki tinggi di belakangnya,

"aish~ apa yang kalian lakukan. sudah biarkan nona ini pergi"

"Apa? kita sudah membuntutinya dan kau melepaskan saja moment ini kak?"

"ya Jimin ah... sudah ku katakan lepaskan dia"

"Tidak" bantah Jimin yang masih menghadang Ryul yang juga masih tak tau apa yang mereka bicarakan.

"Sebenarnya siapa kalian? apa aku tau kalian? biarkan aku pergi"

"mengenali kami atau tidak itu tak masalah asal kami sudah mengetahui mu"

"Heh?"

"yang harus kau tau hanya kakak ku Jin, di depanmu" sahut lagi laki laki berkulit putih di samping laki laki berambut pirang.

"Jin"

"Ah sudah bubar kalian. maafkan adik adikku" papar Jin sembari membubarkan adik adiknya yang berhasil membuatnya malu di depan Ryul.

*
*
*

"MWO KAU DI HADANG ENAM PREMAN MOTOR? HWOOOOOOO ...LALU LAKI LAKI BERNAMA JIN MELEPASMU? HWOOOOO... DAN MEREKA MENGATAKAN JIKA MEREKA AKAN MENJADI ADIK IPARMU? HWOOOO.. Kalau ini mereka benar benar preman gila" papar Jiyeo -/_-;

kini Ryul menempelkan dagunya di mejanya sembari menegadah menatap Jiyeo sahabat kelasnya.

"ah entah laa.. aku semakin di buat gila. yang aku pikirkan sekarang hanya Minjung"

"oh~ Minjung. kenapa kau pikirkan saat dia masuk sekolah Ryul." jelas Jiyeo membuat Ryul terperanjat dan semangat,

"Sungguh. apa dia masuk sekolah hari ini? eoh... berarti jam kerjanya kosong hari ini yey~ eh, Jiyeo ah aku pergi ke kelas Minjung dulu ya" tepuk pundak Ryul pada Jiyeo membuatnya berteriak bertanya tanya,

"YA APA MINJUNG TAK MENGATAKAN PADAMU? APA KEMARIN DIA TAK MEMBERI KABAR PADAMU? ㅡAish... dasar namja keterlaluan, bagaimana Ryul bisa bertahan dengan laki laki seperti itu"

*

Ryul tak segan segan masuk ke kelas Minjung dan mendapati Minjung yang sudah di kelilingi dengan banyak gadis. Yap~ menjadi seseorang yang populer dan menjadi seseorang yang di promosikan di tempat latihannya sekarang kini Minjung sedikit berubah. tapi apapun itu Ryul tak pernah menegok sedikit pun dari Minjung kekasihnya.

Ryul memotong garis kerumunan gadis gadis itu dan kini di depan Minjung dengan senyum merekahnya.

"Minjung ah"

Membuat Minjung yang sibuk bercerita kini menatap kekasihnya dan kembali melempar senyum.

"Ryul ah. Mau makan di kantin dengan ku" tanpa berfikir lagi Ryul mengiyakan ajakan Minjung.

Hingga semua gadis mengeluh saat Minjung keluar dengan Ryul.

*

"jadi hari ini kau libur?"

"Iya"

"mm~ nanti pulang sama sama ya"

"baiklah"

Percakapan mereka terhenti saat Ryul mendapat telpon dari Jiyeo.

'ya ryul ah dimana kau?!!!'

'kantin ada apa?'

'cepat ke gerbang sekolah sekarang'

'Kenapa?'

'kau ingat laki laki gila yang kau ceritakan tadi pagi kan. mereka sepertinya datang ke sini.'

'Apa? bagaimana mereka tau sekolahku'

'yaaa tanya sendiri saja. kau ini. cepat sebelum mereka meneriaki namamu lalu Minjung mendengarnya'

Ryul pun meninggalkan Minjung tanpa pesan dan melesat menuju gerbang sekolah.

Hanya keheningan yang Ryul dapatkan saat menegok negok gerbang sekolah.

"apa Jiyeo menipuku?" gerutu Ryul sampai suara bisik Jiyeo di semak semak samping membuat Ryul tersadar dan menuju ke sana.

"Jiyeo ah mana meㅡ" belum sempat bertanya, satu persatu wajah mereka terpampang jelas keluar dari semak semak lain yang sepertinya sembunyi dari satpam sekolah.

"YA BAGAIㅡMMMMMMMMMM" Jiyeo membungkam mulut Ryul agar masalah tak jadi besar saat satpam mengetahui mereka.

"ssssttt~ diam, Ryul ah. jika satpam curiga kita akan kena masalah besar. kalian berbicaralah aku akan mengawasi satpam sekolah"

Kini Jiyeo pergi dan tinggal mereka berenam.

"kalian apa yang kalian lakukan"

"keluarlah dari sekolah rongsokan ini, ikut kami di sekolah elit. ini akan membuat kakakku nyaman"

"Kakak kakak kakak terus... itu saja yang kalian bicarakan. mengenalnya saja tidak. tau kalian juga tidak. menyuruhku keluar dari sekolah lalu membawaku untuk menjadi kakak ipar dengan seenak jidat kalian, apa otak kalian bermasalah." kesal Ryul yang masih setia di dengarkan ke empat namja ini.

"mungkin kau lupa tentang hyung dan kami. tapi Jin hyung sangat mengingatmu selama 2 tahun ini, dalam dua tahun juga dia tak penah berpaling darimu"

"aku mengenalnya? aish.. aku tak peduli. katakan pada kakak mu jika aku tak kan menikah dengannya, kenal dengannya saja aku tak kan mau"

Salah satu dari mereka terpancing marah dan satu dari yang lainnya menahannya,

"Kak Rap Mon, tunggu." Tahan Jimin yang sedikit di ingat Ryul.

"jadi kau tak ingin pergi dari sini?"

"Tidak."

"Baiklah, ayo kita pergi"

Mereka pun mulai memanjat satu persatu pagar sekolah Ryul,

"YA KATAKAN PADA KAKAK KALIAN DAN KU TEGASKAN JIKA AKU SUDAH MEMILIKI KEKASIH" papar Ryul hingga menyisahkan satu laki laki menengok ke arah Ryul yang hampir melompat pergi,

"Laki laki itu. hmm~ aku mengenalnya. lebih mengenal profilnya. Tiap malam tak pernah jauh dari jalan menuju beberapa club dengan lain lain gadis, membawanya ke motel laluㅡ hmm.. entah laa. kau menyukai laki laki seperti itu?" papar laki laki tak di kenal Ryul tapi ia tau namja ini salah satu dari kerumunan kemarin.

"Mwo?" hati Ryul tergoyah dan penasaran hingga di lanjutkan kembali oleh laki laki itu,

"Oh! apa kau benar benar tak tau, PACARmu? ku rasa hyung tak bisa menjadi namja seperti itu. sekarang ku fikir kau memiliki alasan untuk meninggalkannya" senyum J-Hope di iringi lompatannya.

*
*
*

Plak~

Plak~

Plak~

Plak~

"YAAAAA APA KALIAN GILA!!! BENAR BENAR GILA!!! jika aku bertemu dengan Ryul lagi dan dia tak mau melihatku bagaimana~~~~~~~" teriak Jin berguling guling gelisah di tempat tidur miliknya. sedangkan ke enam saudaranya hanya melihat santai kakaknya seperti itu.

"Kak apa kau harus bersembunyi seperti ini"

"aku tak pernah berpacaran. mengetahui Ryul secara jauh saja membuatku senang. tapi jika kalian bertindak secepat ini bukan Ryul saja yang gila aku juga gila, Hope"

"Aku akan mengurus perpindahan sekolah kita di tempat noona. ku rasa kau senang" papar Rap Mon membuat Jin melempar keras bantal miliknya tepat pada wajah Rap Mon.

"TIDAKKKK!"

"aish sekarang kalian memiliki ciri khas yang sama" gerutu Rap Mon

"Aku tak kan pindah."

"Jadi tak mau pergi? sudah menyerah pada noona?" sahut Jimin

"bukan tak mau. tapi akuㅡ"

"aish.. dasar payah. bermain nyawa pada motormu saja bisa tapi untuk dekat dengan wanita yang tak begitu cantik seperti nona saja kau bisa ketakutan lebih dari melihat taehyung" lirik Suga yang di cekik habis habisan oleh Taehyung

"AGHH SIALAN KAU SUGA!"

"sudah laa kak. besok kita akan mengurus semuanya" akhir Jimin.

*
*
*


Laki laki itu. hmm~ aku mengenalnya. lebih mengenal profilnya. Tiap malam tak pernah jauh dari jalan menuju beberapa club dengan lain lain gadis, membawanya ke motel laluㅡ hmm.. entah laa. kau menyukai laki laki seperti itu?

Ryul teringat kalimat adik dari Jin terakhir kali.

"apa Minjung seperti itu?"

"Mwo, hari ini kau tak latihan? bukankah Ryul tadi mengatakan jika Minjung sedang ada latihan jadi dia tak bisa menghubungi Ryul, kookie ah."

"pergi? Minjung pergi? dengan teman temannya? teman sekolah? eh~ kemana? oh. aniya, aku hanya khawatir tentang mereka. katakan pada Minjung jika Ryul mencarinya. ne. gomawo kookie ah♥"

Kini Ryul mengingat kembali perbincangan telpon Byeol dengan Jungkook kekasihnya tentang Minjung.

"apa Minjung seperti itu?" kini tatapan Ryul menuju ponsel miliknya.

Hingga tak lama ponsel miliknya berdering,

dengan nomor yang tak ia ketahui Ryul tak menggubrisnya tapi selang beberapa kali yang membut telinganya bising yang ia lakukan hanya dapat mengangkatnya.

"Hallo"

"Ryul ah. ini aku Minjung."

"ah Minjung ah kenapa?"

"aku akan mengganti ganti nomor telponku. jadi aku yang terus menghubungimu. kau tak kan bisa menelponku di satu nomor"

"Kenapa?"

"ini tugas dari pelatihku yang memang harus seperti ini ku harap kau mengerti"

"ahhh~ baiklah"

"Maaf. sebagai tanda permintaan maaf malam ini datang lah ke cafe seperti biasa, aku akan menunggu mu di sana"

"Benarkah? Baiklah"

Klik~

Dan kini pupus sudah pikiran buruk Ryul yang dari tadi mempengaruhinya.

*
*
*

"ah hampir saja aku termakan omongan mereka mereka tentang Minjung" gumam Ryul yang sudah duduk di cafe seperti biasa.

Hingga pelayang yang Ryul kenal menghampirinya, "Wajah mu terlihat berbeda. apa kini kau sedang menunggu seseorang?" tanya Jiyoung sembari mengeluarkan pena dan note menunya.

"ah itu. iya aku sedang menunggu seseorang"

"kekasihmu?"

"ya"

"bukankah dia sudah duduk di sini selama setengah jam. tapi kenapa kalian masih saling tunggu" jelas Jiyoung pada Ryul yang masih membuatnya menerka nerka.

"Apa? setengah jam?" tanya Ryul sembari memutar kepalanya untuk mencari Minjung di sekitar cafe "mana?"

"oh tidak. aku hehe ku rasa aku salah maksud. sudah laa. kau ingin pesan ice mocca latte kan" angguk Ryul kemudian.

Tak lama Minjung datang menghampiri Ryul dan duduk di depannya, "Mianh aku lama ya"

"Tidak, aku saja baru datang" jawab Ryul

"ish bohong" gerutu Jiyoung yang masih berdiri melayani Ryul dengm menatap Minjung tak enak hati.

"Apa?" tanya Minjung karen pelayan satu ini mengikuti percakapan mereka. hingga membuat Jiyoung mengalihkan perbincangan menuju menu minuman yang akan di pesan.

"aku strawberry milkshake saja"

"kau tak ingin pesan ice mocca latte juga?"

"Tidak aku tak suka kopi"

"ah baiklah. setauku pasangan itu selalu memiliki selera yang sama"

"aish Jiyoung sudah buatkan saja sana" papar Ryul sembari mengusir Jiyoung yang terlalu ikut campur.

"kau mengenalnya?"

"Iya. hanya beberapa hari ini. dan kami juga baru dekat"

"aku tak menyukainya. secara penampilan identitas pelayannya dan perilakunya buruk. dia minus. ku harap kau bisa memilih teman yang bagus di lingkunganmu. kau tau ini juga akan berpengaruh pada lingkunganku juga jika nanti aku menjadi musisi kan"

"Iya baik" kini suara Ryul memelan tak di sangka Minjung memperhatikannya seperti ini hanya saja ini berbeda dari pendapatnya sendiri.

"Byeol nona bagaimana kabarnya"

"dia baik"

"ah ia beberapa hari kemarin Jungkook menanyakan ku tentang mu. jika aku tak memiliki waktu ku harap kau percaya Ryul ah. dan jangan kau buat nona dan Jungkook ikut campur masalah kita"

"Iya. aku minta maaf akan ku beritahu Kak Byeol nanti"

Hingga dua jam percakapan mereka tak terasa. Ryul menyukai moment berdua saat ini hanya saja semakin terasa berbeda Minjung tiga bulan kemarin dengan yang sekarang.

Mulai mengatur tentang kehidupan Ryul dan di Iyakan oleh Ryul. dengan maksud baik hingga detik ini .

*
*
*


Pagi ini cuaca tak mendukung karena gerimis dari pukul 6 tadi. dan Jiyeo baru saja datang dengan pakaian setenga basahnya.

"aish..sialan, baru masuk sekolah seragamku basah kuyup. sampai jam pelajaran terakhir aku bisa terserang deman jika begini"

Ryul hanya dapat melirik Jiyeo dan menangkupkan kedua tangannya dan menyembunyikan wajahnya dalam dalam.

"ya ada apa denganmu?"

Ryul menggeleng.

"bertengkar dengan Minjung lagi?"

Ryul menggeleng.

"lalu?"

Tak sempat lebih dalam Jiyeo mengintrogasi Ryul bel jam pertama berbunyi dan membuat anak anak bersemburat ke meja mereka masing masing.

Tap...

Tap...

Tap...

Miss Lim datang dengan beberapa buku yang ia tangkupkan ke dadanya. semua anak laki laki bersemangat tentang datangnya Miss Lim, guru favorit sastra di sekolah mereka. sedangkan Ryul yang masih setia menenggelamkan wajahnya pada ke dua tangannya.

Bising semua anak laki laki membuat Miss Lim mengetuk ngetuk papan di belakangnya,

"Hey hey hey diam semua.. akan ku perkenalkan siswa baru"

Seorang laki laki datang dan membuat semua kau hawa terperangah begitu juga Jiyeo.

"perkenalkan namamu"

"Selamat pagi, aku Kim Seokjin. aku pindahan dari sekolah S, mohon bantuannya" bungkuk Jin dan kali ini ia memilih bangku kelasnya dan rupa rupanya ia memilih duduk di samping calon istrinya yang sedari tadi tak sadar tentang kedatangannya.

"Baiklah kau duduk di sanㅡ YAAAA PARK RYUL LEU AH!!!!!!!BAGAIMANA KAU BISA TIDUR SEPERTI INI DI JAM PERTAMA" Miss Lim melayangkan buku beratnya pada Ryul dan mengenainya.

BLETAK

"aaaaaghhhhhhhhhh~~~songsaenim aaakuu tak tiiiiㅡKYYYAAAA APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI ORANG GILAAAA" pekik Ryul yang mendapati Jin duduk tenang dan tersenyum padanya seakan dia benar benar tertiban mimpin buruk.

Dan hasil dari semua perbincangan Ryul di keluarkan dari kelas sastra.
-___________-

'bagaimana hidupku bisa seburuk ini'


*

jam ketiga terlewati. kini mulainya jam istirahat. semua anak perempuan masih di dalam meliputi Jin. hingga Minjung datang ke kelas Ryul di ikuti saudara saudara gila Jin di belakangnya. Ryul yang menyadari itu kini berlari menghampiri Minjung dan membawanya pergi menuju kantin.

'awas kalian jika mengikutiku' warning Ryul saat mendapat celah menegok ke enam laki laki di belakangnya.

"agr aku bisa gila"

"apa yang gila memang?"

"ah ah bukan apa apa hihi..tapi jarang kau menghampiriku dulu ada perlu apa?"

"Ryul ah nanti bisa kau menyempatkan diri untuk mengerjalan soal sejarahku. aku ada urusan dengan managerku jadi"

"Iya tak apa akan ku kerjakan"

"Benarkah?" Ryul mengangguk pasti membuat Minjung melayangkan senyumnya yang membuat Ryul pingsan setegah mati.

TO BE CONTINUE

Sumber : wattpad/rlp_coffestrow77

No comments

Powered by Blogger.