Just One Day Pt.2

spjm on Twitter: "[SCAN] MAP OF THE SOUL PERSONA Version 03… " | Bts  concept photo, Bts group, Bts wallpaper

Perpustakaan sepi kecuali beberapa anak anak pintar yang masih bergeliat dengan buku bukunya di sana. Ryul memang tergolong pintar di sekolah, menjadi sepertinya yang tak terlalu serius tentang pelajaran memang sebuah anugrah. tapi bukan ini yang menjadi kekhawatiran Ryul saat ini.

"ku harap mereka tak mengikutiku" gumam Ryul yang membuat laki laki di sebelahnya menarik kerah seragamnya,

"maksudmu kami?" papar Jin membuat Ryul terjatuh dari bangkunya, Jin yang mengetahui calonnya jatuh karenanya ia mulai membantunya berdiri tapi di tepis Ryul.

"YAAA BAGㅡaimana kaliannnnnn..."


"kau pikir bisa lari dari kami" jelas Rap Mon dan saudara lain yang duduk di bangku bangku sekitar Ryul

"kami tau dari Jiyeo, dia memberitahuku tentang keberadaanmu di sini" papar Taehyung dan satu dari mereka berdiri mengambil satu buku perpustakan di meja Ryul

"Kau mengerjakan ini? Minjung. hah~ kau mengerjakan pekerjaan laki laki keparat itu" kata Suga

"Ya diam. jaga omonganmu"

"kau masih tak percaya tentang penjelasan kita"

"mana mungkin. kemarin aku bersamanya. hubungan kita baik sampai sekarang. kalian hanya parasit yang datang ke kehidupanku. dan kau Jin ah. bisakah kau mengatur budak budakmu"

Kini Jimin tak tahan dengan perkataan Ryul yang sudah hampir menamparnya tapi tertahan oleh kakaknya sendiri.

"Jimin ah stop!"

"Kak tapi dia sudah keterlaluan"

"mungkin aku dan adik adikku salah mengikutimu seperti ini. memaksamu menyukaiku menunjukan jika aku yang terbaik. dan dianggap parasit oleh mu. tapi satu yang ku tahu, kau wanita terbodoh yang pernah ku temui yang masih menyukai laki laki itu. Dia Minjung, tak lebih dari kecoa jalanan. aku tak bisa pergi, tapi aku bisa menjauh darimu. maaf untuk semuanya" papar Jin keluar di ikuti semua saudaranya.

"nona, pergilah ke club 78 dia ada di sana jika kau tak percaya pada kami" jelas J-hope sendu dan di liputi perasaan kecewa melihat Ryul.

*
*
*

Ryul mulai terasa sedikit terbebas dari laki laki gila itu. sekalipun dari jarah tiga meter lebih dia masih melihat jika mereka memantau Ryul.

"aghh... bagaimana aku bisa hidup seperti ini"

Tak lama telpon berdiring dari kakaknya sendiri,

Hallo kak,

Ryul putuslah dengan Minjung.

Kak apa kau makan biji salak ya. ini tak lucu

aish dengarkan aku baik baik. kemarin aku dan Jungkook melihatnya masuk motel dengan beberapa gadis

 

Kak kau ngelantur? sudah laa. jangan ikut campur tentang aku dan Minjung

Ryul ah sudah ku katakan jikㅡ

Tutt...

Tuutt...

Ttuuut ..

Sambungan telpon terputus, raut muka Ryul terasa kesal. teramat kesal. hari ini ia ingin menemui Minjung tapi bagaimana bisa jika Minjung tak masuk sekolah dengan ijin jadwalnya. untuk nomor telpon yang harus ia hubungi saja tak ada. dia benar benar frustasi sekarang.

*
*
*

Dengan pakaian sekedarnya pukul 10.00 malam Ryul pergi dari rumah. tak menghiraukan ijin dari Kakaknya atau tidak. ia menuju Club yang di bilang oleh J-hope dan membuktikan jika semua tuduhan pada Minjung itu salah.

Sekitar satu jam perjalanan kini Ryul sudah di depan Club malam itu. hatinya ketakutan untuk masuk ke dalam. langkahnya masih terhenti, tangannya keringat dingin dengan hal bodoh yang ia lakukan.

"berdiri di sana tak tak membuahkan hasil, ayo masuk" seorang laki laki di belakang Ryul mulai menampakkan diri di sampingnya

"Jin"

"Byeol nona menelponku jika kau pergi dari rumah semalam ini. aku pikir kau di cafe saat aku tanya pada Jiyoung dia tak melihatmu sama sekali hingga aku menelpon Jiyeo aku nihil mendapatkanmu, dan ku ingat kalimat J-hope yang memberitahumu tentang Club malam ini" pandangan Jin lurus menatap pamflet club yang berkelap kelip menyinari wajahnya, kini tangan yang sedari tadi ia masukkan ke dalam kantong jaketnya ia keluarkan dan menggandeng tangan Ryul.

"kauu.. bagaimana bisㅡ"

"sudah laa. ayo masuk. jika kau masuk sendiri para petugas di depanmu itu tak kan mengijinkan mu. aku sudah pernah kesini dan sangat mudah untukku masuk. aku bisa menjadi akes masukmu"

"kau..."

"kau ingin memastikan Minjung kan"

Kini Ryul terdiam, tak di sadarinya jika Jin terlalu mengetahui hal pribadinya sedalam ini. Ryul terkesima dengan laki laki di sampingnya.

Kini mereka masuk tanpa halangan. mata mereka mengelilingi ruangan yang hampir 75% gelap dengan ciri khas club malamnya. dentuman suara DJ yang memainkan musik dan semburat orang orang menari nari tanpa sungkan dengan pakaian mereka, beberapa wanita juga sedang pool dance di tiang tiang membuat laki laki menyemprotkan beberapa wisky agar terlihat semakin panas. bau rokok menyengat membuat Ryul terbatuk batuk. Jin tak melepas genggaman tangan Ryul yang sedari tadi menggiringnya masuk berjalan. Dia yang mengetahui Ryul susah bernafas membuat tangan kanannya mengeluarkan masker dan menutup setengah wajah Ryul,

"aku tau kau pasti seperti ini" senyum Jin sekilas terlihat saat cahaya memantul pada wajahnya. Membuat Ryul semakin sungkan hati tentang perilakunya kemarin.

Hingga tak lama Jin berpaling menghadang pandangan Ryul dan menatapnya,

"aku sudah menemukannya. dia di sini. apa kau masih ingin melihatnya" tanya Jin tak tega pada Ryul sedangkan Ryul mengangguk pasti.

beberapa gadis menyelimuti Minjung, Bir bir yang lebih dari satu mengisi meja bundar di tempatnya. rokok rokok berserakan kemana mana, laki laki lain yang tak di kenal Ryul juga turut serta menikmati pesta ini. hingga pandangan Ryul tertuju pada gadis yang ia kenal, Lee Haneul teman sekelas Minjung juga berada di tempat yang sama.

Ryul menarik pergelangan Jin untuk ikut membaur dan duduk di sekeliling mereka. Jin yang sebenarnya tega ingin membawa Ryul keluar tapi tak bisa, jika Ryul ingin melihat sampai habis apa yang mereka lakukan.

Tempat duduk Ryul berada di pojokan dengan Jin kursi mereka berbentuk melengkung hingga jelas satu persatu kegiatan apa yang mereka lakukan. Ryul semakin memegang erat telapak Jin mendapati Minjung melayangkan ciuman pada dua pasang gadis yang mengisi sisi sisinya.

"ayo kita pulang" pinta Jin di tolak mentah Ryul, air matanya sudah membasahi masker yang ia kenakan, Jin melihatnya kini tak tega dan hanya dapat meneguk wisky di depannya.

Tiga jam mereka di sana, sampai Minjung berdiri dan memutusnya untuk pergi dengan salah satu gadisnya. Ryul mengikuti Minjung yang sedang berjalan sempoyongan.

"kau mau kemana lagi?" tanya Jin yang kini mereka sudah keluar dari Club itu.

"kau tak lihat jika ia masih berjalan dengan wanita lain. aku ingin tau yang sebenarnya" isak Ryul tak terbendung.

"Ryul jangan paksa batinmu ayo pulang"

"kau sendiri mengatakan jika aku wanita paling bodoh yang kau kenal kan. biarkan aku melihat semua. aku tak butuh kau di sampingku. pergilah...pergi!!!"

Jin pun menggengam kembali pergelangan tangan Ryul dan melanjutkan perjalanan mereka.

30 menit mereka sampai di motel, Minjung memasukinya dengan gadis itu. Ryul masih ingin berjalan mengetahuinya tapi di tahan Jin.

"ayooo jalan aku masih ingin tau"

"cukup Ryul"

"Tidak. aku ingin tau apa yang mereka lakukan"

"RYUL!!!! sadarlah jika semua memang seperti ini"

"mungkin wanita itu hanya mengantㅡ"

"mengantar Minjung. kau gila. setelah apa yang kau lihat di club kau masih mencoba berfikir jernih"

"apa aku yang salah. apa aku yang membuatnya bosan hiks~ hiks~ aku mempercayainya.. setiap kalimatnya yang menyuruhku untuk ini itu semua ku anggap adalah perhatiannya. lalu melihatnya sendiri seperti ini dan orang luar yang memberitahuku terlebih dahulu membuatku semakin sakit" kini Ryul tak bisa menopang kakinya, Jin pun memeluk Ryul erat menyumpah serapah pada Minjung yang akan ia lakukan nanti.

*
*
*

Ryul duduk di bangku taman dengan Jimin dan J-hope bercanda mengisi waktu istirahat dengan mereka.

Hingga tak lama, Minjung datang "Ryul ah, kenapa tak mengangkat telponmu" kini pandangannya beralih pada dua laki laki di samping Ryul, " siapa mereka?"

"mungkin aku tak mendengarnya"

"Oh begitu. kalau begitu ayo makan di kantin dengan ku"

"apa kau tak lihat jika kami sedang bermain huh!" protes Jimin

"bermainlah dengan teman laki lakimu. Ryul, tak pantas bermain dengan kalian"

"ish kurang ajar"

"Minjung ah. aku tak lapar, pergilah sendiri"

"Apa? sejak kapan kau menolak ajakanku?! apa kau sakit Ryul ah"

"sudah laa aku tak ingin pergi"

"Baiklah tapi untuk tugas waktu itu apa sudah selesai"

"..."

"Iya baiklah. akan ku minta nanti"

Ryul kini duduk kembali, sedangkan J-hope menenangkan Ryul dengan menepuk pundaknya. tak lama Jin dan beberapa yang lain datang berpapasan dengan Minjung.

"ini roti isinya, dan susu" Jin memberikannya pada Ryul

"Apa yang di lakukan laki laki brengsek itu?" tanya Suga.

"Ryul nona mengusirnya mentah mentah saat Minjung mengajaknya makan di kantin" jelas Jimin

"Woah... keren, benarkah nona?" tanya Rap mon

"sudah aku pergi dulu" tutup Ryul dengan seutas kalimat yang membuat Jin menatapnya khawatir.

"apa aku salah bicara?"

"MAKANYA JANGAN BERMULUT EMBER KAU JIMIN AH" omel Taehyung.

*

"ada apa denganmu? kenapa mengajak ku ke tempat seperti ini" tanya Minjung yang memang melihat Ryul tak seperti biasanya.

"aku minta jangan mendekatiku lagi. memberi kabar atau menelponku"

"Heh.."

"Minjung, kita putus" jelas Ryul tak ingin mengulur waktu, dengan angin sepoi menerbangkan rambut panjangnya.

"Apa!!? putus. kau bercanda ya?"

"terima kasih" Ryul beranjak pergi hanya saja tangannya tertahan Minjung yang menginginkan penjelasan lebih.

"kenapa? bagaimana bisa. apa aku melakukan kesalahan. Ryul ah kita bisa bicara baik baik kan."

"tak perlu aku jelaskan kan. lagipula hal seperti ini pasti terjadi"

"apa kau tak mencintaiku lagi? Ryul" tarik Minjung membuat Ryul menatapnya.

"cinta. terlalu sia sia aku memberikannya untukmu bukan."

"Heh? apa karna laki laki itu, sejak kau mengenal mereka sikap dan perilakumu berubah. kau jauh dariku. sudah ku bilang pilih lah teman yang sederajat dengamu"

"kau masih yakin menyalahkan orang lain saat kau salah, Jung ah." kini air mata Ryul mengalir membuat Minjung menghapusnya

"katakan padaku jika aku melakukan kesalahan. maaf jika aku jarang mengabarimu. Ryul ah aku mencintaimu" kini Minjung memeluk Ryul erat, membuat Jin yang mendengar sekaligus melihat mereka ingin menghajar Minjung. hanya saja langkahnya terhenti dengan tangan Taehyung yang menemaninya.

"Tidak. aku tetap pada perkataanku" kini Ryul mundur dan menolak ajakan Minjung

"Ryul apa kau menyukai orang lain"

"jangan mencari alasan saat kau tau siapa yang lebih setia. aku pergi."

*

"nona mau ikut makan dengan kita?" ajak Jimin merengkuh Ryul yang ikut jalan pulang bersama yang lainnya, tak lama Taehyung menarik Jimin dan Suga menaruh pergelangan tangan Jin untuk merengkuh pundak Ryul.

"seharusnya seperti ini" kalimat Suga yang membuat keduanya salah tingkah.

"ya, pulanglah. bukannya arah kalian tidak ke sini" Ryul segera menghindar dari Jin.

"kami akan pulang setelah kau sampai rumah" papar Rap Mon

"Siapa yang menyuruh kalian begitu" J-hope menunjuk jelas Jin yang tepat di sampingnya. Ryul berhenti dan mengatakan jika tak perlu seperti ini menjaganya, "bukan berarti saat aku putus menjadi kesempatan besar untuk mu dan kalian yang seenaknya memanggilku kakak ipar"

"aku baik baik saja" hingga tak lama sebuah motor melesat cepat yang sengaja ingin menabrak Ryul hanya saja kesempatan itu meleset saat Jin dengan sigap menangkap dan merengkuh Ryul.

Semua mencaci maki motor itu, beberapa dari mereka mengatakan jika itu di sengaja membuat Jin yakin hal buruk akan terjadi, "kau baik baik saja kan?" Ryul mengangguk.

*
*
*

Jin berdiri bersandar pada pagar rumah Ryul, menunggunya untuk berangkat bersama.

Ryul pun keluar dari rumahnya, mendapati ajakan Jin, Ryul pun menolak dan ingin berangkat sendiri. hanya saja Jin memaksa Ryul yang membuatnya terpaksa mengikuti pinta Jin.

Mereka pun berangkat bersama dengan motor Jin. menyusuri jalanan yang bukan jalan menuju sekolah Ryul mengetuk helm Jin, "ya~ kita mau kemana?"

"untuk hari ini saja kita bolos"

"kau memang berencana menculikku ya"

"hehehee... sudah laa kau tak kan rugi."

Dua jam lebih akhirnya mereka menuju pesisir pantai di daerah Ulsan. Motor Jin ditinggalkan begitu saja di jalanan. sedangkan Ryul dan Jin sudah berjalan menuju bibir pantai.

"apa kau suka"

"hmm. sudah lama tak ke pantai" dengan memegang ke dua sepatunya yang ia lepas lalu duduk menatap pantai.

"tapi untuk apa membawaku ke sini?"

"menginggatmu mengatakan putus, aku pikir itu hanya kalimat konyolmu karena marah. tapi saat Minjung meyakinkanmu jika ia menyukaimu aku semakin ragu jika kau benar benar menjauhinya. tapiㅡ saat kau yakin dan pergi aku tak pernah menyangka itu" papar Jin yang membuat Ryul menatap Jin lalu kembali menatap pantai.

"aku benar benar menyukainya. entah sebisa itu aku tak percaya pada orang lain bahkan orang di dekatku. tapi saat kau menemaniku masuk ke club waktu itu, aku semakin yakin jika Minjung memang bukan untukku. hingga hatiku benar benar terluka karena nya. tapi sejujurnya aku tak bisa melepasnya"

Jin kini menatap Ryul, "apa yang kau suka darinya"

"suka. semua. ramahnya, cerianya. terkadang membuatku menangis hanya dengan sikapnya yang acuh tapi aku tau hanya itu caranya yang akan mengetahui ku semakin dalam. saat dulu susah susahnya ia masuk pelatihan aku selalu di sampingnya, berada di dekatnya. menjadi orang yang di butuhkan benar benar menyenangkan. tapi semua berubah sejak dia di calonkan menjadi peserta tranning dengan tingkat ke dua"

"ku rasa aku yang berbanding terbalik darinya." Ryul kini yang menatap Jin hingga mata mereka saling bertautan.

"menjadi seseorang yang di benci, tak di sukai, mencoba membuatmu nyaman di tempatku lalu menjadi seseorang yang seakan kau butuhkan yang nyatanya tidak. aku benar benar jauh darinya"

"ku rasa saatnya untuk pergi. dengan kalimatmu barusan aku sadar jika memang tak ada tempat untukku sekalipun sedikit"

Ryul menengadah menjelaskan pada angin dan membiarkan telinga Jin mendengar dengan jelas, "entah laa.. hanya saat kau menggangguku itu membuatku semakin nyaman. saat aku menyuruhmu pergi kau semakin dekat. saat aku membencimu kau semakin bertingkah. saat aku ingin sendiri kau menemaniku. sekalipun adik adikmu selalu menggangguku dengan kalimat kakak ipar mereka, semakin lama aku merasa nyaman dan menyukainya. apa akkㅡ" belum sempat Ryul menghabisi kalimatnya Jin melayangkan kecupan singkat di bibir Ryul yang membaut Ryul kaget dan menatap Jin,

"aku tak kan bisa melakukan sebuah janji yang akan membahagiakan mu. tapi aku berusaha untuk itu, Ryul" papar Jin kini Ryul yang memulai mengecup bibir Jin dan semakin menaut.

*
*
*

"APA KALIAN. HYAHHHHHHHH~~~~ sudah ku bilang Nona dan Kakak ku pasti akan menjalin ehemmm ehem" papar Jimin antusias melihat Ryul dan Jin duduk di bangku taman sekolah.

"sebenarnya itu~~~"

"yaa~ ryul ah kau tak mengatakan apa apa padaku sekarang bisa begini jadinya wooooah~ kalian" papar Jiyeo membuatnya terperangah.

"sudah laa yang penting cita cita kalian menjadikan Ryul kakak ipar sudah terpenuhi" jelas Jin bangga membuat Ryul menepuk keras kepalanya, "menjadi yang seperti itu masih sangat jauh, bodoh!!! kau gila dengan umur 17 tahun lalu mengatakan kakak ipar, bukankah bla bla bla bla"

"jika pertengkaran ini terjadi 5 tahun kedepan aku yakin kak jin susah punya anak" jelas Jimin di ikuti Taehyung.

"sudah laa. melihat mereka sukses seperti ini tugas kita selesai. biar kak jin mulai maju sendiri."

"aku rindu main motor. nanti malam bagaimana jika ke tempat biasa kak?" tanya suga pada Rap mon yang di iyakan Rap mon.

"apa kak jin di ajak?" tanya J-hope menatap kebelakang yang masih setia dengan pertengkaran mereka.

"anggap saja hari ini kita tak memiliki kakak dan bebas untuk nanti malam" celetuk Rap mon.

Yang membuat lainnya menjadi salah tempat dan mulai berserakan entah kemana.

*
*
*

secangkir Ice mocca latte kini menemani Ryul sendiri menunggu Jin di cafe biasa.

Jiyoung duduk di depan Ryul memyempatkan diri untuk sekedar mengobrol saat sepi pelanggan.

"kau menunggu seseorang lagi?"

"Jiyoung? ah iya"

"mmm~ apa laki laki kemarin"

"Bukan. ini beda"

"ah baguslah"

"Heh?"

"sebenarnya aku ingin memberitahumu tentang pacarmu. hanya saja saat wajahmu tersirat bahagia aku memurungkan semua." Ryul menunggu kalimat Jiyoung selanjutnya,

"dia sering datang dengan gadis gadis lain. dengan pakaian seronok mereka. di jam jam malam dia selalu datang. saat kau beberapa kali kesini seakan menunggu seseorang ku fikir bukan dia yang akan kau tunggu. tapi saat dia di hadapanmu. sikapnya benar benar berubah dari laki laki nakal. dengan pakaianmu yang rapi aku sudah menduga semuanya jika kau kekasih aslinya. dia hanya menjaga reputasinya di depanmu yang nyatanya teramat buruk. aku benar benar kecewa. tapi saat seorang laki laki tinggi memperhatikanmu dari jauh sekalipun dia tak duduk di depanmu dia terlihat sangat mengetahuimu"

"Laki laki?"

"huum. tau jam kau datang dan pergi. memesan minuman kesukaanmu yang juga di minumnya. benar benar membuatku cemburu. apa kau tak tau dia?"

"eeeeee.... tidak. haha.. lagi pula beberapa waktu lalu memang banyak laki laki aneh mengikutiku. tapi bagaimana tampangnya?"

"diaㅡ" tak sempat Jiyoung melanjutkan kalimatnya Minjung datang menarik Ryul keluar cafe, dan meronta ronta.

"Minjung ahhh sakit!!!!"

"aku ingin bicara denganmu"

"Tidak aku tak mau. semua sudah berakhir"

"Ryul ah kembalilah padaku"

"kau gila. Tidak mau!"

"yaaa lepaskan Kak Ryul" bela Jiyoung yang mencoba melepaskan cengkraman Minjung tapi di telak oleh Minjung dan berhasil membuat Jiyoung terjatuh.

Di seretnya Ryul keluar dan berjalan terus lurus.

"Kakkkkk"

Keadaan sangat kacau. Jiyoung tak tau harus berbuat apa. hingga tak lama Jin datang berlari menghampiri Jiyoung yang masih terduduk, panik.

"Jiyoung ah kau baik baik saja???"

"Kak Ryul,Kak.."

Kini Jiyoung melanjutkan kalimatnya, "Minjung membawanya"

Jin pun segera berlari mengikuti petunjuk arah Jiyoung.

Dari sisi lain Ryul masih di tarik paksa oleh Minjung menuju sungai Han yang di hari itu memang cukup sepi.

"Ryul kembalilah padaku"

"Tidak"

"Kau berani mengatakan itu saat orang lain sudah di sisimu huh! Kau melupakanku huh! kau tak lebih dari penghianat"

"kau katakan aku penghianat saat kau pergi ke club malam dan berakhir pada gadis gadismu sampai pagi di suatu tempat. siapa penghianat sebenarnya"

Minjung terkejut dengan pernyataan Ryul yang sudah di ketahuinya.

"jadi kau sudah tau" kini Minjung menarik kerah Ryul dan di hadapkannya Ryul pada bibir sungai dengan sedikit condong. Ryul meronta ronta takut jika Minjung melakukan aksi nekat.

"MINJUNG AHHHH DASAR BRENGSEK. APA YANG KAU LAKUKAN!!!!" teriak Jin sekitar beberapa meter dari tempat Minjung berada.

Minjung kembali melayang senyum gilanya dan masih memainkan Ryul di bibir sungai.

"kau~ apa yang kau lakukan di sini. menyelamatkannya? ouhhh~ bukankah kalian terlihat sangat romantis. seharusnya wanita ini berada di rumah sakit jika kau tak menolongnya waktu itu"

"jadi kau yang..."

"terkejut kah!!!?"

Jin semakin geram melihat perilaku Minjung yang sebenarnya.

"kau tau kenapa aku membencinya. aku adalah orang nomor satu tak pernah mendapat penolakan. membuatnya menjadi kekasihku sekaligus bonus menjadi budak ku dalam pelajaran ku sendiri yang sangat tertinggal jauh karena pekerjaan, diaㅡ menjadi jalur alternatif. semua nilaiku sempurna karenanya. hingga kau datang dan mengacaukan segalanya. kini sekolah menSkors ku untuk pertama kalinya karena nilaiku. hingga pekerjaan yang kini ku banggakan menolakku karena nilai sekolahku yang teramat buruk. DIA (menatap Ryul) harus menebus segalanya" papar semua keburukan Minjung yang semakin membuat Ryul menagis meratapi sebenarnya dan ia dengar sendiri dari Minjung.

"tukar dia denganku. aku yang mengacaukan segalanya bukan"

"tentu kau juga. tapi, akan ku beresi... dia ㅡdulu" Minjung kini melepas kerah Ryul dan membuatnya terpelanting jatuh masuk ke dalam sungai Han.

*
*
*

1 Minggu sudah, Ryul berada di rumah sakit. dua hari kemarin keadaannya semakin membaik dan kini ia mulai sadarkan diri. Byeol, Jiyeo, Yin, Jiyoung dan beberapa adik adik Jin berada di ruang Ryul.

Matanya mulai terbuka mencari celah fokus pada pandanganya yang sedikit kabur. beberapa wajah blur kini semakin lama semakin terlihat. Ryul hanya menyapa semuanya dengan senyum begitu dengan mereka karena kelegaan jika Ryul sudah sadarkan diri.

"Ryul ah" Byeol tak bisa membendung lagi tentang kerinduan saudaranya dengan sebuah pelukan hangat.

"Minjung" suara paraunya terdengar oleh semua orang. sedangkan Jimin menjawab jika Minjung sudah di penjara tentang perbuatan kriminalnya. Kini pertanyaanya beralih pada Jin yang di jawab oleh J-hope jika dia sedang rehat di rumah.

"sudah kau istirahat laa. jika butuh apa apa kami diluar" ingat Byeol pada Ryul sembari keluar dari kamar.

*
*
*

Sepoi angin di bulan September tepat di pantai Ulsan yang pertama kali mereka singgahi kini Ryul kembali lagi, dengan keadaan yang berbeda.

Ryul menyusuri jalan dan membawanya ke bibir pantai.

"Aku merindukanmu Jin~"

Sore hari yang membawa matahari semakin terlelap tidur bersembunyi di balik selimut pantai, mengindahkan warna orangenya.

"saat Jimin mengatakan jika kau pergi karenaku. aku tak pernah peduli dengan nyawaku kembali. Hmm~ Jimin dan yang lainnya menyalahkan ku atas kematianmu. tapi Taehyung mengerti jika garis kematian seseorang tak bisa di ubah atau menyalahkan siapapun."

"apa kau bisa menjemputku Jin"

Bulir air mata kini mengalir pelan mengucur di pipi Ryul.

"suga mengatakan padaku jika kau akan menungguku di sana dan tak kan berhenti.

Hiks...

Hiks..

Hiks...

ku harap perkataannya benar"

"Jin. Jika tuhan mengijinkanku kembali pada hari itu. jika semua bisa berjalan dengan indah. ku harap tuhan mendengarnya"

"Berikan aku satu hari untuk memutar semua."

The End



Sumber : wattpad/rlp_coffeestrow77

No comments

Powered by Blogger.