Keunikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Dijaga 'Pasukan' Kera Setiap Hari

Masjid Saka Tunggal. (Foto: Instagram masjid_sakatunggal)


MASJID Saka Tunggal Baitussalam, atau yang lebih dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal adalah masjid bersejarah di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Disebut bersejarah, karena memang masjid ini sudah berdiri sejak 1288 dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya loh.

Masjid ini terletak di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas. Hingga kini masjid masih berdiri megah dan digunakan sebagai tempat ibadah.

Banyak warga sekitar maupun wisatawan yang datang menikmati suasana masjid sambil beribadah. Nah, Anda juga perlu tahu beberapa fakta menarik masjid Saka Tunggal lebih lanjut, yang dikutip Okezone dari berbagai sumber.

Dibangun sebelum era Wali Songo

 masjid

Masjid berukuran 12 x 18 meter ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal) yang berada di tengah bangunan utama masjid. Dikutip dari dunia masjid islamic center, saka masjid memiliki empat sayap ditengah yang akan nampak seperti sebuah totem. Bagian bawah sayap dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan tahun pendirian masjid tersebut.

Menariknya, masjid ini adalah satu satunya masjid di pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yang hidup sekitar abad 15-16 Masehi. Karena masjid ini didirikan 2 abad sebelum Wali Songo, menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai Masjid Tertua di Indonesia.

Arsitektur “papat kiblat lima pancer”

Salah satu keunikan masjid ini adalah pada arsitekturnya yaitu empat helai sayap yang menempel di kayu di tengah saka. Empat sayap tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”. Berarti manusia sebagai pancer atau tiang yang dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.

“Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia,” tulis laman Dunia Masjid Islamic Center.

“Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. Hidup harus seimbang.”

 

Tradisi unik masjid

 

Setiap menjelang dan setelah sholat Jumat, Jamaah masjid Saka Tunggal akan melaksanakan tradisi ura-ura yaitu berdzikir dan bersholawat dengan nada seperti melantunkan kidung Jawa. Uniknya, bahasa yang digunakan adalah campuran Arab dan Jawa. Khutbah Jumatnya pun disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung. Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur.

Masjid ini memiliki empat orang muazin yang berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan azan secara bersamaan.

Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara adzan yang dilantunkan oleh empat muadzin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu.

Ritual Ganti Jaro

Di masjid ini terdapat ritual yang sering dilakukan oleh seluruh warga desa Cikakak yaitu Ritual Jaro Rajapine. Ritual ini adalah mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal yang digelar pada bulan Rajab. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati.

Warga dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Karena melibatkan ratusan warga, pagar sepanjang 300 meter ini bisa diselesaikan hanya dalam waktu 2 jam.

Tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini adalah untuk memupuk kebersamaan dan dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Ritual ganti Jaro ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng yang kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah.

Cara menuju ke masjid

Dari Jalan Raya Wangon-Ajibarang, Banyumas, lokasi masjid masuk ke jalan desa sekitar dua kilometer. Jarak dari Kota Purwokerto sekitar 35 kilometer ke arah barat. Setelah itu pengunjung cukup mengikuti papan petunjuk jalan yang cukup jelas di sepanjang Jalan Wangon Raya.

Pengunjung akan dibawa masuk melalui jalan yang tidak terlalu besar dengan kanan kirinya rumah penduduk desa dikelilingi pepohonan yang sejuk.

Untuk masuk ke masjid, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp5.000. Setelah itu, pengunjung bebas untuk menikmati wisata Masjid Saka Tunggal dan taman kera yang berada di sekitar lokasi Masjid Saka Tunggal.

Kera-kera yang berada di sekitar masjid ini jumlahnya sangat banyak, bahkan bisa mencapai ratusan. Tak perlu takut, kera-kera ini ramah kepada pengunjung, kok.


Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.