Kho Ping Hoo, Penulis Cersil yang Tak Bisa Bahasa Tionghoa



Kho Ping Hoo, dengan ratusan judul dengan ribuan jilid yang telah dicetak, menjadi sumber bacaan banyak orang pada zamannya. (Arsip Pribadi)

Alkisah, Sin Liong si 'Anak Ajaib' karena kecakapannya mengobati orang kedatangan sosok laki-laki setengah tua bertubuh tinggi besar. Di punggungnya, tergantung golok. Ia jalan terpincang-pincang dengan paha yang terluka hebat, membengkak dan hitam.

Laki-laki paruh baya itu bernama Sin Hek Huow yang kerap dipanggil Lo-enghiong alias "orang tua gagah". Ia memohon bantuan kepada Sin Liong untuk mengobati lukanya. Sin Liong sebenarnya tak suka dengan orang kang-ouw yang kasar dan selalu membawa senjata. Tapi Sin Liong toh tetap saja membantu mereka.

Sin Hek Huow merintih hebat kala Sin Liong mengobatinya dengan ramuan racikannya sendiri. Usai pengobatan diberikan dan Lo-enghiong mulai membaik, ia mengucapkan terima kasih sekaligus peringatan kepada si anak ajaib. Sin Liong diincar oleh dua orang jahat.

"Di dunia kang-ouw, banyak terdapat golongan sesat, manusia-manusia iblis termasuk orang seperti aku. Akan tetapi dibandingkan dua orang kumaksudkan itu, mereka adalah dua ekor harimau buas sedangkan orang seperti aku hanyalah tikus! Yang seorang adalah kakek berpakaian pengemis, kelihatan seperti orang miskin yang alim, namun dialah iblis nomor satu, kakek Pat-Jiu Kai-pang, seorang yang memiliki rumah seperti istana dan wajahnya yang biasa dan alim menyembunyikan watak yang kejamnya melebihi iblis sendiri!"

"Hemm, kurasa seorang kakek seperti dia tidak membutuhkan seorang anak kecil seperti aku. Aku tidak khawatir dia akan menggangguku, Lo-enghiong!"

"Tidak aneh kalau kau berpendapat demikian, karena kau seorang anak ajaib yang berhati dan berpikiran polos dan murni..."

Kho Ping Hoo, dengan ratusan judul dengan ribuan jilid yang telah dicetak, menjadi sumber bacaan banyak orang pada zamannya. (Arsip Pribadi)

Ringkasan penggalan kisah Bu Kek Siansu (1973) di atas adalah cara Kho Ping Hoo mengisahkan cerita silat (cersil) yang membuat dirinya menjadi salah seorang legenda dalam dunia sastra Indonesia.

Kho Ping Hoo, dengan ratusan judul dengan ribuan jilid yang telah dicetak, menjadi sumber bacaan banyak orang pada zamannya, mulai dari sekadar hiburan hingga kuliah kehidupan karena kisahnya yang sarat akan filosofi.

"Buku filsafat," kata Tina Asmaraman, anak keempat dari mendiang Kho Ping Hoo kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu, membahas sumber referensi penulis peranakan asal Jawa Tengah itu.

"Buku-buku, novel-novel, cerita silat, majalah-majalah, majalah luar negeri juga. Buku agama juga dibaca, Alkitab, buku Budha. Papa memang ingin tahu," kenangnya.

"Terakhir itu, buku dari [Jiddu] Krishnamurti. [Kalau] bicara ke anak-anaknya, pasti ada Krishnamurti. Kami kan masih muda [kala itu], kami enggak suka filsafat," lanjut Tina merujuk karya Jiddu Krishnamurti, seorang filsuf juga penulis asal India.

Namun makna kehidupan yang dituangkan Kho Ping Hoo dalam kisahnya bukan hanya dipengaruhi pemikiran orang lain, melainkan juga buah dari kerasnya kehidupan yang ia lalui sebelum terkenal sebagai penulis.

Lahir pada 1926 di Sragen, Jawa Tengah, Kho Ping Hoo tumbuh menjadi anak yang pintar dan serba ingin tahu. Ia bahkan menjadi salah satu anak paling cerdas di sekolahnya. Sayang, kondisi ekonomi yang sulit membuatnya tak bisa melanjutkan sekolah.

Tercatat, Kho Ping Hoo hanya mampu sekolah hingga tingkat 1 MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setara dengan SMP Kelas 1 di HIS Zendings School. Meski begitu, sistem sekolah sejak era 1930-an yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar ini membuat Kho Ping Hoo mampu berbahasa Belanda dan Inggris.

Tina mengisahkan, seorang guru sempat membiayai sekolah Kho Ping Hoo muda kala anak pandai itu terancam putus sekolah. Namun anak pedagang itu tetap tak bisa melanjutkan ke tingkat selanjutnya karena tidak ikut ujian lantaran sang guru juga tak sanggup membiayai.

Selain itu, kondisi ayahnya, Kho Kian Po, juga sedang tak baik. Kho Kian Po sakit-sakitan di usia Kho Ping Hoo tengah asyik menimba ilmu. Konon, Kho Kian Po stres akibat merasa bersalah karena orang yang ia beri rekomendasi ke seorang sinshe bukannya sembuh malah meninggal.

Posisi Kho Ping Hoo sebagai putra dan anak pertama membuat dirinya, mau tidak mau, menjadi kepala keluarga. Ia harus mencari nafkah dan mengayomi 10 adiknya. Beruntung, pada 1945, ia berhasil meminang cinta sejatinya, Ong Ros Hwa alias Rosita, sebagai teman setia mengarungi perjalanan kehidupan.

Beragam pekerjaan sempat dilakoni Kho Ping Hoo. Namun, kariernya mulai stabil kala diterima di sebuah perusahaan pengangkutan di Tasikmalaya, Priangan Timur pada 1949, yang kini menjadi bagian dari Jawa Barat. Ia pindah ke sana bersama istrinya yang hamil juga anaknya yang masih kecil.

Tina menyebut, Kho Ping Hoo menjabat sebagai juru tulis di perusahaan itu. Gajinya pun tak seberapa sehingga Kho Ping Hoo masih harus bekerja sambilan untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

"Sehabis pulang kantor itu, dia masih mengajar les. Dulu buat pemasukan, karena gaji dari juru tulis kan kurang," kata Tina mengenang kesulitan keluarganya dulu di Tasikmalaya.

Rosita adalah pendukung Kho Ping Hoo dalam senyap. Ia tak mengeluh akan kondisi suaminya yang masih kekurangan. Baginya, tugas dirinya hanyalah mengelola pemasukan yang dihasilkan oleh sang suami sebaik mungkin untuk kelangsungan keluarga, berapapun jumlah yang mereka dapatkan.

"Memang waktu itu Mama saya hemat. Makanya anak-anaknya sampai sekarang suka makan sayur, karena sudah dibiasakan makan sayur biar hemat. Kalau makan ayam atau daging itu cuma seminggu sekali," kata Tina.

Kho Ping HooKho Ping Hoo bersama anak-anaknya. (Arsip Pribadi)

Kerasnya kehidupan tak menghilangkan kecerdasan Kho Ping Hoo. Selain kecerdasannya masih terasah melalui pekerjaan sebagai juru tulis dan mengajar bahasa Inggris, Kho Ping Hoo juga mulai menekuni hobi baru: menulis cerita.

Leo Suryadinata, Visiting Senior Fellow ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapore yang meneliti soal cerita silat dan pernah berkorespondensi dengan Kho Ping Hoo semasa hidup, mengatakan dalam webinar Rhoemah Bhinneka, Senin (15/3), bahwa sang penulis mulai mencurahkan imajinasinya dalam bentuk cerita pendek (cerpen) pada 1952.

Kebetulan saat itu, cerita pendek, cerita bersambung, atau pun cerita silat terjemahan merupakan sebuah tren di masyarakat Indonesia.

Tren itu sendiri menurut Leo dalam tulisannya, Cerita Silat Tionghoa di Indonesia: Ulasan Ringkas (Sastra Peranakan Tionghoa Indonesia, 1994), terjadi sejak 1920-an, ketika media juga surat kabar Tionghoa banyak tersebar di tengah masyarakat seiring dengan penambahan populasi orang Tionghoa peranakan di Indonesia.

Kala itu, masyarakat Tionghoa peranakan yang berbahasa Indonesia atau Belanda tersebut semakin banyak. Mereka bukan hanya berasal dari keturunan, tetapi juga orang Tionghoa totok yang berbahasa Tionghoa dan lahir juga berdomisili di Jawa, mengalami perubahan menjadi "peranakan" akibat dorongan nasionalisme.

Media-media Tionghoa peranakan itu kerap memuat cerita bersambung atau pun cerita silat alias cersil di setiap edisinya. Cerita silat itu muncul atas desakan karena masyarakat Tionghoa gemar membaca kisah silat hasil terjemahan roman sejarah Tiongkok. Minat yang terus tinggi akan cersil memunculkan novel-novel silat khas Tionghoa beserta penerjemah-penerjemahnya.

Sementara itu, Kho Ping Hoo tak bisa berbahasa Mandarin meski dirinya adalah seorang Tioghoa. Ia hanya bisa menikmati cersil-cersil tersebut dalam versi terjemahan berbahasa Indonesia dan memahami sejumlah kata dalam bahasa Mandarin yang bertebaran di dalamnya.

"Saya belajar bahasa Tionghoa dari buku (self-study). Jangankan mengarang dalam bahasa Tionghoa, menerjemahkan dari bahasa itu pun saya belum sanggup. Andaikata saya dapat, tentu akan saya buat cersil bahasa Tionghoa," kata Kho Ping Hoo dalam surat korespondensi dirinya dengan Leo tertanggal 6 Januari 1985.

Keterbatasan itu nyatanya jadi peluang buat Kho Ping Hoo. Kegandrungannya dengan cerita silat, ditambah dengan pengalaman hidup beserta daya imajinasinya yang luas, membuat Kho Ping Hoo menjadi pencipta cerita silat alias cersil. Nyatanya, karya dia laku keras.



Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.