Ondel-ondel, dari Tolak Bala hingga Alat Ngamen di Jakarta

Sejarah Ondel-ondel dan fungsinya di kebudayaan betawi. (CNNIndonesia/ Adhi Wicaksono)


Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali mewacanakan melarang penggunaan ondel-ondel sebagai sarana mengamen. Bahkan mereka menyiapkan sanksi bagi yang melanggar nanti.

Rencana pelarangan itu dibuat setelah pengamen ondel-ondel setelah ada keluhan dari masyarakat karena mengganggu dan meresahkan. Terlebih ondel-ondel merupakan ikon budaya Betawi.

Menengok ke belakang, sejarawan JJ Rizal menjelaskan bahwa dalam tradisi Betawi ondel-ondel memang digunakan sebagai sarana mengamen. Pemain ondel-ondel keliling kampung untuk mengusir bala, kemudian mendapat imbalan dari warga.

Biasanya pihak yang menghelat hajatan seperti pernikahan, sunatan, atau peresmian gedung, memanggil ondel-ondel demi tujuan mengusir bala atau nasib buruk. Rombongan ondel-ondel dengan alat musik tradisional seperti rebab kemudian mendapat imbalan bayaran dari 'shohibul hajat.'

"Pelarangan dan sanksi kepada ondel-ondel yang mengamen adalah contoh kebijakan yang tuna budaya," kata Rizal kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (24/3).

Jauh sebelum dikenal dengan nama ondel-ondel, boneka serupa manusia ini dikenal dengan nama barongan. Orang dulu percaya barongan bisa menolak bala atau mengusir wabah penyakit.

Fungsi mengusir bala membuat barongan sering tampil dalam berbagai acara resmi resmi atau sakral. Barongan paling sering tampil di ulang tahun kota Jakarta, pernikahan, peresmian tempat tinggal baru, atau upacara lain.

Perlahan nama barongan berubah menjadi ondel-ondel dan semakin populer ketika dikisahkan dalam lagu Ondel-Ondel karya Djoko Subagyo yang dinyanyikan Benyamin Sueb di era 1970-an. Sepasang boneka itu kemudian menjadi ciri dasar budaya Betawi.

Meski demikian, perubahan nama tidak membuat filosofi ondel-ondel luntur, pun begitu dengan penampakannya. Ondel-ondel lelaki akan selalu memiliki wajah berwarna merah yang melambangkan semangat dan keberanian.Nama ondel-ondel berasal dari kata 'gondel-gondel' yang memiliki arti menggantung atau bergandul. Kata tersebut didasari oleh gerakan Ondel-Ondel yang acapkali berayun ketika berjalan.

Sementara, ondel-ondel perempuan berwarna putih yang menandakan kebaikan dan kesucian. Pertunjukan rakyat Betawi ini sejatinya menyimbolkan leluhur yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Bahkan dalam ondel-ondel juga terdapat unsur mistik yang dipercaya oleh seniman sejak dulu hingga saat ini meski semakin sedikit. Orang dulu percaya sebaiknya jangan usil ketika ada ondel-ondel karena ada 'isinya'.

Bahkan sesajian bubur merah-putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga tujuh macam, serta asap kemenyan dibutuhkan untuk merawat ondel-ondel. Pemain ondel-ondel juga melakukan ritual pembakaran kemenyan. 'Ngukup', begitulah masyarakat Betawi menyebut ritual tersebut.

Percaya tidak percaya, kisah mitologi ini masih ada di kalangan masyarakat Betawi. Terlepas dari hal itu. Kehadiran ondel-ondel akan terus membawa kemeriahan di setiap acara warga Betawi, terlebih kini wajah ondel-ondel tak lagi seram dan bertaring.

Pun penggunaan ondel-ondel mengalami pergeseran pada era modern sampai sekarang menjadi sarana mengamen. Kini nasib warisan budaya Betawi menjadi tidak jelas setelah Pemprov DKI berencana melarang. Terlebih wadah untuk menampilkan ondel-ondel sangat sedikit.

Meski dinilai mengganggu dan meresahkan, setidaknya pengamen yang menggunakan ondel-ondel tetap melestarikan budaya dengan caranya sendiri.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.