Pulang dari Malaysia, TKI Asal Sampang Ciptakan Horor Berdarah di Surabaya: Dipicu Status Eks Istri



Begitu pulang dari Negeri Jiran Malaysia, Tenaga Kerja Indonesia / TKI asal Kabupaten Sampang Madura ini lantas menciptakan horor berdarah di Surabaya.


Dia membacok seorang pria asal Sampang yang kos di Surabaya hingga tewas mengenaskan.


Pembunuhan sadis itu dipicu oleh satus terbaru dari mantan istri pelaku .


Polisi yang bergerak cepat menangani kasus horor berdarah di Surabaya berhasil menangkap si TKI asal Sampang Madura yang menjadi pelaku pembunuhan


Si pelaku adalah DM (40), warga Omben, Sampang Madura. Dia berhasil dibekuk unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya, Kamis  malam.


Penangkapan itu dilakukan polisi di Sampang, Madura di sekitar perkebunan di daerah tinggal pelaku.


Diketahui, satu pelaku itu bernama Abdul Hosid (39) warga Sampang, Madura diringkus tanpa perlawanan.


Begitu ditangkap, Hosid mengakui perbuatannya dan menyatakan jika ia sendiri yang melakukan aksi pembacokan membabi-buta Rabu siang.


Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Ambuka Yudha Hardi Putra mengatakan jika motif tersangka menghabisi korban karena dendam dan cemburu.


"Motifnya cemburu. Mantan istrinya menikah dengan korban," kata Ambuka, Jumat.


Kecemburuan dan dendam Hosid rupanya dipendam menahun usai tahu istrinya berselingkuh dengan korban sebelum mereka resmi bercerai.


"Tersangka merupakan TKI di Malaysia. Perselingkuhan itu diketahui sudah pernah dipergoki oleh tersangka saat pulang dari Malaysia. Namun oleh tersangka dimaafkan," sebut  Ambuka.


Setelah kejadian pertama itu,sekitar tahun 2018,tersangka mengajak istrinya untuk tinggal di Malaysia sebagai TKI,namun pada 2019, RS yang masih berstatus sebagai istri tersangka ingin pulang ke Madura.


"Disana korban bertemu lagi dengan istri tersangka. Hingga akhirnya bercerai pada April 2020. Namun antara korban dan mantan istri pelaku sudah memiliki buah hati yang usianya baru lima bulan," terangnya.


Karena mengetahui istrinya itu direbut oleh korban untuk kali kedua, sepulang dari MalaysiaHosid langsung mencari tahu keberadaan korban.


Hosid yang mendapat informasi keberadaan korban,langsung mengajak dua temannya menggunakan dua motor untuk mencari keberadaan korban di Simojawar V-A Surabaya.


"Saya ngajak teman. Bilang kalau jalan-jalan saja ke Surabaya. Mereka tidak tahu kalau saya ada niat menghabisi dia (korban)," aku Hosid.


Berbekal sebilah celurit, Hosid yang kalap, langsung menghampiri korban saat asyik nongkrong di depan warung kopi Simojawar V-A Surabaya.


"Saya sendiri yang turun dan bacok. Teman saya nunggu diatas motor," imbuhnya.


Dendam membara Hosid dilampiaskan dengan beberapa kali ayunan celurit ke tubuh korban.


Akibatnya perut korban robek hingga isi perutnya terburai, leher, paha hingga lengan menganga dan jari korban putus usai ditebas celurit.


Memastikan korban tewas dilokasi, Hosid langsung tancap gas bersama dua temannya itu.


"Saya tidak terima. Rumah saya didatangi pada saat saya ada di Malaysia. Istri saya dibawa kabur, anak saya ditinggal sendiri," geram Hosid.


Meski begitu, ia mengaku menyesal telah menghabisi DM. Namun, disisi lain, tampak wajah puas Hosid usai dendam api cemburunya terlampiaskan. Saat ini, polisi masih terus berupaya memburu keberadaan dua teman Hosid yang turut serta dalam aksi tersebut.


Akibat perbuatannya itu, ia dijerat pasla 340 KUHP Subsidair pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman 20 tahun kurungan atau mati.


Sebelumnya, seorang pria tergeletak di depan kios warung kopi di Jalan Simojawar V-A, Surabaya, Rabu  siang.


Pria tersebut diduga menjadi korban pembunuhan karena sekujur tumbuhnya mengalami luka bacok.


Husen, warga sekitar mengatakan jika saat itu melihat korban sudah tergeletak dengan usus terburai.


"Perutnya robek. Usurnya keluar. Kakinya ditebas, jari tangannya putus," ujar Husen.


Meski begitu ia belum tahu pasti awal mula pembacokan tersebut.







"Tidak tahu awalnya. Tahu-tahu sudah tergeletak,"imbuhnya.


Kejaidan tersbeut diketahui sekitar pukul 12.00 WIB selepas adzan dhuhur.


Namun di lokasi memang sedang sepi hingga tidak ada saksi mata yang tahu awal mula kejadian itu.


"Pas sepi. Siang-siang itu,"terangnya.


Meski begitu, warga mengaku tidak terlalu mengenal korban.


"Namanya tidak tahu. Orang baru kan kos disini. Tidak terbuka sama tetangga. Jadi tidak ada yang kenal," tandasnya.


Soleh, tetangga korban lainnya mengatakan, bahwa korban pembacokan di Simojawar V Surabaya diketahui berinisial DM.


Korban berasal dari Sampang, Madura dan baru setahunan kos di Jalan Simojawar V-A Surabaya. Warga sekitar yang tinggal disamping kos korban mengaku sama sekali tidak tahu asal usul DM.


"Orangnya tertutup. Kalau keluar ya cuma nyapa saja. Jarang ngobrol sama tetangga," kata Soleh.


Di rumah kos itu, korban menempati sebuah kamar berukuran 3x3 meter bersama istri sirinya.


"Tinggal sama istri sirinya disini. Kerjanya juga gak tahu. Biasanya itu dapat barang-barang rombeng (rosokan) gitu," imbuhnya.


Selain itu, korban dan istrinya sama-sama memiliki dua anak dari hasil pernikahan sebelumnya.


Sementara dari hasil pernikahan sirinya, korban memiliki satu anak bayi yang baru berusia 5 bulanan.


"Yang laki-laki punya dua anak. Yang perempuan (istri) korban, juga punya dua anak dari pernikahan sebelumnya,"terangnya.


Istri korban, saat kejadian sedang bekerja sebagai buruh pabrik plastik di Jalan Simo Jawar, Surabaya.


Polisi yang mendapat informasi langsung mendatangi lokasi kejadian dan lakukan olah tempat kejadian perkara.



Sumber :TribunMadura.com

No comments

Powered by Blogger.