Ratusan Ribu TKI Kehilangan Pekerjaan karena Corona, Bisa Daftar Kartu Prakerja?


Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat, jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri pada tahun 2020 mencapai 113.173 orang.
Angka tersebut berkurang sebanyak 163.380 orang bila dibandingkan tahun 2019, di mana pekerja migran Indonesia tercatat sebanyak 276.553 orang.
Pembatasan atau kebijakan lockdown hingga kontraksi ekonomi yang dialami banyak negara di dunia, membuat tak sedikit TKI Indonesia dipulangkan dan batal berangkat. Setidaknya sebanyak 49.211 orang dipulangkan pada tahun 2020.
Kondisi ini tentunya menambah panjang daftar angkatan kerja yang bakal menganggur di tanah air. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, bicara soal 29 juta penduduk yang terancam jatuh ke jurang kemiskinan akibat pandemi COVID-19.
Lantas apa upaya yang dilakukan pemerintah mencegah biar TKI ini tak menambah panjang daftar pengangguran?
Secara umum sebetulnya pemerintah telah menggelontorkan berbagai jaring pengaman sosial sejak pandemi COVID-19 merebak. Mulai dari berbagai bantuan sosial, keringanan pajak, subsidi gaji, hingga program pelatihan plus insentif Kartu Prakerja.
Sementara khusus menyangkut pekerja migran Indonesia, BP2MI dan Kementerian Ketenagakerjaan belum memberikan respons.
Adapun program Kartu Prakerja, menurut Head of Communications PMO Prakerja, Louisa Tuhatu, memang sudah membuka tangan sedari awal gelombang pertama berjalan.
Louisa menjelaskan, dalam 5,6 juta peserta yang lolos di 12 gelombang pendaftaran sepanjang 2020, terdapat 2 persen peserta dengan latar belakang eks pekerja migran.
"Data 2020 ada mantan PMI dan calon PMI yang ikut. Program Kartu Prakerja itu pada prinsipnya terbuka untuk semua WNI usia 18 tahun ke atas. Tentu saja di sini termasuk PMI, calon PMI, mantan PMI, hingga calon pengantin," jelas Louisa.
Kendati begitu, hingga saat ini belum ada jalur pendaftaran khusus buat pekerja migran. Louisa mengatakan, mereka tetap harus mendaftar secara mandiri sebagaimana peserta lainnya.
Rebutan menjadi peserta tentu sebuah risiko yang tak bisa dihindari. Terlebih lagi saat ini, beberapa program stimulus seperti subsidi gaji, tak berlanjut lagi. Sedangkan di sisi lain, angka pengangguran berpotensi terus bertambah.
Sementara animo terhadap kartu Prakerja tak pernah sepi hingga memasuki gelombang 13 sekarang ini. Pada tahun 2020 misalnya, tercatat sebanyak 43,8 juta orang mendaftar prakerja, artinya sebanyak 38 juta orang masih mengantre untuk jadi peserta.

Sumber:Kumparan









No comments

Powered by Blogger.