Saat Mantan Bos BEJ Komentari Saham Bank Jago



  Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 1991-1996 Hasan Zein buka suara mengenai pergerakan harga saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) yang melonjak tajam.

Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) ditutup naik 3,64 persen ke posisi Rp 11.375 per saham pada perdagangan saham Jumat, 12 Maret 2021. Saham ARTO dibuka stagnan di posisi Rp 10.975 per saham.

Saham ARTO sempat di level tertinggi Rp 11.750 dan terendah Rp 10,975 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 5.252 kali dengan nilai transaksi Rp 74,3 miliar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Jago Tbk masuk jajaran kapitalisasi pasar saham terbesar. Tercatat kapitalisasi pasar saham ARTO mencapai Rp 122 triliun.

Hasan menilai, saham ARTO lebih fenomenal ketimbang saham Tesla. Ini ditunjukkan dari harga penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) Rp 132 pada lima tahun lalu mencapai harga tertinggi Rp 11.900 pada awal 2021.

"Kenaikan hampir 100 kali lipat dalam kurun waktu lima tahun. Lebih fenomenal ketimbang saham TSLA. Lebih spektakuler dari BERK.A yang harga sahamnya pernah mencapai USD 4.000 per saham,” tulis dia dalam catatan, seperti dikutip Minggu (14/3/2021).

Ia menilai, ARTO spektakuler. Hal ini menyusul dari bank papan bawah yang tidak dilirik kemudian menjadi saham berkapitalisasi di atas Rp 100 triliun.

"Menyalip BBNI, BRIS, INDF, dan CPIN, dan banyak lagi. Meraup lebih dari Rp 7 triliun dari emisi HMETD yang jadi rebutan,” tulis dia
Hasan menambahkan ARTO juga fantastis. “Menggunakan PBV (price book value-red) sebagai tolok ukur konvensional sektor perbankan, PBV ARTO lebih dari 100 kali. Price Earning Ratio (PER) nya minus 651 kali, NPM-nya minus 164 persen (pinjam RTI),” tulis dia.

Ia mengatakan, tidak berani membeli saham ARTO. Hasan menduga tolok ukur konvensional belum dapat digunakan untuk bank digital.

“Saya jujur sama sekali tidak berani membeli saham ARTO. Ilmu saya belum sampai ke tingkat itu. Boleh jadi tolok ukur konvensional tak layak digunakan untuk bank digital. Boleh jadi perusahaan rintisan atau “dirintis secara sistematis” memang memiliki potensi pertumbuhan eksponensial,” ujar dia.


Ia menduga, pengguna jasa Gojek yang berjumlah 38 juta akan menjadi nasabah ARTO lalu ditambah dengan pengguna jasa Tokopedia sehingga nasabah ARTO akan jauh melampaui jumlah nasabah bank di mana pun di Indonesia.

"Boleh jadi tiap nasabah akan mengendapkan saldonya di ARTO dalam rata-rata tidak kurang dari USD 700. Boleh jadi pelanggan Gojek dan Tokopedia sebagian besar akan menjadi debitur ARTO, tanpa macet,” tulis dia.

"Boleh jadi kumulatif kerugian selama empat tahun terakhir, akan segera ditutup dengan keuntungan seketika, begitu ARTO berkawin dengan Gojek. Masih banyak boleh jadi yang lain. Membuat saya makin takut. Ilmu saya belum sampai ke tingkat itu,” ia menambahkan.

Hasan mengatakan lebih yang konvensional saja. “Ilmu saya baru mampu mendekati tingkat itu. Untuk mulai dengan transparansi, saya perlu mendisclose bahwa 50 persen nilai portofolio saya ditempati oleh saham TLKM,” kata dia.

Ia menduga kemungkinan ada kaitannya dengan gegap gempita ARTO, karena TLKM punya andil di Gojek. “Dan Gojek punya penyertaan di LinkAja. Siapa tahu TLKM ikut kecipratan berkah,” kata dia.

Ia mengatakan, dirinya memilih TLKM menunjukkan analisisnya masih sangat konvensional. “Ilmu saya baru sampai ke tingkat itu,” ujar dia.
Sumber :liputan6

No comments

Powered by Blogger.