Strategi Menjadi Pemenang di Era Pandemi dan Kebutuhan Edukasi Bisnis yang Tepat


Ketidakpastian dalam segala hal terutama sektor bisnis akibat hantaman pandemi Covid-19 merupakan suatu keniscayaaan yang harus dihadapi masyarakat kita bahkan secara global. Namun, seperti kata pepatah, ‘krisis adalah peluang’. Itulah yang harus kita lihat secara positif dari adanya pandemi yang telah berlangsung sejak Maret 2020 lalu itu.

Di tengah pandemi yang memukul kita semua, baik yang hanya sekedar tipis-tipis hingga dibombardir habis-habisan, ternyata pandemi juga menghadirkan berbagai sisi lain tentang kebaikan. Banyak peluang bisnis yang lahir dari adanya pandemi. Diantaranya dibidang properti, pandemi membawa angin segar pada sektor bisnis yang satu ini.  Contohnya terjadi validasi bahwa kanal digital itu efektif bagi penjualan properti, dimana saya dapati sebuah pengembang yang cukup siap dalam digitalisasi mengalami peningkatan penjualan hingga tiga kali lipat. Hal lainnya adalah beberapa developer sukses melakukan launching saat pandemi ini karena memahami perilaku para investor properti. Artinya semangat dan daya beli masyarakat akan properti masih sangat baik. Lebih jauh lagi pada fase pandemi ini juga memunculkan peluang untuk mengakusisi lahan murah bagi para pengembang.

Pengembangan entrepreneurship sendiri juga tetap bergerak secara baik meskipun pada masa pandemi ini. Pengembangan entrepreneurship ini bahkan hingga pada bidang entrepreneurship digital atau yang biasa disebut startup. Hal ini terindikasi melalui hadirnya berbagai komunitas, berlangsungnya berbagai event, dan animo berbagai pihak untuk memasuki dunia startup.

Tentu saja sebuah perjalanan bisnis yang baik memerlukan edukasi bisnis yang memadai. Sudah tidak zamannya lagi pelaku usaha mendikotomi sisi edukasi dan sisi praktis bisnis. Karena pada kenyataannya semua pelaku usaha membutuhkan edukasi baik disadari atau tidak disadari. Dimana edukasi itu sebenarnya bisa hadir baik melalui institusi formal, edukasi non formal, dan bahkan internalisasi pengalaman sang pelaku usaha.

Edukasi bisnis sendiri sesungguhnya bisa diselaraskan dengan kebutuhan para pelaku usaha baik pada tataran knowledge, skill, dan attitude. Pendekatan lainnya juga bisa dilihat dari masa usaha, dimana semakin muda usia usaha tentu pendekatan edukasinya bisa semakin entrepreneurial (tentang keberpeluangan) dan semakin lama masa usaha maka arah edukasi semakin manajerial (tentang ketertatakelolaan).

Saya sendiri mencintai bidang edukasi dan tergerak untuk melahirkan tiga edukasi bisnis bersama para sahabat. Dimana pada masa pandemi ini yang segala sesuatunya serba online menjadi keniscayaan untuk merealisasikan hal ini dengan jauh lebih mudah. Edukasi pertama yang dikembangka adalah Prolab yang bergerak sebagai property business school, kedua adalah Impactner yang merupakan startup business school, dan yang ketiga mengaktivasi kembali SECI Institute yang dilaunching pada 2018.

Prolab diinisiasi rekan saya Ali Tranghanda pada januari 2019 yang merupakan pakar makro property di Indonesia. Lalu pada 2020 Andy K Natanael yang merupakan pakar pemasaran property di Indonesia mengajak saya melakuan beberapa kegiatan literasi publik sebagai bentuk empati pada fase awal pandemi. Dari sini terbangun chemistry dan kesamaan misi, sehingga kami bertiga memutuskan untuk berhimpun dan melahirkan Prolab Property Business School pada 5 Juni 2020 lalu. Prolab sendiri telah menghasilkan berkisar 200an alumni selama masa pandemi ini.

Selanjutnya, tepatnya pada September 2020 lalu, kawan saya Edy Wihardja menyampaikan idenya untuk bersinergi dalam mengembangkan edukasi startup. Hal ini sendiri sebenarnya adalah agenda yang sudah tertunda selama dua tahun. Mengingat fase pandemi ini menghadirkan normalitas baru dalam berperilaku online, maka  saya pun tanpa berpikir panjang segera menyambut potensi ini. Masa pandemi yang memberlakukan physical distancing membuat arah aktivasi awal bisnis ini secara online menjadi relevan dilakukan. Maka pada 19 November 2020 lahirlah Impactner Startup Business School. Sejauh ini Impactner telah melaksanakan dua kelas dan sebuah program bersinergi dengan SDM Muda Indonesia pimpinan Christian Siboro yang memberdayakan komunitas Papua Muda Inspiratif.

Lebih jauh lagi saya juga juga mengaktivasi kembali SECI Institute yang bergerak pada edukasi entrepreneur. Berbagai kegiatan literasi public telah dilakukan telah dilakukan oleh SECI Institute pada masa pandemi ini, diantaranya bersinergi dengan platform Indonesia Belajar. SECI sendiri digagas pada 2016 oleh Prof Riant Nugroho yang merupakn pakar kebijakan publik Indonesia dan diresmikan oleh mendiang Prof Emil Salim yang merupakan ekonom senior serta Pakar keuangan Prof Roy Sembel.




Dengan demikian saya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya ada kok peluang yang bisa kita ciptakan atau tangkap pada masa pandemi ini. Sepanjang kita iklas tetapi sekaligus tetap entrepreneurial (hidup dalam semangat keberpeluangan). Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak para pejuang bisnis untuk senantiasa optimis, ijinkan saya berbagi pandangan mengapa kita bisa tetap terus mengembangkan optimisme:

1.      Aspek pasar, secara umum pasar itu tetap ada meskipun mereka membatasi pengeluaran. Sehingga para pelaku usaha bisa melakukan kontak kembali dengan para customer sebagai bentuk relasional. Melalui relasional ini maka menjadi bagian tetap menjaga terbukanya peluang usaha kita. Hal lainnya adalah dengan memodifikasi produk untuk menjadi lebih sederhana sehingga harganya bisa menjadi lebih murah.

2.      Aspek entrepreneurial, pada masa sulit ini memang menjadi sebuah kondisi yang menguji apakah kita seorang entrepreneur sejati. Seorang entrepreneur itu adalah pribadi yang selalu bergerak karena meyakini peluang itu ada, baik pada masa sulit maupun pada masa normal. Dengan mindset ini maka seorang entrepreneur adalah pribadi yang realistis melihat sebuah kesukaran sekaligus optimis selalu akan ada jalan untuk menemukan peluang.

3.      Aspek kreatifitas, melalui semangat kreatifitas maka berbagai inovasi bisa hadir bagi para pelaku usaha. Misalnya kreatifitas mengembangkan produk yang berbasis ukuran besar, seperti kopi literan. Kreatifitas mengembangkan komunikasi kepada pasarnya dengan aktif pada sosial media. Juga berbagai kreatifitas lainnya yang menjadi penanda usaha kita dijalankan secara entrepreneurial dan bukannya sekedar dilakukan sebagai kenafkahan semata.

4.      Aspek kapabilitas, seorang pelaku usaha biasanya asik dengan keseharian usahanya dan sekaligus menjadi abai bahwa sebuah usaha itu butuh mengembangkan berbagai kapabilitas. Berbagai penelitian menemukan hasil bahwa pengembangan kapabilitas dapat menghadirkan hasil usaha yang sangat baik. Penelitian saya sendiri mendapati bahwa melalui kapabilitas belajar dan kapabilitas berjejaring dapat mempengaruhi pengembangan model bisnis. Kapabilitas belajar adalah kemampuan sebuah usaha untuk menghasilkan berbagai pengetahuan baru. Sedangkan kapabilitas berjejaring adalah kemampuan sebuah usaha untuk dapat terhubung dengan potensi pasar, potensi pemasok, dan potensi investor.

5.      Aspek model bisnis, melalui model bisnis ini maka sebuah usaha dapat dibedakan dengan usaha lainnya meskipun jenis usahanya sama. Model bisnis adalah sebuah semangat memformulasikan usaha agar menjadi unggul. Formulasi itu mencakup nilai, pelanggan, kanal, relasi, aktivitas, sumberdaya, mitra, struktur biaya, dan struktur pemasukan. Sehingga bisa saja kita hanya jualan ayam goreng tetapi target market kita adalah komunitas. Bisnis kita hanya warteg, tetapi setiap bulan buka satu cabang karena kita menjalankannya bersama investor sebagai mitra kunci usaha kita. Melalui pengelolaan sembilan hal pada model bisnis ini secara kreatif dan entrepreneurial maka berbagai arah lompatan bisnis bisa dikembangkan.

Sesungguhnya bisnis itu menarik saat kita memiliki mindset dan knowledge yang relevan bukan?, dan hal ini memicu adrenalin yang menggairahkan. Kegairahan ini yang membedakan seorang entrepreneur dan pelaku usaha biasa saja. Kabar baiknya semua orang berhak memasuki kondisi entrepreneurship ini.

Sebagai seorang entrepreneur sekaligus edukator saya juga terus memicu diri saya untuk senantiasa bertumbuh. Saya sendiri merupakan dosen tetap pada PPM school of management. Uniknya pada masa pandemi ini hadir berbagai peluang untuk saya mengajar pada berbagai kampus. Saya diajak menjadi dosen luar biasa pada Ciputra university Surabaya, menjadi pemateri utama topik entrepreneurship pada program S3 STT Harvest International Seminary Theologia, dan menjadi mentor bisnis pada Binus University. Saya beruntung untuk berbagai peluang ini, tetapi saya juga dapat mengenali mengapa peluang ini hadir. Saya mendapati hal ini dituai karena selama ini saya memang mengembangakan kapabilitas belajar dan kapabilitas berjejaring dengan baik. Sehingga melalui kapabilitas belajar maka tingkat kesiapan saya mengajar menjadi sangat baik dan melalui kapabilitas berjejaring maka berbagai peluang hadir.

Kawan-kawan semua, tetaplah semangat! Tetaplah melangkah! Sebab hasil itu tidaklah pernah menghianati usaha. Sebab masa depan entrepreneur itu dapat didesain melalui pengembangan pengetahuan yang benar dan kapabilitas yang baik. Pastinya, Tuhan sang baik itu sayang kepada entrepreneur Indonesia.


Sumber :Okezone Tv

No comments

Powered by Blogger.