Thailand Kebanjiran Narkoba Selundupan usai Kudeta Myanmar


Para pengawas desa di Thailand merapatkan matanya ke teropong, berjaga-jaga jika ada kehadiran kapal nelayan pembawa narkoba selundupan yang kian meningkat sejak kudeta militer di negara tetangganya, Myanmar.

Rachin Sinpho, seorang warga desa di Provinsi Nong Khai, Thailand, mengatakan kepada AFP bahwa belakangan, ia semakin sering melihat kapal dengan nelayan palsu yang diduga membawa narkoba selundupan.

"Kami sering melihat kapal dengan nelayan palsu. Jika ada nelayan sungguhan di sekitar, mereka tidak mendekat dan malah menjauh," ujar Rachin.

Perwakilan dari Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa urusan Narkoba dan Kejahatan, Jeremy Douglas, tak heran ketika mendengar laporan para warga Thailand ini.


Menurutnya, kantong-kantong perekonomian ilegal Myanmar memang biasanya akan semakin giat beraksi, memanfaatkan waktu ketika ada pergolakan politik di negara tersebut.

"Jika kejadian-kejadian sebelumnya dapat dijadikan indikator untuk apa yang akan terjadi, maka kemungkinan besar akan ada peningkatan produksi narkoba sintetis," ucap Douglas.

Douglas kemudian menjelaskan bahwa masa pergolakan politik di Myanmar merupakan waktu emas bagi kelompok kejahatan dan milisi di perbatasan untuk menguatkan posisi mereka.

"Cara terbaik untuk mendulang uang banyak secara cepat adalah perdagangan narkoba, dan perdagangan itu akan meningkat," tutur Douglas.

Produksi narkoba sintetis memang merupakan sumber pemasukan nomor satu bagi kelompok-kelompok milisi ilegal Myanmar yang beroperasi di perbatasan dengan Thailand dan Laos.

Kawasan di antara ketiga negara itu pun sudah dikenal sebagai "Segitiga Emas" yang menghubungkan jalur perdagangan narkoba Asia Tenggara.

Selama enam bulan belakangan, biro narkotika Thailand sudah menyita lebih dari 80 juta pil narkoba yang disebut dengan yaba. Lonjakan ini disebut-sebut merupakan dampak dari pandemi Covid-19.

Pemerintah setempat kewalahan menghadapi lonjakan ini, apalagi mereka kekurangan personel dan perangkat, seperti peralatan untuk melihat jarak jauh di tengah malam.

Untuk mengatasi masalah ini, aparat memanfaatkan para penduduk. Mereka membentuk tim sipil yang bertugas membantu mengawasi jika ada pergerakan mencurigakan di laut.

Warga setempat mengaku merasa lebih aman dengan kehadiran tim penduduk sipil itu. Namun, seorang ibu di desa tempat Rachin bertugas, Duangphaisri Ninket, tetap khawatir peredaran narkoba itu akan berdampak pada anaknya.

"Saya khawatir jika mereka mulai menjual narkoba di desa saya, akan berdampak pada anak-anak muda. Mereka akan menjadi pencandu," katanya.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.