Air Berkah Gentong Cupu Manik di Makam Panembahan Prawoto


Foto: Doddy Handoko

GENTONG Cupu Manik peninggalan Sunan Parwato di Desa Parwoto, Kecamatan Sukolilo, Pati dipercaya bertuah. Masyarakat setempat percaya terhadap khasiat air yang berada dalam gentong tersebut.

Gentong setinggi 160 centimeter dengan warna coklat dengan dihiasi bunga tersebut, memang sudah fenomenal di kalangan warga setempat. Khasiat dan bertuahnya air gentong tersebut sudah banyak dirasakan warga setempat maupun para tamu yang berziarah. 

Syafak juru kunci makam Sunan Prawoto mengungkapkan, keberadaan gentong itu sudah banyak dikenal di berbagai daerah, seperti Semarang, Demak, Kudus, Solo dan beberapa daerah lain di Jawa tengah.

Menurutnya, setiap para pengunjung yang berziarah sebagian besar mengambil air tersebut, bahkan tak jarang ada yang membawa botol. Kebanyakan dari mereka yang mengambil air itu biasanya selain telah tahu khasiatnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

“Mereka juga percaya gentong peninggalan Sunan Parwoto itu membawa berkah,” ujarnya.

Selain memberikan khasiat dapat menyembuhkan berbagai penyakit, para pengunjung yang datang sebagian besar telah mengetahui betapa tersohornya sang sunan.

Sunan Prawoto merupakan putra dari Sultan Trenggono dan cucu dari Raden Patah, yang dulunya menjadi murid dari Sunan Kalijaga.

Selain memiliki wajah yang tampan dan memiliki keilmuan agama yang tinggi, dia juga terkenal karena kesaktian dan dan pandai ilmu politik. Sehingga pada abad ke-15 sebelum adanya konflik dengan Kerajaan Demak, ia sempat menjadi raja di Kerajaan Prawoto selama 5 tahun.

Makam Mbah Sunan Prawoto, terletak di pekuburan umum Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo. Sebagian masyarakat menyebutnya makam Sunan Prawoto, putra Sultan Trenggono (sultan ketiga Demak), dan kakak Ratu Kalinyamat.

Tetapi, ada juga yang menyebutnya makam Panembahan Prawoto, salah seorang dari empat putra Sunan Prawoto, atau cicit Sunan Kalijaga. Konon sebutan mbah pada Mbah Sunan Prawoto berasal dari kata Panembahan Prawoto.

Nampaknya dugaan kedua ini lebih masuk akal. Sebab ada juga makam Pangeran Prawoto di belakang Masjid Agung Demak, yang diapit makam ayahnya (Sultan Trenggono) dan Raden Patah.

Terlepas dari kontroversi itu, masyarakat lokal, menyebutnya bukit Prawoto, karena dari situlah syiar agama dan kepedulian sosial Sunan Prawoto mengendalikan semua tata kelola syiar dan sosialnya, sehingga petilasan sejarah dan budaya, termasuk makam kerabat-kerabatnya dimakamkan pada wilayah perbukitan Kars, jadi disebut Bukit Prawoto.


Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.