Anak Buah Sri Mulyani Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2021 Capai 5,3 Persen



  Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Dwi Anggi Novianti optimis, pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021 mampu mencatatkan torehan positif. Yakni dengan tumbuh berada di kisaran 4,5 sampai 5,3 persen.

"Pemulihan ekonomi Indonesia tahun ini kita harapkan bisa di kisaran 4,5 sampai 5,3 persen," tegasnya dalam webinar bertajuk Tinjauan Ekonomi, Keuangan, dan Fiskal (TEKF) edisi I tahun 2021, Rabu (28/4).Anak buah Menteri Keuangan Sri Mulyani ini mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga 5,3 persen tersebut lantaran adanya sejumlah sentimen positif dari dalam dan luar negeri.

Untuk dalam negeri, ini tercermin dari capaian Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2021 yang berada di level 53,2. Angka PMI tersebut menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, sejak survei ini dimulai pada April 2011.

"(index PMI) manufaktur itu mencetak sejarah yang baik. Bahkan rekor yang tertinggi sejak 2011," tekannya.


Lalu, program vaksinasi Covid-19 yang sudah berjalan dinilai on track diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang baik. Sehingga diharapkan akan meningkatkan rasa kepercayaan masyarakat dan aktivitas produksi.

"Selanjutnya, Indonesia juga mempunyai kebijakan (penanganan pandemi Covid-19) yang masih akomodatif. Diantaranya dengan instrumen APBN dan program PEN yang begitu kuat," tambahnya.Sementara sentimen positif dari eksternal mulai terasa sejak kuartal III tahun lalu. Di mana pertumbuhan ekonomi global mulai terus menunjukkan tren perbaikan. Menurutnya, angin segar itu tercemin dari lima indikator yang mengindikasikan sinyal pemulihan perekonomian global.

Pertama, baltic dry index atau perdagangan global berhasil mencatatkan nilai tertinggi sejak September 2020. Atau berhasil membalikkan posisi ke level lebih baik sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia.

Kedua, pasar keuangan global mulai stabil. "Diantaranya, volatilitas pasar turun, MSCI index EMs naik sebesar 4 persen ytd, hingga aliran modal ke EMs masih dalam tren positif," bebernya.

Ketiga, harga komoditas terus mencatatkan kenaikan. Rinciannya komoditas Brent naik 30,0 persen, CPO naik 7,9 persen, dan batu bara naik 17,1 persen.

"Kenaikan ini menggambarkan mulai pulihnya faktor permintaan di tengah pandemi Covid-19," ungkapnya.

Lalu, kata Anggi, ekonomi China berhasil mencatatkan kinerja gemilang di kuartal I tahun ini. Di mana, negeri Tirai Bambu berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi positif sebesar 18,3 persen secara yoy.

Terakhir, implementasi vaksinasi global kian progresif. Dalam bahan paparannya, per 19 April 2021, sebanyak 910 juta dosis vaksin Covid-19 telah diberikan kepada 156 negara.

Sumber :liputan6.com

No comments

Powered by Blogger.