Benteng Bersejarah di Lembang Ini Menyimpan Cerita Seram



Benteng peninggalan Belanda yang dibangun pada zaman penjajahan cukup banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tak terkecuali di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Salah satu benteng Belanda yang masih berdiri kokoh dan kental dengan nilai sejarah yakni Benteng Belanda Gunung Putri. Sesuai dengan namanya, benteng yang berfungsi sebagai pertahanan dan pemantauan kedatangan musuh itu berada di kawasan Gunung Putri, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, KBB.

Namun beberapa tahun kemudian, fungsi benteng bertambah menjadi bunker bagi warga setempat saat erupsi Gunung Tangkuban Parahu yang jaraknya sangat dekat.

Dede Sukmara (54), warga setempat, mengatakan Belanda menginisiasi pembangunan benteng itu pada tahun 1906 bertepatan dengan momen erupsi Gunung Tangkuban Parahu. Namun di berbagai literatur, disebutkan jika benteng itu dibangun antara tahun 1913-1914.

Kondisi benteng yang ada di tengah hutan pinus jauh dari permukiman bahkan area kemping Gunung Putri, membuat suasananya mencekam kental dengan aura angker. Bagaimana tidak, kondisinya kini tak terawat dengan ilalang dan lumut yang menutupi bangunan benteng.

Saat detikcom mengunjungi benteng tersebut, tak bisa dimungkiri jika suasananya bisa membuat bergidik. Saat menjejakkan kaki sebelum memasuki area benteng, kita bakal melalui gerbang dengan bentuk melengkung. Di kanan kirinya terdapat sebuah tangga yang mungkin menuju ke pilar sebagai tempat memantau kedatangan musuh.

Berjalan lebih dalam, kita bakal dihadapkan pada bangunan utama benteng yang posisinya lebih rendah dari pintu masuk tadi. Bangunan itu memiliki dua lubang angin di bagian depan dengan dua pintu di sisi kiri dan kanan. Melongok ke dalam, suasana pengap sangat terasa bahkan bisa memekakkan telinga bagi yang sensitif pada perubahan tekanan secara tiba-tiba.

Dari dalam bangunan berukuran sekitar 4x4 meter dengan atap tak terlalu tinggi itu juga menyeruak bau amis dan lembab. Keseraman benteng tak mengurangi niat tangan-tangan jahil membubuhkan coretan tak penting menggunakan cat semprot.

Dede menyebut banyak kisah mistis yang dialami oleh dirinya secara langsung tatkala masih sering bolak-balik ke benteng saat masih kecil. Tak hanya Dede, bahkan orang-orang yang berkemah tak jarang mengalami hal mistis saat melakukan penjelajahan ke area benteng di sore dan malam hari.

"Ya kalau cerita mistis pasti banyak, cuma pengalaman setiap orang kan beda-beda. Kalau saya pribadi cukup sering lihat penampakan di benteng itu, apalagi kalau jalan-jalan sore," kisahnya.

Pertama, dirinya sempat melihat penampakan noni (gadis) Belanda dari dalam bangunan utama benteng. Bergerak cepat namun bayangan berwarna putih sangat jelas terlihat pandangan mata Dede.

"Pernah lihat noni Belanda, mungkin sebetulnya hanya jin yang menyerupai saja. Terus ada juga suara-suara dari dalam bangunan benteng," katanya.

Tak jarang, kata Dede, orang-orang yang sedang berkemah di hutan dengan posisi tak jauh dari benteng, mendengar suara lonceng delman dan ringkikan kuda.

"Dulu ada yang pernah cerita ke saya lihat bayangan delman dan suaranya juga. Karena mereka kan dari dalam tenda, biasanya tengah malam. Ya memang ada juga penampakan seperti itu. Biasanya itu putri raja yang menjaga Gunung Putri ini," terangnya.

Kendati beragam kisah mistis menghiasi keberadaan benteng tersebut, tak mengurangi rasa penasaran orang-orang untuk datang hingga nekat melalukan uji nyali.

"Kalau yang uji nyali ya ada juga beberapa kali, tapi itu di luar tanggung jawab kita sebagai warga dan pengelola. Biasanya yang iseng-iseng seperti itu ada, datangnya rombongan. Mereka uji nyali terus ada yang kesurupan, nanti tetap minta tolongnya ke warga juga," ceritanya.

Di balik semua cerita-cerita menyeramkan itu, benteng Belanda Gunung Putri tetap layak untuk dikunjungi dan dinikmati keindahannya.

Dalam kacamata sejarah, kisah mistis yang lahir dari suatu tempat dengan nuansa horor sudah menjadi bagian dari masyarakat. Padahal dulu, cerita horor yang diungkapkan orangtua merupakan peringatan agar tidak melanggar adat yang ada di satu tempat.

"Dari sejarah, cerita rakyat yang memang beredar dari mulut ke mulut awalnya hanya sebagai warning orang untuk hati-hati dan mengikuti apa yang jadi adat setempat. Kemudian karena waktu dan masyarakat makin berkembang, kebanyakan urban legend ini bergeser jadi cerita horor," kata praktisi sejarah dan Ketua Komunitas Tjimahi Heritage Machmud Mubarok.

Urban legend tidak lahir secara ujug-ujug, namun mengalami pergeseran dari cerita rakyat yang mengalami pengurangan informasi karena diceritakan secara turun temurun.

"Misalnya membahas soal mistis di benteng Belanda, makam Belanda, tempat-tempat yang disangka horor, sebetulnya ada nilai sejarahnya dan dipakai sebagai cara memperingatkan orang lain. Tapi sama si pendengar, disampaikan lagi ke orang lain sampai generasi sekarang dan mengalami pengikisan informasi yang akhirnya diterima tapi tidak utuh," terangnya.

Kendati demikian, urban legend yang lahir dan menemani keangkeran satu tempat, bisa menjadi pintu masuk orang-orang untuk mengetahui nilai sejarahnya.

"Urban legend sudah jadi bagian masyarakat. Semacam dongeng bagi orang-orang kekinian yang malah penasarannya karena mistisnya, bukan sejarahnya. Positifnya, nilai mistis itu bisa jadi pintu masuk, melalui mistis mereka mau menggali sejarahnya," tandasnya.


Sumber :Detiknews

No comments

Powered by Blogger.