Cerita Horor Bagus Brahmana Putra setelah Tolong Korban Laka

Senin, April 05, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Dini hari itu, Bagus Brahmana Putra hendak pulang dari rumah guru ngajinya di Sukodono, Sidoarjo. Sang kiai berpesan, hati-hati dan waspada saat perjalanan. Bagus hanya mengangguk takzim. Dia tak menyadari kalimat dari gurunya itu adalah peringatan bahwa beberapa hari ke depan, hidupnya dipenuhi keganjilan.

BAGUS ingat betul kejadian tersebut. Minggu dini hari tanggal 8 Agustus tahun lalu.

Pukul 01.15 WIB dia melintas di Jalan Raya Kletek, Sidoarjo. Mobilnya dihentikan kerumunan warga. Rupanya ada kecelakaan lalu lintas antara sepeda motor dan pikap. Korbannya tiga remaja. Seorang laki-laki dan dua perempuan.

Dua korban perempuan dimasukkan ke mobil Bagus. Satu orang tak bergerak, tapi masih bernapas. Ada juga perempuan setengah baya yang ikut naik. Rupanya dia adalah ibu salah seorang korban. Mungkin rumah korban dekat dengan lokasi kecelakaan. Bagus lantas membawa mereka ke rumah sakit terdekat.

’’Saat di RS, salah seorang korban seperti sudah meninggal,’’ kenang Bagus. Tak berselang lama, korban laka yang laki-laki tiba di RS. Dia dibawa pengemudi mobil lain. Bagus sempat dituduh sebagai orang yang menabrak. Tapi, semua diluruskan orang tua korban yang ikut naik mobilnya. ’’Saya pun langsung pulang,’’ ujar Bagus.

Dalam perjalanan pulang, bau anyir darah mulai tercium. Sesampai di rumahnya di Sukomanunggal, Surabaya, Bagus langsung membersihkan darah korban. Namun, bercaknya tak kunjung hilang. Begitu juga bau amisnya. Istri Bagus, Irnanda Purbasari, pun marah. Apalagi, besoknya, Irnanda akan memakai mobil tersebut ke Jogja.

Meski belum bersih betul, Irnanda akhirnya tetap menggunakan mobil itu. Dia bersama temannya yang membawa anak. Kejanggalan mulai terjadi. Temannya mendadak demam. Sementara itu, anaknya yang berusia 2,5 tahun tiba-tiba menyeletuk, ’’Mbak cantik.’’

Setiba di Jogja, temannya yang demam akhirnya sembuh.

Sementara istrinya pergi, Bagus tetap berada di rumah. Dia lantas mendapat kabar bahwa satu laki-laki dan satu perempuan meninggal dalam laka yang terjadi di Jalan Kletek Minggu dini hari itu.

’’Selasa siang istri saya balik ke Surabaya,’’ ucap Bagus. Keanehan lagi-lagi terjadi. Saat melaju dari Solo arah tol Surabaya, Irnanda kesasar ke arah Ngawi. Padahal, dia menggunakan GPS.




Karena bingung, Irnanda berkali-kali bertanya ke warga. Semua jawabannya sama. Anehnya, arah yang disampaikan beberapa orang itu justru menuju makam dan hutan. Cuaca pun memburuk. Sang teman kembali demam tinggi. Setelah berhenti dan berdoa, ternyata ada jalan lurus yang sebelumnya tidak terlihat. Mereka pun pulang dengan selamat.

Besoknya, teman Irnanda tak masuk kerja karena masih demam. Bagus dan istri pun menyambanginya. Bagus melihat wajah teman istrinya penuh darah. Padahal, kenyataannya tidak. Bagus lantas berkonsultasi dengan sang guru. Bagus disuruh mendatangi makam korban laka yang pernah dibawanya. ’’Tapi, saya nggak tahu di mana,’’ katanya.

Besoknya, sang istri bilang ingin ke Tretes. Yang membuat merinding, saat menuju arah Tretes, istrinya diam saja. Termenung. Kemudian bilang ke Bagus, ’’Makasih ya, Mas.’’ Setelah berbicara tersebut, istrinya kembali normal. Irnanda juga tidak ingat apa yang sudah diucapkannya. Sesampai di Tretes, istrinya malah meminta pulang.

Tak lama berselang, penjual nasi goreng yang keliling daerah rumah Bagus bertanya kepadanya. Ada masalah apa di rumah. Sebab, dia melihat istri Bagus tiap malam tidur di mobil. Tentu saja Bagus bingung. Lha wong istrinya ada di kamar bersamanya. ’’Saya mulai nggak enak,’’ ujarnya.

Rabu malam selepas kerja, Bagus mendatangi rumah sakit tempatnya mengantarkan korban saat itu untuk mencari informasi. Namun, keterangan yang didapatkan hanya sedikit. Dua pun pulang. Di jalan, dia bertemu gerombolan pemuda yang dilihatnya saat mengantarkan korban ke rumah sakit. Ternyata, mereka adalah teman korban.

Dari mereka, Bagus mendapat cerita. Satu korban yang meninggal bernama Ratu Konsina yang tinggal di Tretes. Saat kejadian, mereka bertiga habis pesta miras. Teman korban tidak mengetahui jelas makam korban perempuan tersebut.

Bagus pun paham kenapa istrinya minta ke Tretes dan kerasukan saat di tengah jalan. Lalu, kenapa ada perempuan yang menampakkan diri ke penjual nasi goreng. Begitu juga teman istrinya yang seakan ’’ketempelan’’.

Bagus dan istri pun mengirimkan doa kepada korban. Dia juga mencari lokasi makam korban, tapi tidak menemukannya. ’’Setelah mengirim doa, kejadian aneh berhenti. Teman istri saya juga sembuh dan bisa bekerja,’’ ungkap Bagus.


Sumber :JawaPos.com

0 comments: