Dentuman Meriam Bertalu-talu, Meriahnya Sambut Ramadhan di Zaman Penjajahan

Ilustrasi (Foto: Okezone)

Saat Ramadhan tiba, umat Muslim bersukacita. Banyak cara untuk mengungkapkannya, bahkan sejak era penjajahan di Indonesia.

Di era kolonial Belanda, suara meriam dan petasan bertalu-talu menjadi pertanda menyambut Ramadhan. Meski, suasana Ramadhan di era sekarang dengan masa penjajahan, nyatanya tidaklah jauh berbeda.

“Biasa saja, sama seperti saja seperti saat ini, banyak yang main meriam dan petasan,” ujar pemerhati sejarah dan budaya Ridwan Saidi saat dihubungi Okezone, pada Senin (12/4/2021).

Hanya saja, menurut Ridwan, bulan Ramadhan di zaman penjajahan sedikit lebih meriah. “Karena dulu masih dalam bentuk perkampungan, suasananya menjadi lebih meriah,” ujarnya.

Suasana perkampungan identik dengan sifat homogen yang dimiliki warga yang tinggal di dalamnya. Membuat warganya memiliki hubungan yang erat dan akrab satu sama lain. Menjadikan bulan Ramadhan di era itu, lebih meriah dan hangat dibandingkan sekarang.

Saat ini, penentuan Isbat atau hari pertama Ramadhan dilakukan oleh Kementerian Agama (Kemenang) RI. Sedangkan pada masa penjajahan kolonial, hal itu dilakukan oleh Perhimpoenan Penghoelo dan Pegawainya (PPDP) atau yang lebih dikenal dengan Hoofbestur.

“Diurus oleh Hoofbestur, yang mengurus urusan pribumi,” jelas Ridwan.

Meskipun berstatus sebagai penjajah, Kolonial Belanda nyatanya tidak mengekang atau pun melarang kegiatan keagamaan seperti bulan Ramadhan. Belanda memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk merayakan atau menjalankan kegiatan keagamaannya masing-masing.

Belanda pun nyatanya mendukung penuh bulan Ramadhan yang dilakukan oleh umat muslim di Indonesia pada waktu itu. Pihak Kolonial Belanda pun menyetujui usulan meliburkan sekolah selama bulan puasa berlangsung. Meliburkan sekolah pada seluruh jenjang, selama satu bulan penuh.

“Iya sekolah diliburkan selama satu bulan,” cerita Ridwan..

Kemeriahan dan kebahagiaan yang dihadirkan bulan suci Ramadhan ternyata tidaklah banyak berubah. Sejak dahulu kala, umat muslim di Indonesia tetap merayakannya dengan khusyuk dan penuh sukacita.

Bulan Ramadhan menjadi momentum sakral bagi umat muslim di seluruh dunia. Pada bulan suci ini, seluruh umat muslim memasuki masa di mana mereka harus berpuasa menahan segala hawa nafsu dan kenikmatan duniawi.


Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.