Gagal Menikah Hingga Masalah Pekerjaan, Semua Ujian Hidup Ini Menguatkanku

Rabu, April 28, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

ramadan 2021 dan masalah ujian hidup

Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

Oleh:  Badi Zulfa Nihayati

Tak ada yang ingin saya ucapkan kecuali rasa syukur di Ramadan kali ini. Setelah beberapa bulan merasakan gelapnya hidup, akhirnya titik terang itu datang juga. Saya semakin meyakini bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar ketimbang ujian yang Dia timpakan.

Saya renungkan kembali perjalanan saya beberapa bulan lalu. Ujian-ujian hidup datang bersamaan. Mulai dari kegagalan pernikahan, konflik-konflik di tempat kerja, teman-teman yang menusuk dari belakang, dan sederet permasalahan lain yang membuat saya jatuh ke titik terendah. Saya sempat lemah dan tidak cukup percaya diri untuk bangkit lagi.

Di sini saya tak punya teman dekat untuk berbagi. Tidak juga saudara. Sementara keluarga besar semua jauh di seberang pulau. Kadang ketika saya butuh bicara dan menghubungi mereka, mereka sedang sibuk dengan urusan mereka. Saya merasa kehilangan dukungan dari orang-orang terdekat. Saya tahu mereka sebenarnya mungkin ingin peduli, tapi mereka pun harus berjuang menghadapi kesulitan hidup mereka sendiri. Saya merasa sendiri.

Dan yang lebih menyedihkan lagi saya mengembangkan mentalitas sebagai korban. Dengan mentalitas ini saya jadi sering menyalahkan orang lain atau situasi atas kepedihan yang saya alami. Psikologis saya benar-benar kacau. Saya begitu sensitif dengan gangguan-gangguan kecil di sekitar saya. Lalu saya melampiaskannya dengan kemarahan yang justru tambah melukai batin saya sendiri.

Berserah Hanya Kepada-Nya

Situasi pandemi turut memperparah kondisi kejiwaan saya. Karena diterapkan Work From Home (WFH), saya banyak menghabiskan waktu di rumah. Interaksi saya dengan orang lain sangat terbatas. Satu-satunya interaksi yang intens saya miliki hanyalah dengan kucing-kucing rescue yang saya pelihara. Sembilan kucing saya selalu menemani saya di rumah selama menjalani isolasi yang panjang ini. Mereka yang selalu ada ketika tak ada seorang pun menemani.

Saya sering menangis di atas sajadah mengadukan kepedihan saya pada Allah. Allah tidak serta merta menjawab tangisan-tangisan saya. Namun di malam pertama  Ramadan yang penuh berkah, ada kesadaran baru terbit. Betapa banyaknya saya mengeluhkan nasib sehingga lupa mensyukuri yang saya miliki sekarang. Selama ini saya hanya fokus pada perasaan-perasaan saya yang luka tanpa berupaya melihat hikmah apa dibalik semua itu.

Dan ketika saya berusaha melihat dengan kacamata yang lebih jernih, saya tahu bahwa di luar sana banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung dari saya. Mereka ada yang kehilangan pekerjaan, tidak punya rumah, bahkan untuk makan sehari-hari kadang ada kadang tidak. Lalu saya melihat keadaan saya. Ketika menghadapi masalah yang berat sekalipun, saya masih menerima gaji tiap bulan. Saya punya rumah dan tidak pernah kekurangan makanan setiap hari.

Saya langsung istighfar, menginsyafi cara pandang saya yang salah selama ini. Saya bukanlah korban dari ujian-ujian yang saya hadapi, tapi sebagai orang yang dipilih Allah untuk dibentuk lebih kuat dan lebih baik lagi. Terima kasih ya Allah telah memberiku kesempatan bertemu dengan Ramadan kali ini. Di bulan mulia ini seolah saya terlahir kembali sebagai seorang yang berhenti mengeluhkan situasi. Saya lebih banyak mengucapkan terima kasih atas keberadaan saya di dunia ini.


Sumber : fimela

0 comments: