Industri Kosmetika Diproyeksi Tumbuh 7 Persen Tahun Ini

Dalam lima tahun belakangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat ada 185.290 produk kosmetika yang beredar di masyarkat. 

Ilustrasi. - Antara

Industri kosmetika tahun ini memproyeksi penjualan akan kembali membaik seiring dengan proyeksi pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi Covid-19 dengan vaksinasi yang sedang berjalan. 

Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAK Indonesia) memproyeksi penjualan pada tahun ini akan bertumbuh pada kisaran 7 persen menjadi US$7,45 juta dari 2020 US$6,95 juta. Adapun perolehan pada tahun lalu terbilang stagnan mengingat pada 2018 industri ini mencatat penjualan yang juga berkisar US$6,90 juta. 

Ketua Harian Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAK Indonesia) Kusuma Ida Anjani mengatakan saat ini industri kosmetika membagi dua kategori yakni kosmetik yang terdiri dari makeup base dan dekoratif dan perawatan yang terdiri dari personal care dan skin care. 

Dia menyebut tren penjualan tahun lalu memang menunjukkan tren berbeda di mana kategori kosmetik menurun tetapi perawatan home care meningkat.

"Tahun ini didukung ekspektasi pemulihan ekonomi dan penanganan Covid-19 semakin baik, juga adanya vaksin harapan kami akan mulai membaik sampai tahun depan," katanya dikutip dari sebuah webinar, Senin (12/4/2021). 

Sisi lain, Kusuma menyebut perkembangan industri kosmetika ini memiliki tren perkembangan yang baik. Dalam lima tahun belakangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat ada 185.290 produk kosmetika yang beredar di masyarkat. 

Sementara data terakhir Kementerian Perindustrian pada 2018 ada 153 industri kosmetika baru skala kecil menengah. Angka itu mengakumulasi jumlah industri kosmetika secara keseluruhan menjadi 760 perusahaan, di mana 95 persennya diisi oleh IKM  dan hanya 5 persen industri skala besar. 

Adapun, dari sisi penjualan sejak tahun lalu perubahan perilaku konsumen juga tidak luput dari industri ini. Pasalnya, penjualan secara daring tumbuh menjadi 21 persen dari sebelumnya hanya 14 persen. 

"Jadi industri mesti melakukan adjusting dalam pemasaran dengan sisi lain tentunya juga mengembangkan produk inovasi yang kini trennya memiliki multifungsi, tidak hanya cantik tetapi juga sehat," ujarnya. 


Menurut Kusuma, sejak tahun lalu data pencarian google juga terus menunjukkan peningkatan dengan sejumlah kata yang berkaitan dengan perawatan secara personal. Hal itu juga melihat tren makeup dekoratif yang saat pandemi hanya sebatas digunakan untuk webinar atau sejenisnya. 

Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan sektor kosmetik masih tumbuh signifikan pada 2020 ini. Hal itu terlihat dari kinerja pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, di mana kosmetik termasuk di dalamnya, tumbuh 9,39 persen dan berkontribusi 1,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Dia menjelaskan industri farmasi dan obat tradisional, termasuk kosmetik, diharapkan terus didorong menggunakan bahan baku lokal karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara penghasil produk jamu dan kosmetik berbahan alami lainnya seperti China, Malaysia maupun Thailand. 

"Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah dengan jumlah sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia," jelasnya.

Sumber : bisnis

No comments

Powered by Blogger.