Kisah Ibnu Jamil Terabas Hutan Kalimantan dan Sosok Mistis yang Bikin Nangis


Bertualang di tempat yang tidak mudah terjangkau manusia tidak lepas dari cerita-cerita unik, bahkan mistis. Salah satunya dialami artis Ibnu Jamil ketika bertualang menggunakan motor trail Honda CRF 150 ke Kalimantan.

Menerobos jalan darat hutan Malinau - Krayan di Kalimantan Utara sejauh 200 kilometer, Ibnu Jamil bersama 4 sahabatnya dari tim Serigala Rider menembus medan-medan yang sulit dilalui. Dengan area yang tidak jarang terbatas dan harus saling jaga, Ibnu Jamil dan kawan-kawan suatu saat mesti menghadapi sebuah tanjakan curam dan pepohonan besar.

Medan teramat berat. Dengan bahu membahu, satu per satu sepeda motor naik ke atas bukit. Sampai akhirnya dua motor sudah tiba di atas, dan tiga motor masih di bawah, termasuk Ibnu Jamil. Di sinilah kemudian Ibnu Jamil mengalami hal ganjil.

"Kejadiannya sekitar pukul 4-5 sore di salah satu tanjakan. Matahari sudah mulai hilang, ditambah hutan lebat, mirip maghrib. Waktu itu hujan lebat, pas giliran gue mau naik, gue lihat wajah Gareng ada cahaya oranye," kata Ibnu Jamil.

Gareng atau yang bernama Wisnu Guntoro Adi adalah team leader adventure ke hutan Malinau - Krayan. Logika Ibnu Jamil dan kawan-kawan masih menguasai. Ia pun berpikir bahwa cahaya oranye di wajah Gareng adalah pantulan cahaya knalpot salah satu sepeda motor.

Anehnya, tiga orang di bawah juga melihatnya. Artinya, apa yang dilihatnya bukanlah halusinasi individual sekalipun tidak bisa ditampik bahwa rasa lelah terasa amat sangat.

"Gue sempat mikir itu apaan tuh. Ini bukan halusinasi, kita bertiga melihatnya. Akhirnya gue dan tim sadar," ungkapnya.

Semua terpaku atas kejadian yang dilihatnya. Satu hal yang segera terpikirkan bersama-sama, Ibnu dan tim berusaha menjaga lisan dan tidak berucap sembarangan serta berdoa. Ia dan kawan-kawan memilih diam sambil berusaha keras menaikkan motor ke atas.

Suara Tangisan

Namun selang berapa lama, terdengar suara tangisan. Rupanya salah satu anggota rombongan kedapatan menangis. Usut punya usut, ternyata rekan tersebut melihat manusia setengah badan, mirip pakaian tradisional suku pedalaman Kalimantan.

Sambil terus menangis, rekan biker tersebut mengaku pula teringat neneknya. Karena merasakan kejanggalan, Gareng dan Ibnu Jamil berusaha menenangkan rekan tersebut, takut sang kawan melakukan tindakan yang tidak terkendali.

"Kita akhirnya nenangin. Karena kita takut dia kehilangan kendali dan takut alam bawah sadarnya dikendalikan. Alhamdulillah akhirnya tenang," ungkap Gareng.

Mereka lantas terus berdoa. Cahaya oranye yang terlihat tadi pun dianggapnya sebagai penolong atas doa-doa mereka.

"Kita semua akhirnya menganggap bahwa cahaya oranye adalah cahaya penolong dari doa kita yang sudah kepayahan karena beratnya medan," tambah Gareng.

Dalam satu perjalanan, mereka bertemu salah satu tetua adat Dayak. Ketua adat ini kemudian menjelaskan bahwa tim sebenarnya telah melewati salah satu makam leluhur Suku Dayak setempat.

"Dia tanya, apakah kamu melewati satu titik (area makam leluhur), kami jawab tidak tahu. Bagaimana kami tahu, yang kami lewati hutan, gelap dan kami sendiri tidak tahu ini di mana. Orangnya baik sekali. Dari situ kami akhirnya mengerti," tambah Gareng.

Dari perjalanan selama 6 hari, Ibnu Jamil dan teman-temannya mengambil banyak hikmah dari perjalanan yang melelahkan dan sejatinya mustahil dilalui kendaraan bermotor.

"Selama perjalanan kita semua berpikir positif, menjaga kekompakan. Menjaga hati, pikiran, dan perkataan. Dan pastinya kita menyampaikan kepada Indonesia, bahwa nasionalisme saudara-saudara kita di Krayan jangan diragukan lagi meski dalam kondisi sangat terbatas dan berbatasan langsung dengan Malaysia, mereka tidak tergoda. Saya berharap pemerintah memperhatikan mereka, memperhatikan kehidupan dan pembangunan di sana," tukas Ibnu Jamil.

Sumber :Otosia.com

No comments

Powered by Blogger.