Kisah Tionghoa Peranakan Muslim di Lasem, Sehari-hari Pakai Bahasa Jawa

(Foto: Doddy Handoko)

KOTA Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah adalah kota kecil yang unik, berbagai agama bisa berkembang dengan damai. Lasem selain mendapat predikat sebagai kota santri, juga kota peranakan Tionghoa. Sekitar 29 pondok pesantren berdiri di Lasem. Warga Lasem dan para santri bisa hidup berdampingan dengan warga keturunan .

Kota Lasem tidak bisa dipisahkan dengan Pecinan mengingat kedatangan orang Tiongkok terbesar di Jawa adalah di Lasem.

"Bahkan, sejarah mencatat tahun 1411 warga Tionghoa muslim sudah membangun sebuah masjid di Lasem jadi kota Lasem merupakan kota kecil yang unik menjaga toleransi sejak nenek moyang dan lasem merupakan muniatur kebhinekaan," ujar Mohammad Al Mahdi atau biasa dipanggil Koh Lam, penggiat sejarah Lasem.

Koh Lam adalah peranakan Tionghoa yang beragama Islam. Ia mempunyai darah Tionghoa bermarga Lie. Ia lahir dan besar di Lasem sampai usianya yang ke-50 tahun.

Ia sejak kecil sudah terbiasa berinteraksi dengan teman-teman Jawa dan Tionghoa. "Saya sering minum kopi lelet di warung kopi dengan teman dan tetangga baik Jawa dan Tionghoa, biasa saja, bukan hal yang aneh," ungkapnya.

Menurutnya, sejak kecil tidak ada yang mempermasalahkan tentang identitasnya sebagai peranakan Tionghoa. Ia beribadah seperti layaknya seorang muslim. Saat bulan puasa juga menjalankan ibadah puasa. Demikian juga saat hari raya Idul Fitri, ia merayakan dengan keluarganya.

"Sampai sekarang tidak ada diskrimasi, baik-baik saja. Saya sehari-hari komunikasi pakai bahasa Jawa," ucapnya.

Ia terlahir dari seorang ibu yang berprofesi sebagai koki. Ibunya sering dipercaya memasak di acara pesta pernikahan para Tionghoa di Lasem.

"Saya paham kuliner peranakan yang ada di Lasem," ucapnya.

Satu di antara yang paling istimewa dalam hal memasak ibunya adalah masakan bernama serepeh.

"Ibu saya sangat piawai memasak serepeh, sayur santan kental berwarna agak kemerahan dengan pelengkap daging ayam dan telor, yang mempunyai rasa khas dan cocok untuk bumbu makan nasi uduk aroma santan. Bumbunya serta rasa di lidah masih terbayang sampai sekarang," ungkapnya.

Ia kini sebagai pemerhati sejarah dan budaya, aktif di beberapa komunitas sejarah. Ia dan beberapa temannya mendirikan Yayasan Lasem Kota Cagar Budaya (LKCB). Ia juga perprofesi sebagai pemandu wisata di kota Lasem .

Sejak dulu hobinya, menjelajah mengunjugi situs peninggalan kuno. Ia punya ketertarikan khusus pada peninggalan batu (megalitik) dan peninggalan awal Islam .

Selain kegiatan penelitian, ia juga aktif di media sosial dan menulis beberapa buku, seperti "Masjid jami Lasem Tinjauan Makna Filosofi dan Arsitektur", Kisah Pejuang Perang Lasem, Santri. Priyayi dan Tionghoa," . "Menyibak Sejarah Kopi Lelet Khas Lasem, " Lasem Pintu gerbang Masuknya Islam di Pesisir Utara Jawa ,dll.

Ia mempunyai keinginan untuk menulis sejarah kedatangan tionghoa muslim di Lasem.


Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.