Legiun Mangkunegaran Tentara Jawa Warisan Napoleon

Legiun Mangkunegaran. (Foto: Koleksi Tropenmuseum/puromangkunegaran.com)

DALAM buku ‘Legiun Mangkunegaran, 1808-1942: Tentara Jawa-Perancis Warisan Napoleon Bonaparte’ dituliskan, Legiun Mangkunegaran adalah organisasi militer ala Eropa, tepatnya militer Prancis yang merupakan institusi modern di Asia pada zamannya yakni awal abad ke-19.

Sejarah Praja Mangkunegaran seiring kemunculan pendirinya yakni Mangkunegara I yang dikenal sebagai Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Sejarah Legiun Mangkunegaran berjalan paralel dengan Praja Mangkunegaran.

Nama Legiun mengadopsi organisasi militer Prancis, yang pada tahun 1808-1811 pernah menguasai Jawa di bawah kekuasaan Napoleon Bonaparte.

Semasa Deandels, seragam pasukan Legiun Mangkunegaran mengadopsi busana Eropa: mengenakan topi syako, jas pendek di muka berwarna hitam, di belakang memakai kencer dan bercelana putih. 

Pemerintahan Deandels di Jawa, seperti disebut sejarawan Peter Carey dalam tulisan lainnya ‘Daendels and the Sacred Space of Java, 1808-11 (2013)’, memberikan pangkat kolonel penuh kepada Pangeran Prangwedono alias Mangkunegara II.

Pangeran juga memiliki pasukan pribadi dengan kekuatan 1.250 personel sebagai sebuah legiun yang meniru Legiun Batavia milik Daendels yang tidak panjang umur. Pangeran belakangan mempunyai Legiun Mangkunegaran yang dikendalikan oleh KNIL dan harus siap dikerahkan dalam konflik yang melibatkan Belanda. Prangwedono memiliki seragam kolonelnya yang ala Eropa.

Pemerintahan Daendels yang militeristik mengubah dunia politik dan sosial di Jawa. Salah satu warisannya adalah seragam militer.

“Warisan busana—khususnya, warisan kode pakaian militer alternatif di pengadilan adat dan dalam birokrasi kolonial—adalah produk sampingan dari pemerintahannya,” tulis Carey (2021:37). 

Pemerintahan Daendels memberikan pangkat militer kepada pejabat Eropa dan lokal pribumi. “Barangkali dia (Daendels) akan mengarahkan mereka (para pejabat) untuk lebih disiplin,” tulis Carey.

Legiun Mangkunegaran berada pada posisi sebagai satuan militer yang membantu Prancis-Belanda, Inggris semasa Raffles dan Hindia Belanda.

Dalam perang Napoleon, 1908-1811, Legiun Mangkunegara berada di kubu Prancis-Belanda menghadapi Inggris. Namun oleh Raffles kemudian Legiun ini dijadikan tentara yang membantu Inggris. 

Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan kedudukan Legiun Mangkunegaran lebih baik tidak dilihat secara hitam putih. Tetapi dilihat dari aspek profesionalitas dan bukan hanya sekedar nasionalisme karena nasionalisme mereka adalah Legiun itu sendiri.

Legiun Mangkunegaran merupakan prajurit profesional pertama di Nusantara. Prajurit Mangkunegaran disebut prajurit profesional karena mendapat pendidikan Eropa dan hanya bekerja sebagai prajurit saja dan ketika pensiun juga mendapatkan dana pensiun. Walaupun, prajurit Mangkunegaran juga digunakan VOC saat berperang. 


Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.