Mengulik Asal Mula Tepuk Tangan yang Jadi Perbincangan

Ilustrasi tepuk tangan. (ANTARA FOTO/M Risal Hidayat)

 

Bertepuk tangan menjadi kebiasaan banyak orang di berbagai penjuru dunia sebagai bentuk apresiasi. Keriuhan tepuk tangan biasa ditemui dalam konser musik, menyemangati atlet favorit dalam kejuaraan, melihat presentasi kerja rekan Anda atau mungkin ajang penghargaan seperti Oscar.

Baru-baru ini, heboh perbincangan tentang tepuk tangan merupakan budaya Yahudi. Namun sebenarnya, dari manakah asal mulanya tepuk tangan?

Gestur tepuk tangan disebut sudah ada sejak munculnya peradaban manusia. Tepuk tangan bisa jadi adalah salah satu budaya paling primitif dalam peradaban. Bahkan bayi melakukannya secara naluriah.

Sebagaimana dilansir The Guardian, tepuk tangan mirip seperti 'diam' dalam sebuah pemakaman. Jika diam dalam sebuah pemakaman adalah bentuk penghormatan terakhir pada yang telah gugur sekaligus dianggap pengejawantahan dari duka, tepuk tangan, sedikitnya mirip dengan tujuan ini, tapi dalam suasana berbeda.

Tepuk tangan adalah ungkapan penghargaan dan antusiasme yang biasanya ada dalam sebuah pertunjukan. Misalnya seperti pertunjukan teater, olahraga, atau sebuah pidato. Tepuk tangan menandakan keceriaan, apresiasi, dan kebahagiaan.

Forbes bahkan menyebut tepuk tangan sudah menjadi budaya di Kekaisaran Romawi. Selama pertunjukan teater atau saat berperang, tepuk tangan menjadi cara bagi para pemimpin untuk menilai suasana. Kekaisaran Romawi juga menggunakan tepuk tangan sebagai media pemungutan suara.

"Anda hampir dapat menganggap ini sebagai jajak pendapat kuno, beginilah cara Anda mengukur kemampuan seseorang," kata Greg Aldrete, Profesor Sejarah dan Kemanusiaan dari University of Wisconsin.

Lambat laun, tepuk tangan kemudian menjadi kebiasaan orang-orang saat menonton teater. Seorang ahli etologi dari Inggris, Desmond Morris, mengatakan bahwa tepuk tangan di teater ibarat memberikan semangat dari jauh untuk para pemain.

"Saat kita tepuk tangan, efeknya sebenarnya seperti kita menepuk punggungnya dari kejauhan," katanya.

Perkembangan tepuk tangan

Tepuk tangan juga berkembang seiring zaman. Tepuk tangan kini tak hanya dijumpai pada pertunjukan teater dan olahraga. Tepuk tangan bisa Anda jumpai bahkan saat penobatan presiden, saat selesai presentasi, bahkan dalam ibadah keagamaan tertentu. 

The Atlantic mengatakan, tepuk tangan kini bisa memiliki sebuah pesan terselubung, bergantung pada metode tepuk tangan, irama, dan berapa lama Anda melakukannya.

Seseorang bisa saja terus bertepuk tangan selama satu jam penuh setelah selesai menonton sebuah opera. Tepuk tangan dalam waktu lama dan ketukan cepat diartikan sebagai tanda apresiasi dan kesukaan seseorang akan sebuah hal.

Sementara tepuk tangan lebih lambat, bisa diartikan sebagai hal yang membosankan, tapi juga sebaliknya. Ini bergantung pada tempat dan momen apa yang terjadi.

Dalam sebuah ajang olimpiade lari misalnya, penonton biasanya akan bertepuk tangan lambat-lambat untuk menyemangati pelari sampai peluit tanda dimulainya perlombaan berbunyi. Namun, dalam sebuah acara tertentu, tepuk tangan lambat justru menandakan kurangnya antusias.

Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.