Ritual Tanam Kepala Kambing di Sedekah Bumi Keramat Ganceng Pondok Rangon


Sedekah bumi di Betawi merupakan tradisi warisan pra Islam. Sebelum Islam masuk ke betawi, orang betawi mengadakan upacara sedekah bumi ditujukan untuk Dewi Sri. Tokoh Dewi Sri ini dianggap Dewi kesuburan bagi pertanian.

Dewi Sri merupakan salah satu dari tiga makhlus halus, dua lainnya adalah Ratu Kidul untuk di laut dan Raksasa untuk di hutan. Hanya dua makhlus itu saja yang mendapatkan sesajen atau diupacarakan, yaitu Dewi Sri berupa sedekah bumi dan Ratu Kidul berupa nyadran (menghanyutkan sesajen dan kepala kerbau ke laut).

“Awalnya orang Betawi belum mengenal konsep ketuhanan. Konsep ketuhanan muncul ketika manusia Betawi menyadari bahwa kehidupan itu bukan di sawah, di hutan dan di laut saja. Ada kekuatan lain yang lebih besar dari itu semua. Kehidupan ada pada pengharapan tentang hidup dan mati. Disinilah muncul kesadaran orang Betawi tentang Tuhan yang disebut dengan Yang Kuasa,”kata Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra.

Setelah Islam datang dan menjadi agama yang dianut oleh orang Betawi, tradisi sedekah bumi masih dipertahankan walau hanya di tempat tertentu, begitu pula dengan nyadran.

Karena proses akulturasi Islam, upacara sedekah bumi dan nyadran bukan lagi ditujukan kepada Dewi Sri atau Ratu Kidul, tetapi ditujukan kepada Allah , Yang Kuasa.

Ritual tradisi sedekah bumi atau desa yang sebenarnya justru lebih dekat dengan masyarakat pedesaan di Jawa Tengah ini dilakukan di kawasan Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur.

Pondok Rangon adalah sebuah wilayah atau desa yang terletak di wilayah Jakarta Timur. Sebelah timur berbatasan dengan Bekasi dan sebelah selatan dengan Depok. Daerah ini memakai budaya Betawi tapi berbahasa Sunda

Di Pondok Rangon ini masih terdapat tradisi sedekah desa atau sedekah bumi. Tradisi ini setiap tahun digelar di makam leluhur warga Pondok Rangon yakni makam keramat Ganceng dan makam keramat Embah Uyut Embah Kudung.

“Sedekah bumi di makam keramat Ganceng diadakan pada hari Jumat terakhir di bulan Haji atau Dzulhijjah,”kata Boim Diman, sesepuh masyarakat Pondok Rangon.

Sesuai tradisi yang turun temurun, disembelih 4 ekor kambing. Kelima kepala kambing diarak keliling desa. Masyarakat yang mengiringi berduyun-duyun sambil membunyikan berbagai alat musik tardisional. Kepala kambing itu disebarkan ke lima wilayah perbatasan Kelurahan Pondok Ranggon dengan sekitarnya.

Di sudut-sudut desa Pondok Rangon, kepala kambing itu di tanam diiringi upacara ritual oleh sesepuh desa.

Empat kepala kambing ditanam di pertigaan atau perempatan jalan seperti perbatasan di TPU Pondok Rangon, Makam Kramat Ampel, dan perbatasan wilayah DKI Jakarta dengan Jawa Barat.

Kelurahan Pondok Ranggon memiliki 6 RW dengan 63 RT. Arak-arakan kepala kambing ini berakhir di Rawa Jemblung di danau Situ Baru, Jambore – Cibubur.

Dijelaskan Boim, awalnya sedekah bumi tata caranya adalah dengan menempatkan empat kepala kerbau di empat penjuru mata angin di perbatasan wilayah dan satu di tengah atau pusat (pancer) yang disebut dengan ajaran Papat Kalima Pancer. “Karena harga kerbau mahal, maka kepala kerbau diganti dengan kepala kambing,”ungkapnya.

Setelah mengarak kepala kambing, warga kembali ke lokasi sekitar makam Keramat Embah Uyut Embah Kudung. Di makam itu telah disiapkan nasi tumpeng raksasa serta sejumlah sesaji .

Sesaji itu berupa lauk pauk seperti daging ayam dan nasi tumpeng. Tumpeng ini dibuat khusus dengan bagian puncak ditancapi dengan berbagai macam hiasan seperti cabai, bawang merah, sirih, gula merah, ikan asin, merang, daun kelapa atau daun aren, dan sepotong bambu yang masih muda. Selain itu juga jajanan pasar dan pisang emas.

“Ini merupakan simbol adanya harapan supaya Tuhan melimpahkan rahmat dan keselamatan terhadap seluruh penduduk bumi,”urainya.

Setelah didoakan sesepuh desa, tumpeng dan beragam dimakan beramai-ramai oleh warga desa. Mereka juga lantas ramai-ramai berkumpul mengikuti pesta rakyat yang meriah. Biasanya dalam acara sedekah desa itu terdapat tari topeng, jaipongan, wayang golek, wayang kulit dan panjat pinang.

Dipaparkan Yahya, penduduk Pondok Rangon menyebut dirinya sebagai orang sunda, bukan betawi. Adat istiadat penduduk asli Pondok Rangon bercampur dengan adat sukun jawa.

Adat warga Pondok Rangon masih banyak pamali atau pantangan. Pantangan itu misalnya dilarang makan nasi bercampur daun singkong. Ada lagi pamali yang mirip dengan tradisi jawa , seorang gadis tidak boleh duduk di depan pintu yang konon bisa menyebabkan orang yang akan melamar batal tanpa sebab.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.