Sejarah Kaum Sufi Sebarkan Ajaran Islam di India Melalui Pertanian

Syiar Islam. (Foto: Freepik)


Ada beragam sejarah syiar Islam di penjuru dunia. Misalnya di India, kaum sufi menyebarkan ajaran Islam melalui dunia pertanian. Ini cukup efektif karena banyak masyarakat memiliki mata pencarian di bidang pertanian.

Ketika berbicara mengenai sejarah penyebaran agama Islam, kebanyakan memang merujuk pada ekspedisi perdagangan. Padahal, ada bidang agrikultur atau dunia pertanian ini juga jadi alat syiar Islam.

Proses itu terjadi pada abad ke-8 hingga 15, terjadi yang namanya "koridor Islam" antara Eropa dan Asia yang meningkatkan praktik pertanian di seluruh Spanyol, Afrika Utara, dan Asia Selatan.

Mengutip dari laman Economic Times, para Muslim pada zaman itu mengambil tebu dari India dan menyebarkan budi dayanya ke bagian lain di dunia. Mereka juga diketahui memperkenalkan kopi ke mana pun.

Tidak berhenti di situ, umat Islam juga memopulerkan penggunaan roda air Persia yang menggunakan kekuatan hewan untuk mengairi pertanian.

Dampak proses ini, Islam menyebar ke pesisir India melalui pedagang laut. Proses ini berlanjut hingga daratan India utara dan dataran tinggi Deccan melalui panglima perang yang menjadi penguasa dan mengumpulkan pajak.

Dijelaskan, ketika Islam menetap di negeri itu, ada pekerjaan yang diciptakan di istana para raja dan bangsawan. Sehingga mendorong banyak orang untuk masuk Islam. Penduduk lain masuk Islam untuk menghindari pajak jizya yang berlaku pada masa itu.

Melalui fakta tersebut diyakini banyak orang India dari strata sosial dan ekonomi rendah masuk Islam. Alasannya jelas, supaya hidup mereka tidak terbebani dengan tagihan yang begitu berat.

Alasan tersebut begitu kuat, dilihat dari fakta bahwa negeri itu sebelumnya sudah kedatangan pedagang, penjajah, imigran, maupun mualaf lainnya. Kehadiran mereka hanya memberi persentase orang India yang masuk Islam sebanyak 10–15 persen dari populasi yang ada.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan negara-negara lain, misalnya di Persia. Di negeri ini penyebaran Islam begitu masif hingga mampu menumbangkan iman Zorpaster sepenuhnya.

Begitu juga terjadi di Spanyol dan Afrika Utara. Di negeri-negeri tersebut Islam berhasil mendominasi dan menggantikan kekristenan sepenuhnya.

Bicara mengenai India, di negara tersebut Hindu dan Jainisme bertumbuh pesat. Sesuai dengan data sensus India Inggris pada 1921, sebanyak 75–80 persen penduduk India beragama Hindu atau Jainisme.

Meski begitu, kelompok Muslim India terdapat di dua wilayah besar yaitu di Benggala Timur yang akhirnya menjadi Bangladesh dan di bagian utara Sungai Indus, di Punjab, yang kini menjadi Pakistan.

Nah, di dua wilayah tersebut, Islam berkembang dengan cara yang unik, yaitu pertanian. Praktik ini diterapkan oleh kaum sufi di antara komunitas-komunitas yang terpinggirkan sesuai dengan penelitian mendalam yang dilakukan oleh sejarawan Richard Eaton.

Ilmu Sufisme sendiri mengedepankan cinta kasih daripada hukum yang terkesan kasar. Praktik ini pun populer di Iran pada abad ke-12.

Para sufi tersebut datang bersama para sultan ke India. Jika Sultan memiliki kekuatan politik, maka para sufi memiliki kekuatan "mistis". Dukungan kaum sufi begitu besar untuk kelompok sultan, terkhusus dalam hal mengendalikan orang-orang.

Kaum India saat itu menyukai sufi karena mereka adalah pemimpin populer karismatik yang mendirikan pondok-pondok yang dikenal sebagai Khanekhaz. Selain itu, kaum sufi pun mendirikan sekolah yang dikenal sebagai Madrasas.

Tidak hanya itu, kaum sufi kerap menawarkan berbagai layanan seperti penyembuhan dan dikatakan memiliki kekuatan mistis yang sulit dianalisis dengan akal pikiran.

Seperti yang banyak kita ketahui sekarang, kaum sufi ini terkenal begitu "pop". Ia disukai karena pandai menyanyi dan menari, tetapi mereka tetap berpedoman pada Alquran, syariah, dan hadis. Mereka ini adalah orang-orang berpendidikan dengan kharisma luar biasa.

Kaum sufi juga diketahui menyediakan layanan hukum. Mereka juga membawa seluruh revolusi budaya di daerah tempat mereka tinggal. Hal ini terutama di wilayah Indus Utara dan Delta Gangga. Di daerah Punjab, para gembala Jatt yang bermigrasi bermukim di sekitar komunitas sufi.

Nah, peran para sufi inilah yang mengenalkan dunia agrikultur pada masyarakat India. Jadi, mereka membuat tanah gersang jadi tanah gambus yang sangat subur dengan memperkenalkan teknologi roda irigasi Persia. Orang India kuno menyebut teknik ini sebagai 'jala-yantra' atau 'ara-ghatta'.

Dikarenakan praktik ini terus dilakukan oleh warga sekitar, akhirnya tanah suburnya terus meluas. Selama beberapa generasi, orang-orang India ini memeluk Islam. Itu adalah transformasi budaya yang terjadi selama hampir 100 hingga 200 tahun. Karena itu, Sungai Delta berubah arah jadi ke barat.

Lebih lanjut orang-orang Mughal mendorong penduduk lain mengubah hutan belantara Delta Gangga yang sekarang dapat diakses menjadi lahan pertanian untuk memperluas basis pendapatan mereka.

Mengetahui kabar ini, akhirnya banyak umat Hindu arus utama dari golongan pemburu, nelayan, pratktisi kultus kesuburan tanah kuno, dan pelaku tantrik ritual datang "berguru" pada kaum sufi. Mengetahui banyak orang datang, kaum sufi pun mendirikan dargah dan masjid kecil untuk tempat memperkenalkan metode pertanian baru.

Lambat laun karena sering bertemu dengan kaum sufi yang ternyata menyelipkan ajaran Islam di dalam ajarannya, mereka para murid ini pun bertahap menjadi Muslim.

Kepercayaan akan Bon Bibi (dewi hutan) dan Satya Pir (orang suci sejati) pun mulai terkikis oleh paham-paham Islam yang diajarkan para intelektual Muslim tersebut. Bahkan, ajaran kaum sufi menjadi arus utama pada abad ke-19 setelah paparan pendidikan Eropa dan Gerakan Khilafah.

Reformasi dalam masyarakat Muslim yang dilakukan pemuda berpendidikan seperti kaum sufi ini pun mencerminkan gerakan reformasi dalam Hindu yang dipelopori Raja Ram Mohan Roy. Hal ini yang kemudian membuat India terbelah menjadi dua; Hindu dan Islam.



Sumber : okezone.com

No comments

Powered by Blogger.