Aral Sea, Danau Tanpa Air dan Pulau Virus Bikinan Soviet

Rabu, Mei 19, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Pemandangan gurun tandus bekas Aral Sea. (iStockphoto/Dynamoland)

Aral Sea membentang antara Kazakhstan dan Uzbekistan. Walau ada kata 'sea/laut' dalam namanya, tempat ini sejatinya ialah danau, bahkan ia pernah menyandang predikat danau terbesar keempat di dunia.

Namun yang mengherankan; tidak ada air di Aral Sea. Kondisi tersebut terjadi sejak tahun 1950-an ketika Perang Dingin berlangsung.

Saat itu, Uni Soviet mengalihkan dua sungai utama yang melintasi danau - Amu Darya dan Syr Darya - untuk melaksanakan proyek irigasi besar-besaran, khususnya untuk menanam kapas - tanaman yang dikenal haus akan air.

Hingga tahun 1960-an sampai 1980-an, ketinggian air di danau seluas 1,5 juta meter persegi ini turun hingga 20 persen.

Cuan perkebunan kapas yang dibuka di sekitar danau nyatanya tak berumur panjang. Malah, keringnya Aral Sea membawa kebuntungan bertahun-tahun, terutama dalam hal kelestarian lingkungan.

Uji coba senjata biologis Uni Soviet dengan virus cacar sampai antraks dilakukan di Pulau Vozrozhdeniye, bahkan sempat dilakukan di ruangan terbuka pada 1950-an.

Pangkalan itu ditinggalkan pada 1990-an setelah pecahnya Uni Soviet. Tabung-tabung yang berisi penelitian virus dikubur dan tanahnya dilapisi dengan pemutih.

Bertahun-tahun sejak ditinggalkan, pulau itu perlahan menyatu dengan daratan karena surutnya air laut.

Tim anti-teroris Amerika Serikat sempat mengunjungi sisa-sisa Aral Sea pada tahun 2001, dengan maksud membersihkan sisa senjata biologis di sana.

Tapi Nick Middleton, seorang penulis yang pernah berkunjung ke Pulau Vozrozhdeniye pada tahun 2005, mengatakan kalau masih banyak yang perlu dikhawatirkan dari pulau kosong itu.

Mengutip Dark Tourism, ia mengatakan kalau tabung reaksi dan bak makan untuk hewan uji masih teronggok. Bahkan banyak penjarah barang antik di sana yang datang dengan tidak mengenakan pakaian pelindung.

Pada tahun 2000, UNESCO mengembangkan rencana penyelamatan untuk Aral Sea dengan upaya mengalirkan air lagi ke sana pada tahun 2025. Rencana itu dianggap tidak realistis oleh banyak orang.

Tak sedikit yang menunjuk pemerintah Uzbekistan untuk "bertanggung jawab", karena di sana banyak ladang kapas yang beroperasi.

Tetapi, mengutip dari Atlas Obscura, pemerintah Uzbekistan enggan membuat perubahan, pasalnya ekonomi negara mereka yang rapuh masih bergantung pada keberhasilan perkebunan kapas.

Bank Dunia mendanai pembangunan sebuah bendungan kecil yang telah melindungi dan bahkan menaikkan permukaan air di bagian utara laut. Banyak yang merasa kalau usaha tersebut tidak akan bertahan hingga 15 tahun.

Saat pergi ke bagian Kazakh di Aral Sea, destinasi wisata yang paling populer di kalangan turis ialah bekas kota pelabuhan Aralsk.

Dari sana, perjalanan dapat dilakukan yang mencakup melihat "kuburan kapal" yang berkarat serta melihat perairan yang tersisa dan sedang berusaha dihidupkan kembali.

Kunjungan ke bagian Uzbek biasanya dilakukan melalui "kota hantu" Muynak, yang dulunya kaya akan hasil laut.



Sumber : cnnidonesia.com

0 comments: