Bangladesh Hapus 'Kecuali Israel' dari Paspornya

Selasa, Mei 25, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

ilustrasi (stutterstock)


BANGLADESH mengumumkan penghapusan kata-kata “kecuali Israel” di paspor baru mereka. Israel pun menyambut baik keputusan itu dan menganggapnya sebagai pencabutan larangan perjalanan selama puluhan tahun.

Namun dengan cepat Dhaka mengklarifikasi bahwa keputusan untuk menghapus kata-kata itu tidak berarti mengubah posisi Bangladesh terhadap Israel. Negara mayoritas Muslim itu masih belum mengakui Israel sebagai negara.

“Kami telah memutuskan untuk menghapus kata-kata ‘kecuali Israel’ dari paspor sejak enam bulan lalu saat kami memperkenalkan paspor elektronik. Ini untuk standarisasi paspor kami,” kata Menteri Luar Negeri Bangladesh, AK Abdul Momen di Dhaka seperti dilansir dari India Today, Senin (25/5/2021).

“Tapi kebijakan luar negeri kami akan tetap sama terhadap Israel. Kami tidak akan menjalin hubungan dengan Israel. Kami mendukung perjuangan rakyat Palestina. Kami juga mendukung solusi dua negara. Jadi, kebijakan luar negeri kami tidak akan berubah,” sambung Momen dalam konferensi pers, Minggu kemarin.

Paspor Bangladesh sebelumnya memiliki klausul tertulis di atasnya yang berbunyi: “Paspor ini berlaku untuk semua negara kecuali Israel”, tetapi pemerintah pada Sabtu lalu memutuskan untuk menghapus kata-kata “kecuali Israel” dari dokumen sehingga berlaku untuk seluruh dunia.

Sebelumnya, Wakil Direktur Jenderal untuk Asia dan Pasifik di Kementerian Luar Negeri Israel Gilad Cohen membuat cuitan di Twitter bahwa Bangladesh telah menghapus larangan perjalanan ke Israel.

"Berita bagus! Bangladesh telah menghapus larangan perjalanan ke Israel. Ini adalah langkah yang disambut baik dan saya menyerukan kepada pemerintah Bangladesh untuk bergerak maju dan membangun hubungan diplomatik dengan Israel sehingga kedua bangsa kita dapat memperoleh keuntungan dan kemakmuran," cuitnya.

Kementerian luar negeri Bangladesh pada hari Minggu lantas mengklarifikasi dalam sebuah tweet: "terlepas dari e-paspor baru, Bangladesh tidak mengubah posisi pada Israel termasuk larangan perjalanan."

"Bangladesh mengutuk kekejaman terhadap Palestina, dan menegaskan kembali posisinya yang berprinsip mengenai solusi dua negara dari konflik Palestina-Israel sehubungan dengan resolusi PBB," lanjutnya.

Dalam siaran pers, kementerian luar negeri Bangladesh mengatakan: "Perhatian Kementerian Luar Negeri baru-baru ini tertuju pada sebuah cuitan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Israel menyambut pencabutan larangan perjalanan ke Israel atas dikeluarkannya paspor elektronik oleh Bangladesh. Kebingungan tampaknya muncul dari buklet baru E-paspor yang tidak memuat observasi "semua negara kecuali Israel”.

"Penghapusan observasi telah dilakukan untuk menjaga standar internasional e-paspor Bangladesh dan tidak menyiratkan adanya perubahan kebijakan luar negeri Bangladesh terhadap Timur Tengah. Larangan perjalanan pemegang paspor Bangladesh ke Israel tetap tidak berubah. Pemerintah Bangladesh tidak menyimpang dari posisinya terhadap Israel dan Bangladesh tetap teguh pada posisi jangka panjangnya dalam hal ini.”

Wartawan senior Masud Karim menanggapi, "Saya pikir ini murni masalah teknis. Tidak ada kemauan politik Bangladesh untuk menjalin hubungan dengan Israel saat ini. Tidak ada negara yang menggunakan 'kecuali Israel' di paspor mereka. bukan masalah kebijakan luar negeri, tapi keputusan administratif oleh kementerian dalam negeri Bangladesh.”

“Jika itu masalah kebijakan luar negeri, (kementerian) dalam negeri harus membicarakan masalah itu dengan kantor luar negeri. Tapi tidak ada pembicaraan sama sekali antara kedua kementerian. Sebenarnya paspor itu identitas. Jadi, identitas itu harus standar,” tambahnya.

 ilustrasi

Ini terjadi tepat ketika gencatan senjata telah terjadi sejak Kamis antara Israel dan Palestina setelah pertempuran mematikan selama 11 hari yang merenggut banyak nyawa warga Palestina di Jalur Gaza.

Pernyataan itu juga menambahkan: "Pemerintah Bangladesh telah mengutuk kekejaman baru-baru ini yang dilakukan terhadap warga sipil oleh pasukan pendudukan Israel di kompleks masjid al-Aqsa dan di Gaza. Bangladesh menegaskan kembali posisinya yang berprinsip mengenai solusi dua negara pada konflik Palestina-Israel sehubungan dengan resolusi PBB yang mengakui perbatasan sebelum 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Negara Palestina."


Sumber : okezone.com

0 comments: