Bisnis ritel lokal di tengah pandemi: Stagnan, tapi bisa bertahan

Bisnis ritel menjadi salah satu sektor usaha yang paling telak terpukul pandemi covid-19. Usaha ritel skala besar yang tercatat sebagai emiten di bursa saham pun banyak yang menderita kerugian bahkan ada yang menutup sejumlah gerainya.

Jaringan ritel skala kecil dan menengah dengan lingkup lokal di luar grup korporasi besar pun ikut tertatih selama pandemi. 

Namun, Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun menekankan bahwa jaringan ritel lokal cenderung mampu bertahan, meski secara bisnis relatif stagnan.

"Kalau omzet turun, pasti. Yang rugi ada, yang tutup juga ada, tapi nggak banyak. Dari pengamatan kami, mereka (jaringan ritel lokal) mampu bertahan tapi sifatnya stagnan," kata Ikhsan saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa.

Secara ekspansi dan model bisnis, Ikhsan mengatakan bahwa secara umum jaringan ritel lokal masih sulit bersaing dengan ritel modern yang memiliki permodalan kuat, produk dan layanan lebih lengkap, serta rantai logistik yang berjejaring dengan solid.

Menurut Ikhsan, jaringan ritel skala kecil dan menengah ini lebih bisa bertahan di daerah ketimbang di perkotaan. Khususnya daerah yang menjadi destinasi wisata utama. Seperti yang ada di Bali.

"Di Bali banyak, mereka mampu bertahan meski wisata turun. Di sana kan justru ritel lokal yang merajai dibandingkan grup besar. Kalau di Jakarta beda lagi," sebut Ikhsan.

Dihubungi terpisah, Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus melihat selain karena ekonomi dan daya beli masyarakat yang masih lesu, tantangan ritel skala kecil dan menengah juga ada pada rantai pasok serta optimalisasi ekosistem digital.

Dia memberikan gambaran, dari sekitar 64 juta populasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia, baru 13% yang telah terhubung dengan ekosistem digital. Sedangkan 87% lainnya masih mengandalkan luring (offline) bahkan banyak yang seluruh aktivitas usaha mulai dari pembelian, penjualan, pemasaran hingga pembayaran masih sangat bergantung pada interaksi fisik.

Tantangan lainnya, melibatkan lebih banyak UMKM ke dalam ekosistem digital tidak lah mudah. Selain karena populasi yang besar, umumnya UMKM termasuk ritel skala lokal juga belum memiliki infrastruktur dasar untuk masuk ke ekosistem digital.

"Tantangan berikutnya juga meningkatkan literasi manfaat masuk ke ekosistem digital. Kecukupan pengetahuan akan  menambah motivasi untuk memprioritaskan segala sesuatunya agar terhubung, termasuk mengubah telepon seluler beserta paket internet miliknya menjadi 'warung' digital," terang Heri.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal juga menyampaikan bahwa ritel skala lokal mutlak membutuhkan pengembangan dan inovasi layanan agar ketimpangan dengan jaringan ritel modern skala besar tidak terlalu lebar.

Sebab, pilihan rasional konsumen akan mencari tempat berbelanja yang memiliki produk dan layanan lebih lengkap. Apalagi jaringan ritel besar memiliki sejumlah fasilitas penunjang yang bisa menarik pengunjung seperti adanya ATM atau layanan pembayaran. 

"Jadi semestinya (ritel lokal) tidak statis, terus melakukan improvement terhadap bisnis dan layanannya. Karena kalau gap terlalu jauh, sulit untuk survive," kata Faisal kepada Kontan.co.id.

Apalagi, pandemi covid-19 ini semestinya bisa jadi momentum yang tepat bagi ritel lokal dalam mengembangkan bisnisnya. Sebab, ada perubahan pola belanja masyarakat yang cenderung lebih memilih menjangkau ritel di dekat perumahan mereka, guna menghindari kerumunan dan mobilitas yang berlebihan.

"Tapi ritel kecil yang di kawasan pemukiman pun ada kompetisi, sehingga performa bisnisnya tidak sama. Tergantung dari mereka melakukan inovasi dan menjawab kebutuhan konsumen," pungkas Faisal.


Sumber :Kontan.co.id

No comments

Powered by Blogger.