Inspiratif, Perempuan Ini Sukses Berbisnis Jastip dari Asia hingga Eropa



  Menyenangkan rasanya bila memiliki hobi yang dapat menghasilkan uang. Kesenangan yang didapatkan dua kali bahkan berlipat.

Mendapatkan uang dari melakoni hobi, kesulitan yang dihadapi nyaris tak akan terasa. Hal inilah yang dilakukan oleh pebisnis asal Samarinda, Lailatul Hijrah.

Perempuan yang hobi traveling ini memanfaatkan hobinya untuk membuka jastip alias jasa titip fashion dari berbagai negara yang ia kunjungi. Mulai dari pakaian, sepatu hingga pernak-pernik.

Lela Calizta sapaan akrabnya, sudah tak asing dengan dunia bisnis. Sebelum menekuni bisnis jastip, Lela sempat menjajal bisnis kuliner dengan membuka Rumah Makan Khas Sulawesi Selatan, Coto Makassar dan Konro Bakar.

Namun sayangnya, bisnis tersebut tak begitu banyak peminatnya. Di sela-sela bisnis makanan khas itu, Lela membuka peluang baru masih dengan kuliner, yakni bihun dan bingka.Penjualan bihun dan bingka itu ia pasarkan melalui online, saay itu masih ramainya media sosial Path. Bisnis keduanya itu terbilang sukses di pasaran, sementara warung makan khas Sulawesi Selatan terpaksa tutup karena tak bisa bertahan.

"Mulai dari situ, penjualan bihun dan bingka mengingkat mengalami pertumbuhan. Lalu tahun 2017 saya mencoba promosikan lewat Instagram," ujar perempuan kelahiran 84 itu.

Melalui Instagram, bisnis sudah bisa menyebar luas ke masyarakat pengguna medsos. Apalagi saat itu, Instagram masih ramai-ramainya dan belum banyak akun online shop bertebaran.


"Saat promosi lewat Instagram, penjualan semakin meningkat pesat dari sebelumnya. Lalu saya tertarik mencoba bisnis lainnya, di bidang fashion dan jastip," imbuhnya.

Mulanya Lela membuka jastip hanya domestik saja, namun kini merambah hingga ke mancanegara. Beberapa negara yang telah didatanginya mulai dari Asia Tenggara, Eropa, hingga Timur Tengah.Kebanyakan pesanan merupakan barang-barang bermerek. Bila sedang ada fashion atau barang yang sedang ramai diminati, Lela tak segan terbang ke luar negeri untuk mendapatkan barang tersebut.

Tarif yang ditawarkan Lela untuk jastip luar negeri, ia mematok harga Rp 50 ribu per barang. Sementara biaya bagai ia pasang tarif Rp 144 ribu per kilogram.

Sebagai pebisnis jastip tentu saja ia pernah menemui hambatan. Salah satunya, hampir setengah dari barang-barang milik pelanggan rusak dan hilang saat di bagasi pesawat.

Namun ia tak putus asa, Lela menyadari resiko bisnis akan selalu ada. Sesuai misinya, Pantang Pulang Sebelum Berhasil. Dari bisnis yang ia jalani ini, Lela Calizta (LC) bisa menghasilkan keuntungan mencapai Rp 500 juta sampai Rp 700 juta per bulan.

Sumber :liputan6.com

No comments

Powered by Blogger.