Istana Musim Dingin nan Megah yang Dihuni Para Janda

Selasa, Mei 25, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Komplek istana musim dingin Qal-e-Kohna di Afghanista. (AFP/WAKIL KOHSAR)

Sempat menjadi kediaman musim dingin para sultan dari dinasti Islam termasyhur, reruntuhan kota kerajaan berusia seribu tahun di selatan Afghanistan telah menjadi rumah bagi ratusan orang yang melarikan diri dari bentrokan Taliban.

Pemukiman dengan bangunan dari tanah liat yang menakjubkan menjorok dari tebing di sepanjang Sungai Helmand, kini terancam oleh perluasan kota serta konstruksi sementara yang telah tumbuh di dalamnya.

Ribuan orang telah mengungsi di Helmand sejak Oktober menyusul lonjakan serangan Taliban, dan sementara banyak yang telah dimukimkan kembali di ibu kota Lashkar Gah - salah satu dari sedikit daerah di provinsi yang masih di bawah kendali pemerintah - beberapa telah bergabung dengan pengungsi lain di reruntuhan.

Qala-e-Kohna, seperti yang dikenal secara lokal, atau Lashkari Bazar bagi para arkeolog, telah menarik perhatian internasional karena skalanya, arsitektur dan muralnya yang luar biasa.

Berada di atas lahan lebih dari 10 kilometer, situs ini adalah satu-satunya kediaman musim dingin yang diketahui dari para sultan Ghaznavid dan Ghurid - dua dinasti yang menguasai wilayah yang meliputi Afghanistan saat ini antara abad ke-10 dan ke-13 dan bertanggung jawab untuk menyebarkan seni Islam hingga ke utara India.

"Tidak ada tempat di dunia Islam di mana kita memiliki sesuatu seperti ini - situs yang koheren, rumit, dan semuanya masih relatif terpelihara dengan baik," kata Philippe Marquis, direktur Delegasi Arkeologi Prancis di Afghanistan (DAFA).

"Penting untuk melestarikannya karena kami yakin itu akan banyak mengajari kami tentang periode ini," katanya kepada AFP.

'Tempat untuk hantu'

Di antara menara kuno, pintu dan jendela telah ditambahkan. Dinding yang runtuh dilapisi dengan campuran tanah liat dan jerami untuk memperkuatnya dan menutup celah.

Sebuah pintu besi tempa biru mengarah ke dua kamar Agha Mohammad yang sempit yang menampung 11 orang, terlihat ayunan sederhana untuk bayi laki-lakinya.

"Saya ingin pemerintah memberi saya tempat tinggal. Lihat retakan di atap. Saya khawatir suatu malam atap itu akan jatuh," kata Mohammad, seorang polisi berusia 33 tahun yang distriknya jatuh ke tangan Taliban.

Kawasan selatan Afghanistan telah menyaksikan pertempuran baru, karena pembicaraan antara pemerintah Afghanistan dan para pemimpin Taliban terhenti dan Amerika Serikat bersiap untuk menarik pasukannya yang terakhir dari negara itu pada September.

"Saya harus mendapat dukungan dari pemerintah, karena saya kehilangan tiga putra yang berperang," kata ibu berusia 48 tahun Bibi Halima kepada AFP dari dalam tembok istana.

"Setiap rumah penuh dengan janda," tambah seorang penghuni lainnya.

Banyak warga yang berasal dari keluarga polisi yang tidak mampu untuk tinggal di tempat lain, bahkan tidak memiliki akses listrik atau air ledeng.

Seorang pejabat dari departemen arkeologi negara itu di Kabul mengatakan telah ada laporan perampasan tanah di situs tersebut, dengan beberapa keluarga terpaksa membayar sewa kepada mafia setempat.

Bagi penduduk, kehidupan di dalam tebok berdinding bata bekas kota kerajaan adalah pengingat permanen tentang bagaimana negara tersebut belum bebas dari perang.

"Ini tempat hantu, bukan manusia," kata Khudai Nazar (54).

Melestarikan situs

Pertama kali dieksplorasi oleh DAFA pada 1950-an, situs di Afghanistan ini tidak lagi melihat pekerjaan konservasi sejak saat itu.

Saat itu, arkeolog mengidentifikasi istana, masjid, dan bangunan tambahan lainnya, seperti bengkel tembikar dan kerajinan, serta kotak es yang digunakan untuk mengawetkan makanan segar.

Salah satu penggalian yang paling mencolok adalah serangkaian lukisan yang menggambarkan pemandangan pengadilan, sangat jarang terjadi pada era di mana representasi makhluk hidup yang realistis tidak disukai dalam masyarakat Islam.

Pindah ke museum Kabul, lukisan-lukisan itu dihancurkan atau dicuri selama perang saudara Afghanistan pada 1990-an dan hanya foto-foto yang tersisa.

Direktur DAFA Marquis sekarang prihatin tentang dampak yang akan ditimbulkan para penjarah dan keluarga yang mengungsi di lokasi tersebut - serta efek pemanasan global, yang dapat menyebabkan sungai banjir.

Di sisi lain, penguatan konsturki dari tanah liat dan jerami yang telah ditambahkan ke sebagian area menara yang runtuh mungkin hanya untuk sementara.

"Paradoksnya adalah dengan cara mereka sendiri orang melindungi tempat itu, karena itu adalah rumah mereka," kata Marquis.

Dia mengusulkan untuk membangun sebuah "taman arkeologi" yang melibatkan para pengungsi dalam proses konservasi, sehingga mereka dapat mencari nafkah dan menetap di luar tembok istana.

Tetapi bagi penulis Shah Mahmud Haseat, yang telah menulis buku tentang benteng tersebut, masa depan reruntuhan yang sebagian besar belum dijelajahi tetap suram.

"Saya mencoba meyakinkan pemerintah untuk melindungi situs itu, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa. Kami sangat takut sejarah kami akan hancur."


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: