Sara Ahmed, Simbol Wanita Arab di Angkat Besi Olimpiade

Sara Ahmed catatkan sejumlah rekor di Olimpiade 2016. (AFP/GOH CHAI HIN)


Rasa takut menggelayuti Sara Ahmed ketika memasuki arena pertandingan angkat besi di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 di Riocentro - Pavilio 2. Pada saat itu, Sara hendak melakoni momen-momen penentuan pertandingan final angkat besi kelas 69kg putri.

Sorot mata penonton yang merupakan pendukung rivalnya dalam final itu membuat ciut nyali Sara saat hendak melakukan angkatan pertama.

Dalam final tersebut, Sara tidak saja bersaing dengan lifter-lifter dari Asia, tetapi ada juga dari Kolombia (Leidy Yessenia Arboleda) yang sama-sama dari Amerika Selatan dan lebih dekat dengan Brasil.

"Tetapi saya fokus pada pengangkatan dan mengedipkan penonton, terutama karena kebanyakan dari mereka mendukung pesaing saya dari Kolombia," ujar Sara dikutip dari Egypt Independent.

Dalam situasi tersebut, Sara mencoba menguatkan diri dengan pikiran positif, bahwa pertandingan itu hanya berlangsung satu jam dan dirinya bisa memberikan hasil terbaik.

Dengan mengenakan pakaian serba hitam yang menutupi lengan dan kaki serta penutup kepala merah, yang mencerminkan warna Mesir, Sara cukup percaya diri dalam angkatannya.

"Alhamdulillah, saya mengakhiri snatch di tempat ketiga, dan saya bertekad melaluinya hingga akhir," ucap Sara.

Perjuangan sebenarnya bagi Sara terjadi di angkatan clean and jerk. Pada momen tersebut, terdapat empat lifter yang berjuang ke podium: Sara Ahmed (Mesir), Xiang Yanmei (China), Zhahira Zhapparkul (Kazakhstan), dan Leydi Solis (Kolombia).

Xian Yanmei begitu tangguh di angkatan pertama dan kedua dengan angkatan terbaik di angka 145kg. Leydi Solis juga mengancam dengan dua angkatan beruntun 140kg dan 143kg.

Egypt's Sara Ahmed competes during the Women's 69kg weightlifting competition at the Rio 2016 Olympic Games in Rio de Janeiro on August 10, 2016. (Photo by Stoyan Nenov / POOL / AFP)Sara Ahmed sempat gugup pada fase-fase babak final di Olimpiade 2016. (AFP/STOYAN NENOV)

Zhahira sempat gagal di angkatan pertama dengan 140kg, namun berhasil di angkatan kedua dan ketiga dengan 140kg dan 144kg.

Sementara itu Sara memulai dengan angka yang lebih kecil dari ketiga pesaingnya: 135kg di angkatan pertama dan 140kg di angkatan kedua.

Di tengah ketegangan tersebut, pada fase-fase akhir penentuan perebutan medali, Sara teringat dengan ibunya.

"Dalam clean and jerk [ketiga] saya mengangkat 143kg, Solis mencoba mengangkat 146kg untuk mengalahkan saya, tetapi dia gagal, dan saya memenangkan medali dengan total angkatan 255kg," ucap Sara dikutip dari Ahram.

"Itu rekor baru bagi saya. Allah membantu saya sepanjang malam itu," tutur Sara menambahkan.

Dengan total angkatan 255kg, Sara Ahmed dinobatkan sebagai peraih medali perunggu. Sementara emas dan perak jadi milik Xiang Yanmei serta Zhahira Zhapparkul.

Sejak itu sejarah tercipta, Sara Ahmed sebagai atlet Mesir pertama yang meraih medali Olimpiade dari seluruh cabang olahraga.

Saat dia menundukkan kepalanya ketika menerima medali, Sara seperti mewakili kekuatan wanita Muslim dunia. Prestasinya itu mengganggu isu pelarangan hijab di Prancis dan juga penindasan terhadap wanita Muslim di Amerika Serikat serta di tempat lain.

Prestasi Sara, yang pada Olimpiade 2016 masih 18 tahun, diukir setelah 104 tahun Mesir ikut Olimpiade. Dia juga disebut sebagai wanita Arab pertama yang memenangi medali Olimpiade di cabang angkat besi.

"Ini adalah kehormatan yang sangat besar, dan saya tidak bisa mengungkapkan pikiran saya," kata Sara dilansir dari Olympics.com.

Capaian Sara Ahmed di Olimpiade 2016 terbilang mengagumkan, karena dua tahun sebelumnya wanita asal Ismailia, Mesir, itu meraih medali emas di Youth Olympics Games 2014 di Nanjing, China.

"Seluruh Mesir sudah menunggu satu atau dua medali dari tim kami," kata Sara.

Menurut laporan Reuters, pada Olimpiade London 2012, lifter putri Mesir Abeer Abdelrahman menempati posisi kelima di kelas 75kg.

Akan tetapi, karena tiga teratas atau peraih medali di kelas tersebut tersangkut kasus doping, maka Abdelrahman dinyatakan meraih medali perak.

Hanya saja, medai perak itu baru diberikan kepada Abdelrahman pada 2016 setelah Komite Olimpiade mendiskualifikasi ketiga peraih medali sebelumnya.

"Tetapi, saya yang [wanita Mesir] pertama berada di podium," ucap Sara yang mengenal angkat besi dari kakaknya.

Sara Ahmed kemudian mendedikasikan medali perunggu Olimpiade 2016 untuk seluruh rakyat Mesir dan keluarga, khususnya sang ayah yang mendukung karier di angkat besi.

"Saya teringat semua usaha saya sebelum Olimpiade, cedera saya. Itu seperti film. Saya juga teringat ayah yang meninggal pada 2015 sebelum Kejuaraan Dunia Junior di mana saya memenangkan tiga medali emas," ujar Sara.

"Jadi, saya mendedikasikan pencapaian ini untuknya, atas bantuan dan dorongan beliau. Saya berutang banyak padanya," kata Sara menambahkan.

Di Olimpiade Rio de Janeiro, Sara adalah simbol wanita kuat. Betapa tidak, dengan tubuh mungil yang hanya 155cm, dia bisa mengangkat beban hingga 255kg.

Kekuatan itu juga yang menunjukkan keteguhannya pada agama Islam, dengan tetap mengenakan kerudung saat melakoni pertandingan resmi di Olimpiade.

Sara bisa mengenakan hijab dan pakaian yang serba tertutup saat bertanding setelah Federasi Angkat Besi Internasional mengubah peraturan tersebut pada 2011.

Sebelum peraturan itu diubah, sangat sedikit wanita di Arab menggeluti olahraga angkat besi karena masalah pakaiannya yang hanya menggunakan singlet dianggap tidak sopan.

"Saya berharap ini akan mendorong gadis-gadis lain berolahraga. Generasi baru angkat besi bisa lahir, sebuah awal yang baru," kata Sara.

"Saya harap, saya bisa membantu membangun kembali Mesir sebagai negara angkat besi yang sukses," tutur Sara.

Liku-liku cerita dilakoni Sara Ahmed dalam menggeluti angkat besi. Dikutip dari Albawabhnews, sejak kecil Sara sudah bercita-cita menjadi atlet angkat besi.

Kecintaan Sara pada angkat besi terjadi pada 2011, saat dia diajak kakaknya yang juga juara angkat besi berlatih dan kemudian bergabung di tim Sekolah Institusi Militer di Ismailia.

Bakat Sara Ahmed di angkat besi sudah terlihat sejak dini. Pada usia 11 tahun, dia bisa jadi juara di tingkat regional Ismailia, lalu meningkat menjadi juara nasional meskipun memiliki usia lebih muda dibanding para pesaingnya.

Progres dimiliki Sara Ahmed dengan bergabung ke timnas angkat besi Mesir guna mengikuti sejumlah kejuaraan di benua Afrika dan internasional. Pada masa-masa itu, total 19 medali dikoleksi Sara dengan di antaranya: satu medali emas dan satu perunggu.

Meski sukses di arena pertandingan, nasib tragis dirasakan Sara di bangku sekolah. Bentrokan jadwal turnamen Sara dengan pendidikannya jadi masalah baru bagi sang atlet dan keluarga.

Pihak keluarga sangat ingin Sara Ahmed memiliki pencapaian yang seimbang, baik di pendidikan dan angkat besi. Akan tetapi, kenyataan berkata lain.

Berdasarkan laporan Egypt Independent, Sara terpaksa berhenti dari sekolah di tingkat SMA karena memprioritaskan persiapan Olimpiade 2016.

Meski demikian Sara tidak menyesal dengan keputusannya tersebut. Dia sangat yakin, dan itu dibuktikannya dengan medali perunggu Olimpiade 2016 di kelas 69kg putri.

"Saya berharap, Dinas Pendidikan memahami keadaan dengan lebih baik. Saya [sempat] meminta Persatuan Angkat Besi Mesir untuk meminta kepada Kementerian Pendidikan mengizinkan saya menunda [ujian], tetapi mereka menolak," ujar Sara.

Egyptian female weightlifter Sara Samir, known in competitions as Sara Ahmed, 20, takes part in a training session at the Maadi Olympic centre in Cairo on April 18, 2018. - When weightlifter Samir became the first Egyptian female to win an Olympic medal on stage in 2016, the impact boosted female participation in Egyptian weightlifting championships. (Photo by KHALED DESOUKI / AFP)Sara Ahmed akan lebih memilih angkat besi dibandingkan dengan pendidikan. (AFP/KHALED DESOUKI)

"Saya mendengar negara-negara di seluruh dunia membuat pengecualian untuk juara Olimpiade. Saya mewakili Mesir dan ingin meraih medali serta hasil akademi, dan saya ingin Menteri Pendidikan mendukung saya," ucap Sara menambahkan.

Meski demikian kesukaan Sara Ahmed dengan angkat besi sudah begitu besar dan melekat di hati. Dia juga merasa tidak memiliki jawaban yang sulit jika disuruh memilih antara pendidikan dan angkat besi.

"Saya memilih angkat besi, tentu saja. Saya membuat pilihan itu beberapa waktu lalu," tutur Sara.

Lewat pencapaiannya itu Sara Ahmed ingin menunjukkan, bahwa setiap bakat di Mesir perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak. Tidak saja guna mendapatkan medali lain, tetapi juga di bidang pendidikan.

Medali perunggu Olimpiade 2016 juga jadi cara Sara Ahmed menghancurkan stereotip angkat besi tidak cocok untuk kaum perempuan, khususnya di Mesir.

"Olahraga apa pun cocok untuk perempuan," kata Sara.

Perjuangan Sara Ahmed membuahkan hasil. Dikutip dari Sport 360, sebelum Sara meraih perunggu di Olimpiade 2016, peserta wanita di kejuaraan angkat besi tidak lebih dari 30 sampai 40 orang.

Akan tetapi, setelah momen perunggu Sara Ahmed di multi-cabang empat tahunan tersebut, lifter perempuan yang terdaftar di Federasi Angkat Besi Mesir berjumlah lebih dari 300 orang.

Menurut Sara medali perunggu di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 itu hanyalah permulaan dalam kariernya. Dia masih memiliki mimpi lain yaitu membidik emas Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar tahun ini.

Setelah Olimpiade 2016, sederet kesuksesan kembali ditorehkan Sara Ahmed. Selain medali perak Kejuaraan Dunia di Ashgabat 2018, Sara Ahmed meraih emas di Kejuaraan Dunia Junior 2018 di Tashkent, Uzbekistan.

"Tujuan saya saat ini adalah memenangkan medali emas di Kejuaraan Dunia mendatang dan kemudian emas Olimpiade 2020. Saya pikir saya mampu mewujudkan tujuan ini," kata Sara.

"Di level junior, saya mengalahkan atlet angkat besi China dengan mudah. Jadi, ketika saya berusia 22 tahun, saya pikir saya akan memenangkan emas di level senior," tutur Sara menambahkan.

Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.