Selalu Ada Makanan Gratis Selama Ramadhan di Kota Gurun Ini

Jumat, Mei 14, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Menu berbuka puasa gratis. (Foto:Reuters)'


MAAN - Kalau soal makanan untuk berbuka bulan puasa Ramadhan di kota tandus, Maan di wilayah selatan Yordania, tidak perlu risau. Meski pun didaerah ini memang di kelilingi gurun namun warga kota setiap tahun bahu membahu menggalang acara makan gratis bagi siapapun selama bulan Ramadan.

Tidak terkecuali Ramadan tahun ini, ketika berbagai pembatasan terkait pandemi Covid-19 diberlakukan.

Warga kota Maan menyebut kegiatan amal mereka itu "Sabeel Maan". Sabeel dalam bahasa Arab artinya jalan. Mereka menggunakan istilah itu itu untuk menunjukkan niat mereka dalam memenuhi panggilan Allah untuk membantu sesama manusia.

"Sabeel Maan" menyediakan ratusan dan bahkan ribuan paket makanan setiap harinya selama bulan suci itu. Siapa pun bisa menikmatinya, tapi terutama ditujukan untuk mereka yang tidak mampu, dan umat Islam yang akan melanjutkan perjalanan dari Maan ke Mekah, Arab Saudi, untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah.

Maher al-Qraisha adalah salah satu pendiri proyek amal "Sabeel Maan". Ia mengatakan kegiatan yang telah berlangsung 20 tahun itu awalnya hanya bertujuan untuk menyediakan kurma dan air bagi para peziarah Muslim untuk berbuka puasa saat melewati kota itu.

Namun kemudian, karena banyaknya sumbangan yang masuk, mereka kini mampu menawarkan makanan lengkap bagi para peziarah dan siapapun warga kota itu yang membutuhkan.

“Sabeel Maan adalah sebuah kegiatan unik yang karena melibatkan banyak orang dalam operasinya, biaya harian yang kami keluarkan sekitar 3.000 hingga 3.500 dolar. Inilah yang membedakannya dengan badan-badan amal lain. Ini adalah proyek yang bagus dan para sukarelawan mulai bekerja dari pagi hingga sore," kata Maher-al Qraisha.

Namun, setelah wabah Covid-19 merebak dan ada pembatasan pertemuan publik di Yordania, badan amal tersebut kini hanya mendistribusikan paket makanan kepada penduduk setempat karena tidak ada jemaah haji. Badan amal itu pun kini hanya mengoperasikan 20 sukarelawannya setiap hari, bukan 50 orang seperti sebelum pandemi. Jumlah paket makanan yang mereka sediakan pun kini hanya ratusan dan bukan ribuan.

Abdul Rahman al-Shobaki, yang telah menjadi sukarelawan "Sabeel Maan" bersama kedua anaknya selama enam tahun, menggambarkan kegiatan amal ini sebagai sumber kebanggaannya.

"Sejujurnya, ini adalah perasaan yang tidak bisa saya gambarkan. Saya merasa bangga dan senang menjadi bagian dari kegiatan amal ini. Saya tidak bisa menjelaskan kepada Anda betapa bahagianya saya bekerja selama bulan Ramadan ini. Saya tidak merasa lelah meski saya berpuasa dan telah bekerja keras,” jelas Abdul Rahman al-Shobaki.

Musab al-Katib, seorang sukarelawan lainnya, juga merasakan hal serupa.

"Saya bekerja dan merasa puas karena saya membawa kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ada orang yang tidak mampu membeli makanan dan bahkan tidak memiliki makanan sama sekali. Menyiapkan ayam, daging, atau nasi dan mengirimkan makanan ini dianggap perbuatan baik oleh Tuhan,“ jelasnya.

Para sukarelawan "Sabeel Maan" bekerja tanpa kenal lelah. Sebelum pandemi mereka bahkan bekerja nonstop meski tanpa mendapat bayaran.

Seusai salat Subuh, setiap hari para relawan mulai memotong dan menyiapkan 700 ekor ayam dan 800 kilogram beras. Pada sore hari, 14 panci raksasa dengan diameter 1,2 meter akan terlihat menggelegak karena digunakan untuk mengolah nasi dengan bumbu aromatik, yang dilengkapi daging ayam, daging domba atau daging-daging lainnya.

Segala sesuatu dalam kegiatan Sabeel Maan berasal dari sumbangan komunitas lokal, dan beberapa warga asal Maan yang tinggal di luar negeri. Sumbangan mereka beragam, mulai dari sekantong beras, satu ton daging domba atau unta, atau bahkan uang hingga sebesar 3.500 dolar. Bagi mereka mempertahankan tradisi Sabeel Maan seperti memenuhi panggilan Allah untuk berbuat kebajikan.


Sumber : okezone.com

0 comments: