Sepasang Mumi Bersemayam di Bandara Mesir


Mumi yang bersemayam di Bandara Kairo, Mesir. (REUTERS/MOHAMED ABD EL GHANY)


Mesir meresmikan dua museum di Bandara Internasional Kairo dengan dua mumi yang terawat baik menjadi pameran utamanya.

Museum baru, di Terminal 2 dan 3, akan memberikan "sekilas kekayaan Mesir" kepada wisatawan, menurut Kementerian Pariwisata dan Purbakala.

Artefak yang dipamerkan di museum dipilih untuk mewakili era Firaun, Yunani-Romawi, Koptik, dan Islam Mesir.

Pameran tersebut diambil dari fasilitas penyimpanan Museum Mesir di Alun-alun Tahrir Kairo, sebuah museum di kota Laut Merah Suez dan Museum Yunani-Romawi di kota Mediterania di Alexandria, menurut Moamen Othman, kepala departemen museum kementerian.

Peresmian hari Selasa (18/5) dirancang untuk memperingati Hari Museum Internasional, yang jatuh pada 18 Mei.

Koleksi tersebut dipilih oleh Komite Tertinggi Kementerian Pariwisata untuk Museum.

Peresmian museum yang juga dihadiri Menteri Penerbangan Sipil Mesir Mohamed Manar itu berlangsung Selasa pagi.

Pemerintah mengumumkan pada awal tahun 2020 bahwa mereka bermaksud membuka museum di Bandara Kairo sebagai bagian dari upayanya untuk meningkatkan pariwisata negara, yang terpukul parah oleh Covid-19.

Ruang museum awalnya dialokasikan ke area seluas 60 meter persegi di Terminal 3 pada tahun 2016, namun kemudian diperluas menjadi 150 meter persegi. Museum di Terminal 2 berukuran sama.

Di antara pameran museum yang paling menonjol adalah dua mumi yang terawat baik.

Wajah salah satu mumi, dari zaman Romawi, ditutupi topeng berlapis emas dan dihiasi gambar berwarna-warni.

Yang lainnya berasal dari periode Dinasti Akhir Mesir kuno dan menggambarkan seorang pria dalam posisi Osiris, dengan kaki menyatu dan lengan disilangkan di pergelangan tangan di atas bagian tengah dada.

Salah satu bagian terpenting yang dipamerkan adalah patung perunggu Dewi Isis bersayap, mengenakan dua tanduk Hathor dengan lingkaran matahari di antara keduanya.

Mengutip The National News, tiket ke museum ini dikenai biaya EGP 50 (sekitar Rp45 ribu) per orang untuk wisatawan mancanegara, dan EGP 25 (Rp22 ribu) per orang untuk penduduk Mesir.

Di hari yang sama, masih dalam rangka memperingati Hari Museum Internasional, Museum Sharm El Sheikh di Mesir meluncurkan inisiatif "I Can" bekerja sama dengan sekelompok relawan muda di Sinai Selatan.

Mereka akan meningkatkan pariwisata ke beberapa destinasi pantai paling populer di Laut Merah.

Melalui inisiatif ini, para arkeolog di museum memberikan tur pendidikan kepada siswa dari sekolah internasional di daerah tersebut, mengajari mereka pentingnya artefak yang disimpan di museum.

Para siswa akan diberi kesempatan untuk menunjukkan apa yang mereka pelajari melalui tur, di mana mereka akan bertindak sebagai pemandu dan menyebarkan ilmunya kepada pengunjung museum.

Tur siswa akan dilakukan dalam berbagai bahasa termasuk Inggris, Rusia, dan Italia.

Hari Museum Internasional berlangsung tahun ini dengan tema "Museum Masa Depan, Pemulihan dan Penataan Ulang".


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.