Cerita Sumbiri Kelola Bisnis Tekstil Ramah Lingkungan

Kamis, Juni 17, 2021 Majalah Holiday 0 Comments



Saat pertama kali menjejakkan kaki pada 1971, Somboon Yuprapan atau Michael Lee melihat satu potensi dari Indonesia, yakni industri tekstil. Saat itu, Indonesia masih didominasi oleh produk-produk impor.

Lee pertama-tama mendirikan PT WinnerSumbiri, perusahaan tekstil di kawasan Tangerang. Berkat kerja kerasnya, WinnerSumbiri kini telah bekerja sama dengan berbagai brand pakaian terkenal dunia.

Bahkan, perusahaan yang dikelola Lee juga telah mengepakkan sayapnya hingga ke Myanmar dan Ethiopia. Saat ini, Sumbiri Group telah memperkerjakan lebih dari 7.500 karyawan.

Lee yang merupakan Chairman Sumbiri Group ini bercerita, Indonesia merupakan negara besar dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa. Dengan niat untuk memproduksi kebutuhan pasar dalam negeri, Lee membangun WinnerSumbiri mengingat banyaknya produksi asing saat itu.

"Sangat masuk akal bagi saya jika mendirikan pabrik untuk memenuhi kebutuhan itu. Dengan melakukan itu, kami tidak hanya bisa menghemat devisa negara, namun juga menciptakan banyak lapangan pekerjaan," kata Lee dalam acara Leaders Corner Sumbiri Group 'Merajut Masa Depan dari Seuntai Benang' di CNN Indonesia TV.

WinnerSumbiri sebagai 'anak pertama' Lee dulu menciptakan kain berbahan dasar sintetis dengan teknologi sederhana. WinnerSumbiri saat itu menciptakan produksi dengan cara yang masih tradisional.

"Namun waktu terus berjalan, fesyen juga berubah. Kami pun bergerak maju dengan berinovasi dan menciptakan desain yang lebih produktif," ujarnya.

Lee kemudian mengembangkan bisnisnya ketika pada 1985 membangun PT Sumber Bintang Rejeki (Sumbiri) yang fokus pada produksi garmen. Pendirian Sumbiri juga guna memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

"Dengan memiliki pabrik garmen saja untuk memenuhi kebutuhan tersebut tidaklah cukup. Maka dari itu kami menciptakan produk dari kain hingga garmen," ujar Lee.

WinnerSumbiri sendiri menjadi produsen kain rajut lusi dan bundar yang terbuat dari serat sintetis dan mengkhususkan diri pada pakaian dalam dan lingerie. Kain yang mereka produksi juga dapat digunakan untuk pakaian olahraga, pakaian aktif, dan pakaian renang.

"Dan baru-baru ini kami berinovasi dengan rajutan lusi untuk pakaian luar seperti baju, celana, dan jaket," ujar Presiden Direktur Sumbiri Group, Roy Setiawan menambahkan.

Ramah Lingkungan

Bergerak di bidang industri tekstil dan garmen, Sumbiri Group tak hanya memikirkan memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga dampak pada lingkungan. Tercatat, Sumbiri Group menjadi salah satu industri tekstil dan garmen yang ramah pada lingkungan.

"Kami adalah pabrik ramah lingkungan. Kami mendaur ulang air kami, mendaur ulang energi, dan kami pun memproduksi kain ramah lingkungan yang diciptakan dari benang hasil daur ulang," ujar Roy yang merupakan menantu Lee.

Sebagai pabrik ramah lingkungan, Sumbiri Group sangat menyadari adanya tanggung jawab untuk memperluas dan meningkatkan kelestarian lingkungan. Tidak hanya untuk memulihkan keseimbangan ekologi dan menjaga kesehatan manusia, tetapi juga memberikan nilai bagi customer akhir WinnerSumbiri.

"Kami menggunakan hingga 70 persen air daur ulang untuk disuplai kembali ke departemen pewarnaan dan pencetakan kami," ujarnya.

Tak hanya itu, Sumbiri Group juga menggunakan gas alam dari PGN untuk menghasilkan listrik di pabrik. Produk sampingan dari asap yang keluar dari cerobong asap dengan suhu 500 derajat celcius kemudian digunakan sebagai pembakar di mesin chiller absorption.

Dari situ, udara udara panas bersuhu 500 derajat celcius diubah menjadi air dingin 7 derajat celcius untuk memasok Air Handling Unit (AHU) di gedung rajut menjadi ber-AC.

"Jadi ini daur ulang energi. Airnya akan berputar kembali. Selain mendaur ulang air dan energi, kami juga memiliki mesin untuk mengolah kembali produk sampingan udara panas, sehingga saat udara ini dilepaskan ke atmosfer, suhunya tidak akan panas, namun melayang di sekitar suhu ruangan," kata Roy.

"Sekali lagi ini adalah proses yang membantu mengurangi efek rumah kaca," katanya lagi.

Lee menambahkan, pendirian pabrik yang ramah lingkungan menjadi salah satu cara perusahaannya dalam mengurangi pemanasan global.

"Kami mengurangi polusi udara, limbah di sungai, kami mengurangi pemanasan global, kami pun menurunkan penggunaan water. Ini hal penting bagi kelangsungan generasi selanjutnya," ujar Lee.

Tak Pecat Karyawan di Masa Pandemi

Satu catatan lain yang ditorehkan Sumbiri Group adalah bertahan di situasi sangat sulit selama masa pandemi Covid-19 sejak 2020 lalu. Tak hanya bertahan, Sumbiri Group juga tak melakukan pemecatan kepada karyawan.

"Tahun lalu pada masa pandemi merupakan tahun yang berat bagi berbagai industri. Kapasitas produksi kami di Bawen, Jateng, pun terganggu selama beberapa bulan lalu," ujar Roy.

Semua dilakukan berkat inovasi yang dilakukan Sumbiri Group selama pandemi.

Roy menjelaskan, sama seperti industri lainnya yang yang terkena hantaman pandemi, Sumbiri Group juga seperti itu. Saat pandemi berjalan, Roy dan Lee beserta pimpinan Sumbiri Group lainnya memeras dan memutar otak mencari inovasi di industri ini.

"Pada masa itu saya berdiskusi dengan ayah mertua saya, apa yang dapat kita lakukan di masa pandemi," katanya.

Berangkat dari situasi pandemi dimana kebutuhan masker non medis sangat tinggi namun ketersediaan yang minim, maka Sumbiri Group menciptakan kain khusus untuk masker. Kain yang diproduksi khusus itu diciptakan untuk tidak mengganggu pernafasan, anti bakteri, tidak lembab, dan tidak berbau.

Inovasi membuat bahan masker non medis itu yang berhasil menyelamatkan Sumbiri Group dari 'infeksi' pandemi. Bahkan karena inovasi tersebut tak ada satu pun karyawan Sumbiri Group yang dipecat.

"Pembuatan masker ini dapat menutup produksi lini kami yang sempat terhenti. Dengan melakukan hal ini kami pun dapat bertahan dan tidak ada satupun karyawan kami yang dipecat," ujarnya.


Sumber : CNN Indonesia






0 comments: