Erick Thohir Akui Kebijakan Impor Beras Salah, Ungkap Biang Masalahnya



  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menilai jika kebijakan antara impor dan produksi tidak memiliki sinkronisasi. Itu yang membuat impor beras ada dan dinilai salah sehingga harus diubah.

"(Impor beras) itu yang salah. Itu harus kita ubah. Karena kebijakan, antara impor dan produksi tak pernah dijadikan satu titik," ujar Erick Thohir dalam podcast Youtube Deddy Corbuzier, ditulis Selasa (1/6/2021).Erick Thohir mengatakan, Presiden Jokowi sudah pernah menyinggung data Indonesia tidak pernah satu. Itu sebabnya, pemerintah terus mendesak agar program satu data nasional segera terjadi.

"Pak Jokowi kemarin bilang, data tidak pernah menjadi satu. Program satu data nasional harus terjadi. Akhirnya kenapa? semua menjadi grey area," jelasnya.

Permasalahan data tak hanya terjadi pada beras, tetapi juga pupuk subsidi. Penyaluran pupuk subsidi semakin kecil namun jumlah alokasi anggaran yang dikucurkan pemerintah semakin besar.

"Misalnya Pupuk, 53 atau 57 persen yang non subsidi, hanya 47 atau 43 persen itu subsidi. Tetapi anggaran subsidi yang diberikan pemerintah dari Rp19 triliun naik ke Rp33 triliun," kata Erick Thohir.

Untuk itu, kata Erick Thohir, perbaikan data harus terus terjadi. Terutama di zaman digitalisasi yang semakin canggih dan terus berkembang.

"Secara teori, kalau marketnya shrinking, subsidinya makin kecil dong. ini yang harus dilihat, dengan digitalisasi, ini harus diperbaikin. Waktunya tak panjang kalau 3-4 tidak kita lakukan, habis kita," tandasnya.

Beras Bulog Capai 1,3 Juta Ton di 17 Mei 2021Stok beras Perum Bulog sampai 17 Mei 2021 mencapai 1,3 juta ton. Jumlah tersebut terdiri dari beras Cadangan Beras Pemerintah (CBP) 1.378.047 ton dan beras komersial sebanyak 17.329 ton.

"Stok beras Bulog per tanggal 17 Mei 2021 1.395.376 ton," kata Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan Perum Bulog, Jakarta, Selasa (18/5/2021).


Buwas , panggilan akrab Budi Waseso mengatakan, persedian beras di gudang Bulog ini cukup untuk penjualan KPHS dan bencana sesuai dengan ketentuan. Penyaluran, beras CBP Bulog dari Januari sampai dengan 17 Mei 2021 sebesar 185.429 ton.

Terdiri dari Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) sebanyak 152.479 ton, tanggap darurat bencana sebanyak 2.431 ton dan golongan anggaran sebanyak 30.501 ton.

Sementara itu, realisasi pengadaan gabah atau beras tahun ini sampai 17 meri sebesar 670.916 ton. Dalam rangka memanfaatkan momen panen raya, pihak ya telah mengoptimalkan penyerapan dari petani.

Sehingga stok CPB yang ada saat ini sekitar 1-1,5 juta ton. Buwas mengatakan selama musim lebaran kemarin, tidak terdapat gejolak harga beras hingga musim lebaran usai.

"Tidak terdapat gejolak harga beras selama Lebaran dan pasca Lebaran," kata dia.

Buwas juga membeberkan stok pangan Perum Bulog. Hingga 17 Mei 2021, stok daging kerbau Bulog sebanyak 1.30 ton dan daging sapi sebanyak 25 ton.

Selain itu, stok tepung di gudang Bulog terdapat 438 ton, gula pasir sebanyak 12.183 ton dan minyak goreng sebanyak 348 kiloliter.

Sumber :liputan6.com

No comments

Powered by Blogger.