Gerakan "Tuku Tonggo" dan Etika Bisnis

Senin, Juni 28, 2021 Jarmani. S.Pd, M.Pd 0 Comments



  Di kampung tempat saya tinggal sedang digalakkan gerakan "tuku tonggo". Yaitu, sebuah gerakan membeli di warung ataupun produk dari tetangga, teman atau komunitas-komunitas UKM di kalangan terdekat, dan didukung oleh pemda setempat. Tentu saja hal tersebut disambut dengan sedikit euforia oleh para pelaku usaha, baik yang sudah eksis sejak lama, maupun yang dadakan.

Hal tersebut ditempuh sebagai upaya dalam menghadapi dampak pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan, PHK, dan berhentinya aktivitas rutin lainnya. Misalnya seperti teman saya yang dahulu aktif sebagai agen asuransi, di masa pandemi ini aktivitasnya terhenti, sehingga ia menggantinya dengan aktivitas mata pencarian yang lain yaitu berjualan ikan bakar dan berjualan ikan koi agar pemasukannya tetap berjalan.

Kemudian ada lagi tetangga yang bekerja sebagai sopir di Jakarta, kena PHK juga sebagai akibat aktivitas kantornya dikurangi. Sehingga ia langsung pulang kampung berganti haluan pekerjaan dengan berjualan olahan susu sapi dan beras. Dan masih banyak lagi yang kurang lebih seperti itu.
Kepentingan Produsen

Tapi sebentar, jika kita menelaah lebih dalam nama ajakan tersebut, tuku tonggo, itu kan sebenarnya masih berupa kegiatan sepihak saja, yaitu untuk kepentingan produsen, agar produk atau barang dagangan yang dijual oleh pelaku usaha tersebut dibeli. Namun kepentingan konsumen tentunya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Dari yang saya alami, saya secara pribadi mendukung gerakan tersebut, karena warga masyarakat, khususnya yang menjadi korban dampak pandemi bisa tetap aktif, tidak menganggur dalam mencari penghasilan. Namun sayangnya --kebanyakan di pelaku usaha yang dadakan-- hanya berorientasi untung semata, hingga kepuasan pembeli atau konsumen dilupakan.

Sebagai contoh, setelah mendengar gerakan itu digaung-gaungkan, saya pernah mencoba membeli produk baru pizza lokal di tetangga saya. Di contoh gambar yang dikirim ke pesan Whatsapp bagus, namun ketika membeli dengan jumlah yang lumayan banyak, kotak kardus pembungkusnya hanya dikasih yang biasa, yaitu kardus kotak putih, yang berbeda dari kardus khusus bertuliskan pizza berwarna-warni seperti yang dipamerkan. Dan ketebalan pizzanya berubah menjadi tipis tidak seperti biasanya.

Kemudian contoh lagi, saya membeli ayam bakar di teman saya sejumlah 30 paket. Apa yang terjadi kemudian? Dalam pesanan, saya diberi 29 paket ayam bakar dan satu paket ikan bakar. Ketika saya mempertanyakan hal tersebut, ia menjawab bahwa dia bermaksud satu paket ikan bakar itu adalah untuk tester saya. Dengan tujuan agar saya membeli produk itu di hari berikutnya. Ya, kalau bermaksud untuk tester, bukankah seharusnya teman saya memberikan di luar pesanan itu? Dan masih banyak contoh-contoh kasus seperti demikian.

Kadang saya bertanya apa yang menyebabkan hal-hal demikian bisa terjadi? Okelah, pada intinya mereka pelaku usaha "meminta" produknya dibeli, namun pertanyaan yang tidak kalah pentingnya, bisakah mereka memberikan sesuatu yang bernilai, berkualitas, sesuai bahkan lebih dengan uang yang telah dikeluarkan oleh pembeli?


Etika Bisnis

Masih banyak pelaku usaha yang hanya bertujuan jangka pendek demi keuntungan finansial semata. Kalau perlu, pengorbanan sekecil-kecilnya untuk meraih hasil yang sebesar-besarnya. Tidak berpikir panjang bahwa bisnis sejatinya adalah sebuah urusan kepercayaan yang terus menerus tidak ada putusnya.

Praktik-praktik yang kurang beretika tersebut akan menyebabkan erosi kepercayaan hingga hilangnya pelanggan. Dan dengan kesadaran etika pada tiap individu, akan berdampak pada pelaku bisnis untuk lebih memperhatikan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri.

Dengan memiliki etika dalam berbisnis, seseorang pasti akan memiliki daya saing yang tinggi hingga memiliki kemampuan menciptakan nilai. Etika bisnis adalah prinsip moral dalam menjalankan usaha.

Etika bisnis menjadi perhatian penting dalam terciptanya keseimbangan ekonomi dalam suatu masyarakat. Juga berkaitan dengan implikasi sosiologis bagi kelangsungan tatanan sosial. Suatu tatanan sosial yang memiliki nilai, norma, peran, status, pranata, dan struktur yang berlembaga akan hancur manakala salah satu etika (yaitu etika berkompetisi dalam meraih penghasilan) terabaikan.

Sumber :detik.com

0 comments: