Infeksi Jamur Hitam Mematikan Serang Pasien COVID-19 di India

Rabu, Juni 02, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


 

     Infeksi jamur hitam (black fungus) mematikan tengah menyerang sebagian pasien COVID-19 di India. Istilah infeksi jamur hitam ini disebut mucormycosis. Saking merebaknya infeksi jamur ini, otoritas kesehatan di India ada yang menyerukan epidemi mucormycosis.

Melansir India Today, yang tayang 28 Mei 2021, India sejauh ini mencatat sekitar 9.000 kasus mucormycosis pada pasien yang sembuh dari COVID-19. Kenaikan pasien COVID-19 mendadak terjadi, bahkan jumlah pasien di Maharaja Yeshwantrao Hospital di Ind­ore naik hampir 180 orang dalam seminggu di pertengahan Mei 2021.

Direktur Utama ENT Sanjay Sachdeva dari Max Super Speciality Hospital in Saket, Delhi mengatakan, mcormycosis adalah salah satu jamur mematikan yang menyerang manusia.

"Ini adalah spesies invasif yang dapat menyebar dari hidung, sinus ke jaringan otak, memengaruhi pembuluh darah dan daerah mata. Setelah gangren masuk, daerah yang terkena menjadi hitam, maka namanya dikenal 'jamur hitam', kata Sachdeva, dikutip India Today, Rabu (2/6/2021).

Di Mumbai Sion Hospital, ada 24 kasus infeksi jamur hitam dalam dua bulan. Gujarat dan Maharashtra menyumbang lebih dari setengah kasus di negara tersebut. Gugus Tugas Nasional COVID-19 India telah merekomendasikan agar negara-negara bagian segera mengendalikan infeksi jamur hitam.

Pada 24 Mei 2021, Tamil Nadu, Gujarat, Odisha, Bihar, Uttarakhand, Rajasthan, Telangana, dan Chandigarh telah menyatakan infeksi jamur hitam sebagai epidemi. Namun, sebuah penelitian yang dirilis oleh ICMR pada tanggal yang sama mencatat, tidak ada kasus jamur hitam di 10 rumah sakit yang dilacak untuk infeksi.

Penelitian tersebut dilakukan antara Juni dan Agustus 2020 terhadap 17.534 pasien di 10 rumah sakit (dua RS di Delhi dan Mumbai, satu RS di Vellore, Jodhpur, Bhopal, Pondicherry, Chennai, dan Kolkata). Tetapi hanya 7.163 sampel yang menjadi bagian dari penelitian ini.

Meskipun tidak menemukan kasus jamur hitam, 3,6 persen sampel dalam penelitian melaporkan infeksi bakteri dan jamur. Kematian dalam kasus tersebut 56 persen dibandingkan 10 persen dalam kasus tanpa infeksi. Di salah satu rumah sakit dalam penelitian, kematian bagi mereka yang terinfeksi jamur mencapai 78 persen.

Konsultan senior ahli endokrinologi Fortis Hospital di Mulund, Mumbai Sweta Budyal menekankan, ada potensi ancaman yang membuat mucormycosis begitu mematikan.

“Ini mungkin menginfeksi lebih sedikit orang, tetapi memiliki tingkat kematian yang tinggi, sekitar 50 persen. Gejalanya mungkin termasuk sakit kepala satu sisi di belakang mata, nyeri wajah, demam, hidung tersumbat yang berkembang menjadi kotoran hitam," tambahnya.

"Dan, sinusitis akut bersamaan dengan pembengkakan mata. Kulit yang terkena mungkin tampak normal pada tahap awal infeksi, lalu segera berubah menjadi merah dengan terjadi pembengkakan, sebelum berubah menjadi hitam karena kematian jaringan."

Gejala lain dari mucormycosis kemungkinan melibatkan paru, kulit atau seluruh tubuh serta kesulitan bernapas dan batuk terus-menerus. Infeksi tersebut menyerang pasien COVID-19 rentang 12-18 hari setelah sembuh.

“Invasi jamur hitam mempengaruhi pembuluh darah, menyumbat aliran darah di daerah yang terkena, menyebabkan kematian jaringan dan gangren. Obat antijamur tidak dapat mencapai jaringan mati, yang mungkin mengandung infeksi,"

"Area yang mati harus diangkat melalui pembedahan," lanjut Sachdeva 

Ketua Gugus Tugas Nasional India Dr V.K. Paul mengaitkan proporsi epidemi mucormycosis dengan "penggunaan steroid yang tidak proporsional dalam pengobatan COVID-19".

Steroid mengurangi peradangan paru dan mengurangi tingkat kerusakan yang dipicu ketika sistem kekebalan tubuh melawan virus, namun obat juga meningkatkan kadar gula darah pada pasien COVID-19 diabetes dan non diabetes

Sumber :Liputan6

0 comments: