Kala Drama Korea Tersandung Masalah Budaya dan Diskriminatif

Kamis, Juni 24, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Di saat semakin banyak orang dari banyak negara mulai menyaksikan drama Korea, industri tersebut juga menghadapi permasalahan baru yakni stereotip rasial dan budaya. Hal itu yang setidaknya sempat dialami dua drama yang sedang tayang yakni The Penthouse 3 dan Racket Boys.

Produser dari dua drama yang tayang di SBS TV tersebut baru-baru ini meminta maaf setelah pemirsa luar negeri mengeluhkan penggambaran yang diskriminatif.

Permasalahan dimulai setelah episode 5 Rackey Boys tayang pada 14 Juni. Episode tersebut menggambarkan im badminton Korea Selatan yang tengah bertanding di Jakarta, Indonesia, dalam salah satu ajang internasional.

Di episode itu juga terdapat dialog yang dianggap menyudutkan Indonesia, terutama panitia pelaksana bulutangkis. Adegan itu memperlihatkan pelatih dan sejumlah pemain yang meluapkan kekesalannya dalam obrolan di restoran salah satu hotel di Jakarta.

Komentar-komentar negatif pun memenuhi akun Instagram maupun Youtube resmi saluran televisi SBS yang memproduksi dan menyiarkan drakor tersebut.

SBS kemudian meminta maaf. Mereka mengatakan tidak bermaksud merendahkan negara, pemain atau penonton negara tertentu.

"Namun demikian, kami mohon maaf atas beberapa adegan yang telah menyinggung pemirsa kami dari Indonesia. Kami akan memperhatikan dengan seksama untuk episode selanjutnya," tulis akun @sbsnow_insta.

Drama Korea 'Racket Boys' diganjar rating buruk di situs Internet Movie Database (IMDb). Bahkan judul drama yang dibintangi Tang Joon-sang ini terlihat berganti nama jadi 'RacketRacist'.

Rating drama berada di angka 2,5 dari 10 saat diakses pada Sabtu (19/6). Rupanya permintaan maaf pihak stasiun televisi SBS, yang memproduksi dan menyiarkan drama, tidak mampu 'menyelamatkan' drama yang bakal tayang 16 episode ini.

Dari kolom user reviews, banyak peninjau terlihat memberikan rating 1 bintang dari penilaian penuh 10 bintang. Sebagian isi komentar dalam tinjauan terkait rasis dan membawa nama Indonesia.

CEO Muam Hyun Haeri mengatakan sangat sulit menarik garis drama fiksi, pembatas antara elemen kreatif dan penggambaran yang tidak peka budaya. Muam merupakan perusahaan konsultan dan produksi media.

"Penggemar di Indonesia menyaksikan drama Korea dengan cermat dan produser acara itu tidak menyadari reaksi balik yang bisa muncul di antara pemirsa internasional tertentu karena popularitasnya," ucap Hyun Haeri seperti dilansir Korea Herald.

"Popularitas seperti itu sebenarnya sebuah perkembangan positif dan harus dipertimbangkan saat membuat konten," tuturnya.

Film The Penthouse. (dok. SBS via Hancinema)
Beda lagi dengan kasus The Penthouse 3 yang menampilkan karakter Alex Lee, saudara laki-laki Logan Lee dalam episode yang tayang pada 11 Juni 2021. Kedua karakter itu diperankan oleh Park Eun-seok.

Alih-alih mendapat sambutan hangat, karakter Alex Lee dikritik keras penonton internasional atas tuduh cultural appropriation (eksploitasi budaya).

Kala itu, Alex Lee hadir dengan tampilan rambut gimbal, tato besar di lehernya, serta gigi emas. Penampilan itu memicu kontroversi karena dinilai menggunakan stereotip Afrika-Amerika. Netizen juga mengkritik aksen bicara Alex yang dinilai mengejek Afrika-Amerika.

Pada 13 Juni, Park Eun-seok meminta maaf melalui akun TikToknya. Ia juga berterima kasih kepada penonton yang mengkritik karena itu menjadi kesempatannya untuk belajar dan memiliki kesadaran lebih di masa mendatang.

"Itu sebenarnya lebih pada kekaguman bukan mengejek. Tapi saya sadar pendekatannya ternyata lebih ke cultural appropriation." tulis Park.

Sutradara film sekaligus Profesor di Nanyang Technological University Heo Chul mengatakan perkembangan drama Korea seharusnya membuat kreator bisa lebih mempertimbangkan topik serta adegan yang berpotensi sensitif secara budaya.

"Saya pikir bukan hanya ketidaktahuan dan ketidakpekaan perusahaan produksi yang terungkap melalui konten media, tetapi merupakan masalah nasional di mana Korea Selatan masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain," kata Heo Chul.

Apabila sebuah drama Korea ingin memperkenalkan karakter dari negara atau agama tertentu, kata Heo Chul, sang kreator atau produser setidaknya harus memiliki penulis yang benar-benar paham mengenai hal tersebut untuk mencegah kesalahan penggambaran karakter.

"Kurangnya pemahaman tentang masalah keragaman budaya adalah masalah yang harus diatasi bersama oleh penonton lokal serta pembuat acara," tuturnya.


Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: