Menjawab Anggapan Serat Centhini sebagai Kitab Seks Jawa

Unsur laku seksualitas di dalam naskah membuat Serat Centhini kerap disebut kitab seks dari Jawa. Namun, nyatanya Serat Centhini lebih dari itu. (Foto: (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono))

Seksualitas bukanlah hal tabu jika bicara soal sastra Jawa klasik. Deskripsi seksual tertuang dalam naskah salah satu karya sastra klasik populer, Serat Centhini.

Serat Centhini memberi pesan bahwa hubungan seks punya tata krama, selayaknya tata krama dalam hubungan antar manusia.

Seorang pakar kajian Jawa, Dewi Sundari menyebut Serat Centhini seperti penggambaran luhur terhadap aktivitas seks. Novel tersebut melihat seks sebagai suatu yang serius dan sakral.

"Seks bukan sekadar soal hasrat, tetapi berkaitan juga dengan penciptaan manusia di dunia," ujar Dewi pada CNNIndonesia, Rabu (2/6).

"Agar terlahir sebagai manusia yang bertata krama, persetubuhan perlu dilakukan sesuai adabnya juga," lanjutnya.

Seks juga disebut sebagai 'sisi lain' dari orang-orang Jawa. Dalam situs pribadinya, Dewi menyebut Serat Centhini sebagai deskripsi pembuktian hal tersebut.

"(Serat Centhini) seperti sengaja ingin membuktikan, bahwa orang Jawa yang serba santun nan halus pun sebenarnya bisa 'cabul' dan 'mesum'," tulis Dewi.

Namun, Serat Centhini bukan melulu soal seks isinya. Dewi meluruskan tudingan tersebut dengan menilai kisah dalam Serat Centhini mencakup segala aspek kehidupan.

"Bisa dikatakan, isi Serat Centhini itu mencakup hampir semua bidang kehidupan. Seksualitas hanya salah satunya," tutur Dewi.

Seks merupakan salah satu adegan yang muncul dan diceritakan dalam karya sastra tersebut. Di dalamnya, seks dinilai merupakan puncak erotika yang dijabarkan dengan berbagai kosa kata.

Selain itu ada juga jalu usada, yang merupakan pengobatan seksual untuk pria, dan sejumlah istilah yang mendeskripsikan tubuh wanita, mulai dari guntur madumerica pecahsri tumurun, dan sebagainya.Dalam deretan seri Serat Centhini, pembaca dapat menemukan beberapa 'perasaan' dan 'momen' yang dibahasakan, seperti istilah derajat marlupa yang berarti puncak kenikmatan seksual atau orgasme.

Kebebasan Perempuan dalam Pengalaman Intim

Seiring munculnya istilah-istilah yang mendeskripsikan tubuh wanita dalam aktivitas seks, Serat Centhini kerap dinilai mempromosikan nilai-nilai patriarki dan maskulinitas.

Dewi menjelaskan bahwa hal tersebut memang begitu adanya dan tak bisa dihindari. Namun, pembaca bebas memilih untuk melihat sisi baik dan buruk dari cerita tersebut.

"Jika kita melihatnya dari sudut pandang zaman sekarang, tentu saja memang akan terkesan patriarkis. Kita perlu menyadari juga, bahwa nilai-nilai yang kita pegang sebagai masyarakat akan selalu berevolusi dari jaman ke jaman," tutur Dewi.

"Kita harus siap mengambil mana baiknya. Dan meninggalkan mana nilai-nilai yang tidak lagi dapat dipertahankan di masa kita," lanjutnya.

Serat Centhini lebih dari itu mengandung sebuah nilai kebebasan bagi perempuan untuk mengekspresikan pengalaman seksualnya, dan berbagi testimoni untuk urusan 'ranjang'.

Dewi menyebut dalam ulasannya terhadap Serat Centhini II, buku tersebut mengulas bagaimana teknik perempuan mampu memberi kepuasan lebih dalam hubungan seks.

"Termasuk cara mempercepat orgasme bagi perempuan, dan bagaimana cara agar si laki-laki tidak cepat ejakulasi," tulis Dewi.

Tapi tidak bisa juga Serat Centhini tak disebut sebagai salah satu referensi atau panduan seks. Di dalamnya tertera tata krama hingga posisi seks. Bahkan, di karya itu terdapat resep pengobat mani encer.

Sanggahan atas tudingan Serat Centhini sebagai kitab seks juga diutarakan Elizabeth D Inandiak, penerjemah asal Perancis yang pernah mempelajari Serat Centhini.

"Ya karena mereka terobsesi seks, ya ini kalau kita punya obsesi tentu itu yang akan kita cari memang dalam kitab Centhini ada mungkin sekitar 10 atau 20 persen dari seluruh karya yang bercerita tentang senggama," ucap Elizabeth kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/5).

"Tapi mungkin orang yang punya nafsu mereka akan tertarik dan membaca bagian itu dan tidak membaca bahagian lain" lanjutnya.

Lebih dari itu, jika dilihat dari intisari budaya dan aspek agama secara keseluruhan 12 jilid, Serat Centhini bisa jadi panduan kehidupan di segala aspek, yang berpedoman pada tata krama.


Sumber : cnnindonesia.com

No comments

Powered by Blogger.