Pertemuan Bilateral RI - Korsel, Tandatangani 2 Kesepakatan Baru

Sabtu, Juni 26, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Menlu RI Retno Marsudi dan Menlu Korsel Chung Eui-yong (Foto: Kemlu RI)

 Korea Selatan (Korsel) dan Indonesia resmi menandatangani dua kesepakatan baru. Yakni Plan of Action Implementasi Kemitraan Strategis Khusus untuk periode 2021 – 2025 yang diharapkan akan mendorong program-program konkret di berbagai sektor. Lalu, MoU on Triangular Cooperation yang menjadi dasar kontribusi bersama kedua negara dalam pembangunan di negara berkembang lainnya.

Penandatanganan ini dilakukan saat Menteri Luar Negeri (Menlu) Korsel Chung Eui-yong melakukan kunjungan pertama sebagai Menlu.ke Indonesia. Kunjungan Menteri Chung ke Indonesia merupakan bagian dari rangkaian kunjungannya ke Asia Tenggara.

Kunjungan ini digunakan sebagai momentum untuk terus memperkuat hubungan bilateral termasuk di masa sulit seperti ini. Selama berada di Jakarta, Menteri Chung juga akan melakukan kunjungan kehormatan ke Presiden RI Joko Widodo.

Seperti diketahui, Korsel adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan.

Sejak tahun 2017, kemitraan Indonesia – ROK telah meningkat menjadi sebuah kemitraan strategis khususnya special Strategic Partnership.

Pada pertemuan itu, Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan tiga hal yang perlu mendapat perhatian dalam hubungan bilateral kedua negara.

“Pertama adalah pentingnya peningkatan kerja sama kesehatan. Di masa sulit selama pandemi Covid-19, RoK merupakan salah satu negara dimana Indonesia menjalin kerja sama kesehatan. Beberapa kerja sama yang telah dilakukan antara lain pengadaan APD, peralatan diagnostik dan obat-obatan,” terangnya.

Selain itu, Retno juga menyambut baik beberapa kerja sama yang tengah berlangsung.

“Pertama, pengembangan vaksin, kerja sama antara PT. Kalbe Farma dan Genexine yang rencananya akan melakukan uji klinis tahap 2 dan 3 di Jakarta dan Jawa Tengah pada Juli 2021. Jika semua tahapan terlewati dengan baik, maka diharapkan vaksin akan tersedia di akhir tahun 2021. Kedua, pengembangan terapeutik, kerja sama antara National Institute of Health Research and Development and Daewoong Infion; serta PT Kalbe Farma dan Genexine (GX-17) dalam produksi obat Covid-19 yang saat ini sudah dalam tahap pengujian. Ketiga, kerja sama alat diagnostik, dengan adanya rencana prospek investasi perusahaan diagnostic Korea SD Biosensor dan Sugentech untuk membuka pabriknya di Indonesia,” lanjutnya.

Retno menjelaskan, masih dalam konteks kerja sama kesehatan, kemarin Bappenas dan KOICA (Korean International Cooperation Agency) telah menandatangani Minutes of Understanding on Inclusive Program for Covid-19 Response senilai USD4 juta yang bertujuan mendukung berbagai program penanggulangan pandemi serta dampak sosial ekonominya di Indonesia.

Berbagai kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat industri kesehatan nasional dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi di masa depan.

Hal kedua yang disampaikan Retno kepada Chung adalah mengenai pentingnya kerja sama percepatan pemulihan ekonomi.

Di masa sulit ini, kedua negara masih terus mampu menunjukkan kinerja positif di bidang perdagangan dan investasi.

Di bidang perdagangan, selama kuartal 1 perdagangan bilateral naik 15,2% dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor Indonesia juga mengalami kenaikan 7,9% di kuartal pertama tahun ini. Kedua negara juga sedang dalam proses ratifikasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA).

Di bidang investasi juga terjadi peningkatan realisasi investasi Korsel di Indonesia pada 2020, dari USD1,2 miliar (Rp17 triliun) pada 2019 menjadi USD1,84 miliar (Rp26 triliun) pada 2020.

Porsi besar dari investasi baru tercatat di bidang industri mobil listrik dan ekosistemnya. Bulan lalu, dilakukan peletakan batu pertama pabrik KCC Glass di KIT Batang.

Sementara itu, konstruksi pabrik mobil Hyundai di Deltamas sudah memasuki fase final.

Kedepannya, diharapkan implementasi konkret dari Joint Venture Battery Project LG Energy Solution dan Hyundai di Buli, Konawe, dan Karawang.

Kerja sama ketiga yang juga disampaikan dalam pertemuan adalah pentingnya penguatan pelindungan tenaga kerja Indonesia.

Retno mengatakan saat ini tercatat sebanyak 33.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang berada di Korsel. Termasuk diantaranya 5950 Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal ikan Korsel.

“Saya telah meminta perhatian Menteri Chung untuk terus meningkatkan pelindungan pagi PMI, termasuk ABK WNI di Korea Selatan. Baru-baru ini, tepatnya Mei 2021, satu kemajuan telah terjadi, yaitu dengan ditandatanginya MoU di bidang hubungan kerja dan tenaga kerja bagi awak kapal perikanan yang bekerja di kapal ikan Korea Selatan untuk ukuran 20 ton ke atas,” jelasnya.

Retno mendorong agar segera dimulai pembahasan mengenai pengaturan dan pelindungan bagi ABK WNI yang bekerja di kapal-kapal long-line milik Korsel. 

Dia juga juga meminta perhatian Menteri Chung agar re-entry dan penempatan baru PMI di Korsel dapat segera dibuka.

Dalam pertemuan itu, kedua negara juga melakukan tukar pikiran mengenai beberapa isu kawasan dan dunia.

Kedua negara sepakat, untuk menjaga komitmen berkontribusi bagi stabilitas dan perdamaian kawasan.

“Saya menyinggung mengenai pentingnya kedua negara untuk terus menggalang solidaritas global untuk memperjuangkan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara.

Indonesia juga berharap agar ASEAN-Korsel dapat tingkatkan kerja sama konkrit di bidang maritime, konektivitas, pencapaian SDGs, dan kerja sama perdagangan investasi dengan mensinergikan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific dengan New Southern Policy Plus dari Korsel. Kita juga lakukan tukar pikiran mengenai perkembangan situasi di Myanmar. Bagi Indonesia, implementasi 5 points of concensus harus segera dilakukan,” paparnya.


Sumber : okezone.com

0 comments: