Ribuan Koleksi Unik Museum Negeri Sulut, dari Ikan Purba hingga Jejak Islam

Sabtu, Juni 26, 2021 Majalah Holiday 0 Comments

Koleksi Museum Negeri Sulawesi Utara di Manado (MPI/Subhan Sabu)


MUSEUM Negeri Sulawesi Utara (Sulut) merupakan media informasi tentang sejarah alam, manusia dan budaya Sulut. Museum ini sudah ada sejak 1967 dan mendapat pengakuan pada 1991 dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Museum Negeri Sulut memiliki 10 jenis klasifikasi, di antaranya koleksi etnografi, sejarah, numismatika, keramologika, arkeologi, filologi, teknologika, seni rupa, biologika dan historikal.

Dari semua koleksi itu, hanya numismatika atau koleksi uang-uang kuno yang tidak dipajang di ruang pameran melainkan disimpan digudang koleksi museum.

Kepala Seksi Museum Negeri Provinsi Sulut, Rini Flora Marpaung mengatakan hingga kini Museum Provinsi Sulut telah mengumpulkan sekitar 2.810 koleksi.

Dari total koleksi tersebut, sekitar 500-an koleksi dipamerkan di gedung pameran tetap dan dapat dinikmati setiap hari kerja.

"Koleksi tersebut diperoleh dari daerah-daerah kabupaten atau kotamadya yang ada di Sulawesi Utara, seperti Manado, Minahasa Selatan, Sangihe, Talaud, Sitaro, Bolaang Mongondow dan lain sebagainya," kata Rini kepada MNC Portal Indonesia, tengah pekan ini.

 Ilustrasi

Fosil tengkorak di Museum Negeri Sulut (MPI/Subhan)

Di Museum yang berlokasi di Jalan W.R. Supratman Nomor 72, Lawangirung, Wenang, Kota Manado ini pengunjung akan disuguhkan informasi lengkap tentang Sulut.

Dari luar bangunan bertingkat tiga ini terdapat taman-taman yang berisi replika kebudayaan dan peninggalan zaman dahulu, mulai patung masyarakat adat, alat trasportasi kuno, hingga replika waruga (kubur batu).

Penelusuran jejak Sulut berawal di lantai satu, Anda akan berkenalan dengan kejayaan masa lalu daerah ini, sebagai rute migrasi hewan dan manusia pada zaman pra sejarah.

Di sini ada bangkai ikan Coelacant yang telah diawetkan. Ikan yang sebenarnya sudah dianggap punah sejak 65 juta tahun lalu itu tertangkap jaring nelayan di pantai malalayang pada 2007.

"Terdapat juga fosil gading dan geraham gajah purba stegodon yang ditemukan di Desa Pintareng Kabupaten Kepulauan Sagihe,” ujar Rini

Saat masuk zaman sejarah, Anda bisa mempelajari rute perdagangan antara barat dan timur di Sulut, termasuk penyebaran Kristen, Islam, maupun kepercayaan atau agama yang dibawa pedagang-pedagang China, Arab, dan Eropa.

Peninggalan lainya yang bisa dilihat yakni waruga, guci peninggalan Cina, peninggalan raja-raja Bolmong, peninggalan raja-raja Sangihe seperti lemari, kursi, lemari makan dan meja rias.

Di museum ini juga terdapat meja kerja dari Maria Walanda Maramis, mesin jahit tangan yang dipakai Walanda Maramis memberikan cara menjahit pakaian pada ibu-ibu.

Ada juga satu set kursi peninggalan Nani Wartabone dari Gorontalo yang dipakai untuk tempat duduk tamu negara atau pejabat serta masih banyak lagi koleksi lainnya.

Di ruang berikutnya menjelaskan kekayaan Sulut sehingga sempat jadi medan perebutan oleh Portugis, Spanyol, Belanda, dan kerajaan-kerajaan Nusantara. Kekayaan yang ada mulai dari rempah-rempah cengkeh dan pala, lalu kelapa, beras, dan holtikultura.

Di ruang kekayaan fauna juga tidak kalah unik, karena merupakan jalur migran manusia pra sejarah, Sulut juga menjadi tempat berbagai hewan unik ada yang menetap ada juga yang bermigrasi.

Di ruang kebudayaan dijelaskan etnis asli Sulawesi Utara, yaitu Suku Minahasa, Suku Bolaang Mongondow, Suku Sangihe, Suku Talaud, dan Suku Siau. Suku mayoritasnya ialah Suku Minahasa, dahulu disebut tanah malesung yang merupakan kawasan semenanjung di Sulut, bagian timur.

Ada juga informasi tentang Suku Bolaang Mongondow yang disebut suku dataran tinggi, atau daerah pegunungan Sulut.

"Dari tiap suku itu memiliki beberapa kerajaan, di sini tertulis lengkap bagaimana silsilah kerajaan, upacara-upacaranya, hingga turunan prosesi adatnya hingga saat ini," ucap Rini.

Satu lagi yang tidak boleh dilupa ialah para pahlawan asli tanah ini. Di salah satu lorong museum terpajang benda-benda bersejarah para pahlawan, dan berdiri tegak patung-patung mereka, mulai Maria Walanda Maramis, Sam Ratulangi, AA Maramis, Daan Mogot, dan Piere Tendean.


Sumber : okezone.com

0 comments: