Sederet PR Timnas Indonesia dari Kualifikasi Piala Dunia

Selasa, Juni 15, 2021 Majalah Holiday 0 Comments


Ilustrasi pertandingan antara Timnas Indonesia melawan Vietnam. (media PSSI)


Pengamat sepak bola nasional, M. Kusnaeni menyebut ada banyak pengalaman yang dibawa pulang Timnas Indonesia usai melakoni tiga laga lanjutan di Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Tak hanya soal kekurangan, tapi ada juga juga hal positif yang bisa diambil.

Timnas Indonesia yang lebih banyak dihuni para pemain muda itu meraih hasil satu kali seri dan dua kali kalah dari tiga laga di lanjutan Kualifikasi Piala Dunia. Skuat Garuda meraih kali hasil imbang 2-2 saat jumpa Thailand di laga pertama. Kemudian kalah 0-4 dari Vietnam dan dibantai tuan rumah, Uni Emirat Arab 0-5.

"Banyak hal positif yang bisa diambil dari penampilan Timnas Indonesia di tiga laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 kemarin. Pertama, kita jadi menyadari bahwa kita harus lebih siap untuk menghadapi SEA Games. Ternyata dengan kekuatan yang ada sekarang, kita juga belum cukup siap untuk ke SEA Games," kata Kusnaeni kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/6).

Kedua, lanjut Kusnaeni, melihat perkembangan latihan selama menjalani beberapa kali pemusatan latihan (TC), ternyata Timnas Indonesia masih belum cukup mampu untuk bisa bersaing di level Kualifikasi Piala Dunia. Artinya, TC saja tidak cukup untuk bisa mematangkan penampilan para pemain.

"Ketiga, beberapa pemain muda sekarang sudah mendapatkan jam terbang penting buat karier mereka untuk main di level senior. Beberapa pemain tampil bagus di level senior walaupun usianya masuk junior. Seperti M. Arhan, Asnawi Mangkualam, Egy Maulana dan Witan. Walaupun usia muda, tapi kepercayaan diri mereka main di level senior sudah kelihatan. Begitu juga Syahrian Abimanyu dan I Kadek [Agung Widnyana]," jelasnya.

"Butuh kompetisi. Jadi kalau TC doang, pelatih tidak bisa melihat semua pemain yang mungkin layak ada di tim. Jadi akhirnya pelatih tidak bisa membentuk tim yang betul-betul kuat untuk bersaing di level Asia. Buat saya tidak bisa ditawar lagi bahwa kita harus segera menggelar kompetisi untuk mencari pemain yang bisa memperkuat Timnas," ujar Kusnaeni yang akrab disapa Bung Kus itu.

Selain itu, Kusnaeni menerangkan bahwa dari lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 lalu, pelatih Shin Tae Yong juga sudah memiliki model kerangka tim untuk SEA Games 2021 di Vietnam. Sekalipun diakui memang belum sempurna dan masih harus dilengkapi lagi dengan pemain hasil pantauan di kompetisi Liga 1 maupun Liga 2 yang rencananya bakal bergulir mulai Juli mendatang.

Aksi Kapten Timnas Indonesia, Egy Maulana, saat melawan Uni Emirat Arab. (AFP/KARIM SAHIB)

Terlebih, di SEA Games 2021 Timnas Indonesia ditargetkan untuk bisa meraih medali emas. Pada SEA Games 2019 di Filipina lalu, Timnas Indonesia dikalahkan Vietnam di partai final.

"Kerangka tim sudah ada tapi masih belum sempurna, jadi harus dilengkapi lagi. Terutama untuk memaksimalkan pemain senior yang kuotanya hanya tiga. Shin Tae Yong harus melihat lagi potensi yang ada di kompetisi," ujar Kusnaeni.

Sementara itu, Kusnaeni juga melihat masih banyak pekerjaan rumah yang menumpuk untuk diselesaikan Shin Tae Yong soal kelemahan para pemain Timnas Indonesia. Mulai dari penampilan per posisi, mental sampai ke fisik pemain yang dikatakan masih jauh dari harapan.

Soal tim, menurut Kusnaeni, pemain yang dibawa ke Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Dubai lalu materinya belum komplet. Mulai dari posisi bek tengah yang dianggap kurang untuk bisa bersaing, gelandang yang belum kelihatan permainannya sampai di posisi striker.

"Belum lagi soal kondisi fisik pemain yang dianggap hanya mampu tampil di 60 menit pertama. Namun setelahnya terlihat kecapekan kemudian membuat fokus hilang yang menyebabkan banyak terjadi kebobolan di babak kedua pada tiga laga lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2022 lalu.

"Mental bertanding pemain muda dari U-19 juga belum terbentuk karena mereka belum menjalani kompetisi, baru teruji di TC Eropa selama beberapa bulan dan di turnamen pramusim. Tapi belum di kompetisi yang sesungguhnya. Sebab mereka terlihat gampang panik dan cepat drop kalau sudah kebobolan. Mental bertanding itu terbentuk kalau mereka sudah ikut kompetisi," terangnya.

Sebut saja, gol Adisak Kraisor di menit 50 saat Skuat Garuda meraih hasil imbang 2-2 bersama Thailand di laga perdana. Kemudian empat gol beruntun Vietnam di babak kedua (Nguyen Tien Linh 51', Nguyen Quang Hai 62', Nguyen Cong Phuong 67' dan Vu Van Thanh 74') setelah sebelumnya Timnas Indonesia berhasil menahan imbang tanpa gol di babak pertama.

Kebobolan di babak kedua juga terjadi ketika Timnas Indonesia bertemu Uni Emirat Arab (UEA). Setelah kemasukan dua gol di babak pertama, Evan Dimas dkk kebobolan tiga gol di babak kedua (Ali Bakhout 22', 49' [P], Fabio Virginio de Lima 28', 55', Sebastian Tagliabue 86').

"Karena kita lama tidak ada kompetisi, walaupun di gembleng fisik di TC tapi hasilnya lain lah. Apalagi waktu lawan Vietnam yang tampil lebih cepat dan lebih bugar dan lawan UEA pemainnya lebih teruji. Jadi di atas 60 menit kondisi fisik pemain kita semakin menurun. Artinya level kebugaran yang diharapkan pelatih ini belum tercapai sesuai yang diinginkan."

"Ini masalah dasar belum bisa dibenahi. Tapi tidak bisa disalahkan juga pemain maupun pelatih karena anak-anak ini sudah setahun lebih tidak merasakan kompetisi. Jangankan yang junior, yang senior juga belum kompetisi. Jadi buat saya, kompetisi harga mutlak sudah tidak bisa ditawar. TC tidak mencerminkan banyak hal tapi dari kompetisi dilihat yang sebenarnya," tegas Kusnaeni.

Sumber : cnnindonesia.com

0 comments: